PONTIANAK POST- Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengarahkan program literasi digital ke tahap yang lebih maju dengan menitikberatkan pada peningkatan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial (AI), serta menghadapi ancaman disinformasi di ruang digital.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan pendekatan lama yang berfokus pada pengenalan internet dan penggunaan perangkat digital tidak lagi menjadi prioritas utama karena masyarakat dinilai telah cukup familiar dengan teknologi tersebut.
“Program literasi digital sekarang lebih ke upskilling, meningkatkan kecakapan yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan sekarang,” kata Nezar saat menerima audiensi Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADIPIKI) di Jakarta, Kamis.
Menurut Nezar, edukasi dasar seperti penggunaan gawai, menghubungkan perangkat ke internet, maupun aktivitas berselancar di dunia maya tidak lagi memerlukan kampanye besar-besaran sebagaimana dilakukan pada masa awal transformasi digital.
Ia menjelaskan, aspek keamanan dan etika digital saat ini juga semakin banyak ditangani oleh platform digital. Perusahaan penyedia layanan tidak lagi hanya berfungsi sebagai penghubung pengguna, tetapi turut memikul tanggung jawab dalam menjaga keamanan dan tata kelola layanannya.
Karena itu, pemerintah memandang perlu adanya model literasi digital baru yang lebih sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat di tengah pesatnya pemanfaatan AI.
“Kalau sekarang kayaknya sudah lewat masa itu. Walaupun masih dibutuhkan, tetapi sudah dikerjakan ataupun diadopsi oleh platform-platform lewat community guidelines dan lain-lain,” kata Nezar.
Perubahan strategi tersebut, lanjutnya, sejalan dengan hasil evaluasi dan rekomendasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) terhadap pelaksanaan program literasi digital yang telah berlangsung hampir 10 tahun.
“Kita melakukan program-program literasi digital sudah cukup lama, hampir satu dekade dan evaluasi yang dilakukan oleh Bappenas terhadap program ini juga sudah final. Kita tidak melanjutkan lagi literasi digital seperti yang dulu,” ujar Wamenkomdigi.
Selain memperkuat kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital secara produktif, program literasi digital terbaru juga dirancang untuk meningkatkan daya tahan publik terhadap penyebaran disinformasi, misinformasi, maupun hoaks yang kian marak di berbagai platform digital.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan perkembangan digital secara kritis, aman, dan produktif di era kecerdasan artifisial. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas