Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Proyek Kereta Api Kalimantan Masih Dikaji, Mengapa Harga Tanah Bisa Naik Lebih Dulu?

Khoiril Arif Ya'qob • Selasa, 9 Juni 2026 | 11:11 WIB
Ilustrasi peta jalur kereta api trans-kalimantan yang akan menjadi urat nadi konektivitas di pulau tersebut. (GEMINI AI)
Ilustrasi peta jalur kereta api trans-kalimantan yang akan menjadi urat nadi konektivitas di pulau tersebut. (GEMINI AI)

PONTIANAK POST – Wacana rancang bangun jaringan kereta api Trans Kalimantan sepanjang sekitar 2.772 kilometer kembali menjadi bagian dari pembahasan infrastruktur nasional.

Pemerintah menyatakan proyek ini masih berada pada tahap perencanaan dan kajian lintas sektor, sebelum masuk putusan teknis maupun konstruksi.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebelumnya menyampaikan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap pengkajian mendalam sebelum ditetapkan lebih lanjut dalam skema pembangunan nasional.

Baca Juga: Proyek Kereta Api Trans-Kalimantan 2.772 Km Bakal Jadi Tulang Punggung Konektivitas IKN

Walau belum masuk tahap pembangunan fisik, dalam banyak pengalaman proyek infrastruktur di Indonesia, ada satu fenomena yang kerap muncul lebih awal yaitu perubahan harga tanah di wilayah yang masuk dalam rencana jalur proyek.

Harga Tanah Bergerak Karena Ekspektasi

Dalam kajian perencanaan wilayah dan ekonomi lahan, harga tanah tidak hanya ditentukan oleh kondisi sekarang, tetapi juga oleh ekspektasi terhadap masa depan.

Ketika sebuah wilayah disebut berpotensi menjadi lokasi infrastruktur baru, pasar tanah biasanya merespons lebih cepat dibanding realisasi pembangunan itu sendiri.

Dalam Jurnal Rencana dan Rekayasa Wilayah, Universitas Islam Bandung (2025) proyek Jalan Tol Soroja (Soreang-Pasir Koja) di Jawa Barat, menunjukkan bahwa nilai tanah di sekitar proyek mengalami peningkatan seiring kepastian pembangunan dan perkembangan konstruksi.

Baca Juga: Teras Narang: Proyek Kereta Api Kalteng Tinggal Dilanjutkan

Dalam studi tersebut dijelaskan bahwa perubahan aksesibilitas menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga lahan di kawasan terdampak.

Temuan ini memperkuat pola bahwa ekspektasi pembangunan infrastruktur dapat memengaruhi nilai tanah bahkan sebelum proyek selesai dibangun.

Pola yang Berulang di Banyak Proyek Infrastruktur

Lebih lanjut, fenomena serupa juga ditemukan dalam berbagai studi perencanaan wilayah di Indonesia.

Wilayah yang masuk dalam rencana pembangunan infrastruktur cenderung mengalami perubahan aktivitas transaksi tanah pada fase awal.

Dalam banyak kasus, perubahan nilai lahan dipicu oleh:

1.  kedekatan dengan rencana infrastruktur,

2. peningkatan aksesibilitas yang diproyeksikan,

3. dan kepastian arah pembangunan wilayah.

Studi itu menunjukkan bahwa pasar tanah sangat sensitif terhadap informasi pembangunan, bahkan sebelum proyek memasuki tahap konstruksi.

Kalimantan dalam Fase Awal Ekspektasi

Rencana kereta api Kalimantan saat ini masih berada pada tahap perencanaan dan pengkajian. Pemerintah menegaskan bahwa proyek ini belum memiliki trase final maupun jadwal pelaksanaan konstruksi.

Dalam pemberitaan sebelumnya, proyek ini disebut masih dalam tahap penyusunan konsep besar jaringan transportasi nasional di Kalimantan.

Namun, dalam literatur ekonomi pembangunan, fase seperti ini sering disebut sebagai fase ekspektasi awal, yaitu ketika pasar mulai membaca arah pembangunan meskipun proyek belum berjalan.

Spekulasi Lahan dalam Proyek Infrastruktur

Dalam berbagai studi pembangunan infrastruktur di Indonesia, perubahan harga tanah sebelum proyek berjalan sering dikaitkan dengan fenomena spekulasi lahan (land speculation).

Spekulasi terjadi ketika lahan dibeli bukan untuk digunakan langsung, tetapi untuk memperoleh keuntungan dari kenaikan harga di masa depan.

Dalam banyak kasus, informasi mengenai rencana pembangunan menjadi faktor utama yang memicu aktivitas ini.

Pasar tanah bekerja berdasarkan ekspektasi, bukan hanya kondisi fisik. Karena itu, ketika suatu proyek diumumkan, respons ekonomi sering terjadi lebih cepat dibanding proses pembangunan itu sendiri.

Walhasil, rencana kereta api Kalimantan masih berada pada tahap awal dan belum memasuki fase konstruksi. Dengan adanya pengalaman pembangunan infrastruktur di Indonesia, itu menunjukkan satu pola yang istiqamah: pasar tanah sering bergerak lebih cepat daripada proyek itu sendiri. (*)

Editor : Miftahul Khair
#konektivitas Kalimantan #kereta api kalimantan #Proyek Strategis Nasional #harga tanah