PONTIANAK POST - Pemerintah mempercepat pengembangan jaringan kereta api di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi sebagai bagian dari strategi memperkuat konektivitas nasional.
Kebijakan yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) itu juga membuka peluang baru bagi industri penunjang perkeretaapian nasional, termasuk PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton/WTON) sebagai produsen bantalan rel beton.
Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan konektivitas antardaerah, menekan biaya logistik, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
"Ini adalah visi besar Bapak Presiden. Kita ingin memastikan Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi tidak tertinggal terlalu jauh. Dengan membangun jaringan kereta api yang terintegrasi, kita bisa menekan biaya logistik secara signifikan dan meningkatkan daya saing ekonomi antarwilayah," ujar AHY April 2026 lalu di Jakarta.
Pembiayaan Kreatif Jadi Kunci Percepatan Proyek
AHY menegaskan pembangunan jaringan kereta api di luar Jawa tidak dapat sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Karena itu, pemerintah mendorong penerapan skema pembiayaan kreatif melalui kolaborasi lintas kementerian, lembaga, serta sektor swasta. Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan infrastruktur transportasi nasional.
Menurut pemerintah, penguatan jaringan rel menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong pemerataan pembangunan dan memperluas akses ekonomi masyarakat di berbagai wilayah.
Baca Juga: Kereta Trans Sumatra Siap Dibangun, Biaya Rp350 Triliun Tak Pakai APBN
Urgensi pembangunan jaringan kereta api juga berkaitan dengan upaya menurunkan biaya logistik nasional. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat ditekan hingga sekitar 8 persen pada 2045 melalui penguatan konektivitas transportasi, integrasi jaringan logistik, dan pembangunan infrastruktur strategis.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konektivitas transportasi memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis menemukan bahwa infrastruktur transportasi berperan penting dalam meningkatkan aksesibilitas antardaerah sehingga aktivitas ekonomi berkembang lebih cepat.
Semakin baik jaringan transportasi yang tersedia, semakin besar peluang pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan di suatu wilayah.
Jurnal Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi Review juga menyimpulkan bahwa sistem transportasi yang efisien mampu mempercepat distribusi barang, menurunkan biaya logistik, meningkatkan mobilitas tenaga kerja, serta memperkuat daya saing ekonomi daerah.
Trans-Borneo Railway Perkuat Posisi Strategis Kalimantan
Prospek pengembangan jaringan kereta api di Kalimantan semakin menguat dengan munculnya rencana proyek Trans-Borneo Railway (TBR) yang digagas perusahaan infrastruktur asal Brunei Darussalam, Brunergy Utama Sdn Bhd.
Proyek tersebut dirancang menghubungkan wilayah Kalimantan di Indonesia dengan Sarawak, Sabah, dan Brunei melalui jaringan rel sepanjang sekitar 1.620 kilometer.
Pada tahap awal, jalur direncanakan menghubungkan Pontianak hingga Kota Kinabalu dengan melewati sejumlah kota utama di Kalimantan Barat dan Malaysia Timur. Tahap berikutnya akan menjangkau Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, termasuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Samarinda, dan Balikpapan.
Model pengembangan proyek mengusung konsep Design, Build, Own and Operate (DBOO), yang memungkinkan pendanaan dan pengelolaan dilakukan oleh konsorsium swasta.
Skema tersebut dinilai sejalan dengan pendekatan pembiayaan inovatif yang tengah didorong pemerintah dalam pembangunan infrastruktur berskala besar.
Dampak Langsung bagi Masyarakat dan Daerah
Bagi masyarakat di wilayah luar Jawa, peningkatan konektivitas rel berpotensi mempercepat mobilitas barang dan jasa. Kehadiran jaringan kereta api juga dapat mendukung pertumbuhan kawasan industri, pelabuhan, dan pusat distribusi.
Dalam jangka panjang, integrasi jaringan transportasi tersebut diharapkan mampu menciptakan peluang ekonomi baru, memperluas akses perdagangan, serta meningkatkan daya saing daerah.
WIKA Beton Siap Dukung Kebutuhan Infrastruktur Perkeretaapian
Di tengah prospek pengembangan jaringan rel tersebut, WIKA Beton menyatakan menyambut positif langkah pemerintah dalam mempercepat pembangunan konektivitas nasional melalui moda transportasi kereta api.
Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Beton Tbk, Ignatius Harry Sumartono, mengatakan perseroan mendukung penuh upaya pemerintah memperkuat jaringan perkeretaapian nasional.
“Kami menyambut positif inisiatif pemerintah untuk mempercepat pembangunan jaringan kereta api nasional. Penguatan konektivitas antardaerah akan memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan,” kata Harry dalam keterangan tertulis, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurutnya, WIKA Beton memiliki pengalaman panjang dalam mendukung pembangunan infrastruktur perkeretaapian nasional, termasuk penyediaan bantalan rel beton untuk berbagai proyek strategis.
Perseroan tercatat terlibat dalam pembangunan MRT Jakarta, LRT Jakarta, jalur layang kereta api Medan–Bandara Kualanamu, hingga penyediaan bantalan rel untuk proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung.
Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, WIKA Beton juga pernah menembus pasar ekspor melalui pengiriman bantalan rel dari fasilitas produksi Majalengka ke Filipina untuk mendukung pengembangan jaringan kereta api di Manila.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting apabila pemerintah mulai memasuki tahap implementasi percepatan jaringan kereta api di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Baca Juga: Belajar dari Sumatera: Kereta Api Terbukti Dongkrak Ekonomi Daerah, Bisakah Kalbar Menyusul?
Peluang Penguatan TKDN dan Efisiensi Proyek
Ketersediaan industri lokal yang mampu memasok komponen utama perkeretaapian dinilai penting untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sekaligus menjaga efisiensi biaya pembangunan.
Dengan dukungan industri nasional, proyek-proyek strategis dapat mengurangi ketergantungan pada produk impor serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian domestik.
Prospek Jangka Panjang bagi Ekonomi Nasional
Percepatan pembangunan jaringan kereta api di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi berpotensi menjadi salah satu proyek infrastruktur strategis yang memberi dampak luas bagi perekonomian Indonesia.
Selain memperkuat konektivitas antarwilayah, proyek tersebut diharapkan mampu menekan biaya logistik yang selama ini masih relatif tinggi dan meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Apabila jaringan kereta api Trans Kalimantan nantinya terhubung dengan Trans-Borneo Railway, Indonesia juga berpeluang memperkuat posisinya dalam koridor ekonomi regional Pulau Borneo serta membuka akses perdagangan yang lebih luas dengan Malaysia Timur dan Brunei Darussalam.
Melalui sinergi pembiayaan inovatif, kolaborasi lintas sektor, dan kesiapan industri nasional, pengembangan jaringan rel di luar Jawa tidak hanya menjadi proyek infrastruktur, tetapi juga harapan baru bagi pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.(*)
Editor : Uray Ronald