PONTIANAK POST - Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terus mematangkan rencana pembangunan infrastruktur perkeretaapian senilai Rp6,98 triliun.
Proyek strategis ini diwacanakan menjadi tulang punggung transportasi logistik guna mendukung pengembangan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIPI) Mangkupadi sekaligus memperkuat posisi Kaltara sebagai pusat logistik masa depan Indonesia.
Posisi Strategis Kaltara Jadi Modal Besar
Kalimantan Utara (Kaltara) bersiap melakukan lompatan besar dalam pembangunan ekonomi melalui proyek strategis pembangunan infrastruktur kereta api kalimantan.
Pemerintah daerah menilai moda transportasi ini akan menjadi penopang utama aktivitas industri dan distribusi barang di masa depan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Gubernur Kaltara Dr. H. Zainal A Paliwang, SH., M.Hum dengan salah satu calon investor di Jakarta pada 21 April 2026.
Dalam kesempatan itu, pemerintah provinsi menegaskan visi menjadikan Kaltara sebagai pusat logistik masa depan Indonesia dengan fondasi ekonomi yang kokoh sebagai beranda depan NKRI yang maju, makmur, dan berkelanjutan.
Kaltara dinilai memiliki modal besar untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Selain berada di posisi strategis pada Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yang menjadi jalur perdagangan internasional.
Provinsi termuda di Indonesia itu juga tengah mengembangkan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIPI) Mangkupadi yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional.
Kereta Api Jadi Solusi Transportasi Industri
Keberadaan kawasan industri tersebut mendorong kebutuhan sistem transportasi yang mampu mengangkut barang dalam jumlah banyak secara efisien dan ramah lingkungan. Pemerintah daerah pun memandang kereta api sebagai solusi yang paling tepat.
“Gubernur Zainal A Paliwang menegaskan bahwa kereta api merupakan solusi transportasi paling efisien untuk mobilisasi hasil industri dan masyarakat. Dengan kapasitas angkut yang masif, moda ini akan mendukung rantai pasok pelabuhan serta menekan biaya logistik secara signifikan guna meningkatkan daya saing ekonomi daerah,” demikian keterangan dikutip dari Instagram Pemprov Kaltara (21/4).
Dokumen Perencanaan Sudah Lengkap
Pemprov Kaltara menyatakan proyek perkeretaapian tersebut telah melalui tahapan perencanaan yang cukup panjang dan komprehensif.
Sejumlah dokumen penting telah disiapkan, mulai dari Studi Rencana Induk yang selesai pada 2015, Studi Kelayakan (Feasibility Study/FS) untuk trase Tanjung Selor-Mangkupadi pada 2016, hingga Detail Engineering Design (DED) untuk trase Tanjung Selor-Binai pada 2017.
Dengan kesiapan dokumen tersebut, proyek kini disebut siap memasuki proses due diligence bersama calon investor.
Baca Juga: Kereta Api Rp25 Triliun di Kaltara: Bisakah Membuka Lapangan Kerja bagi Warga Lokal?
Prospek Ekonomi Dinilai Menjanjikan
Dari sisi ekonomi, proyek kereta api ini juga dinilai memiliki prospek yang menjanjikan. Analisis kelayakan menunjukkan Economic Net Present Value (NPV) proyek mencapai Rp1.575,89 miliar dengan Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,24.
Sementara itu, total kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (CAPEX) awal diperkirakan mencapai Rp6,98 triliun dengan masa pengembalian investasi (payback period) sekitar 24 tahun.
Melalui pembangunan infrastruktur perkeretaapian ini, Kaltara berharap mampu memperkuat konektivitas kawasan industri, pelabuhan, dan pusat-pusat ekonomi sehingga visi menjadi pusat logistik masa depan Indonesia dapat terwujud. (*)
Editor : Miftahul Khair