Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pemerintah Gelontorkan Rp678 Miliar untuk Jagung Pakan, Ribuan Peternak Telur Disiapkan Hadapi Tekanan Biaya Produksi

Basilius Andreas Gas • Kamis, 11 Juni 2026 | 07:54 WIB
Arsip foto - Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kanan) didampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono (kiri). (ANTARA/Harianto)
Arsip foto - Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kanan) didampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono (kiri). (ANTARA/Harianto)

PONTIANAK POST- Pemerintah mempercepat penyaluran jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan dukungan anggaran Rp678 miliar guna menjaga keberlanjutan usaha peternak unggas di tengah tekanan biaya produksi yang masih tinggi.

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pemerintah berkomitmen melindungi peternak, khususnya peternak ayam petelur, melalui penyediaan jagung pakan bersubsidi yang disalurkan oleh Perum Bulog.

"Kami juga sudah memberikan SPHP (jagung). Itu (stok) jagung dari Bulog. Pokoknya jiwa ragaku untuk peternak petelur Indonesia," kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, peternak ayam petelur nasional telah menunjukkan kinerja yang membanggakan karena mampu memenuhi kebutuhan konsumsi telur dalam negeri. Bahkan, produksi yang melimpah membuat Indonesia berada dalam posisi surplus dan mampu mengekspor telur ke sejumlah negara mitra.

Karena itu, pemerintah menaruh perhatian besar terhadap keberlangsungan usaha para peternak telur agar tetap produktif dan mampu menjaga pasokan pangan nasional.

"Aku apresiasi. Aku bangga dengan peternak petelur seluruh Indonesia mampu memenuhi kebutuhan anak bangsa. (Mencatat) surplus bahkan ekspor ke negara lain," ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, program SPHP jagung pakan telah berjalan sejak 9 Mei 2026 dengan memanfaatkan Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) yang seluruhnya berasal dari hasil produksi petani dalam negeri.

Hingga 8 Juni 2026 atau tepat satu bulan pelaksanaan, realisasi penyaluran SPHP jagung pakan telah mencapai 34,1 ribu ton atau sekitar 16,01 persen dari target distribusi sebanyak 213,2 ribu ton.

Pemerintah juga masih memiliki sisa alokasi sekitar 28,8 ribu ton yang belum ditetapkan kepada penerima manfaat. Saat ini, proses penambahan peternak penerima bantuan tengah dilakukan bersama Kementerian Pertanian.

Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan alokasi penyaluran sebanyak 242 ribu ton jagung pakan sepanjang tahun 2026 dengan dukungan anggaran mencapai Rp678 miliar. Program tersebut ditargetkan berlangsung hingga akhir tahun.

Lebih dari 5.000 peternak skala mikro, kecil, dan menengah yang tersebar di 26 provinsi menjadi sasaran program ini. Total populasi unggas yang mendapatkan manfaat diperkirakan mencapai 53 juta ekor.

Dalam pelaksanaannya, Badan Pangan Nasional menetapkan harga jagung pakan sebesar Rp5.000 per kilogram untuk pengambilan di gudang Bulog dan maksimal Rp5.500 per kilogram di tingkat peternak.

Penyaluran dilakukan melalui koperasi maupun asosiasi peternak kepada anggota yang telah tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian.

Sementara itu, Ketua Umum Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, menyampaikan apresiasi atas berbagai langkah pemerintah yang dinilai membantu menjaga keberlangsungan usaha peternak telur.

Ia juga menyambut positif rencana peningkatan penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh Badan Gizi Nasional.

"Kami terima kasih juga atas inisiatif dari Bapak Menteri (untuk) BGN juga akan menyerap telur dari peternak seminggu menjadi tiga kali, yang kemarin baru satu kali," katanya.

"Ini sangat membantu kepada kami untuk kelangsungan hidup peternak," tambahnya.

Meski demikian, Yudianto mengakui harga telur di tingkat peternak masih belum berada pada level yang menguntungkan. Kondisi tersebut semakin berat karena dipengaruhi dinamika geopolitik global dan penguatan nilai tukar dolar yang berdampak pada kenaikan harga pakan.

"(Kondisi hari) ini sangat memberatkan dan memukul kami. Apalagi dengan isu geopolitik yang saat ini terjadi, dimana nilai tukar dolar juga melambung tinggi, sehingga menyebabkan harga pakan pun melonjak tinggi," ujarnya.

Menanggapi aspirasi tersebut, pemerintah memastikan akan terus berupaya menjaga stabilitas harga sekaligus mengoptimalkan program SPHP jagung pakan agar dapat membantu peternak unggas menghadapi fluktuasi biaya produksi. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#Biaya Produksi #jagung pakan #SPHP #peternak #pemerintah