Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

AHY: Indonesia Mulai Terapkan Sustainable Aviation Fuel pada 2027, Langkah Awal Penerbangan Rendah Emisi

Uray Ronald • Kamis, 25 Juni 2026 | 23:22 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono.(Antara)
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono.(Antara)

 

PONTIANAK POST – Pemerintah menargetkan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan mulai diterapkan pada 2027 sebagai bagian dari transformasi sektor transportasi udara yang lebih ramah lingkungan.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan SAF akan menjadi alternatif avtur konvensional untuk mendukung upaya pengurangan emisi karbon di sektor penerbangan.

"Jadi ini tahun 2027 semangatnya adalah kita menggunakan Sustainable Aviation Fuel (SAF), artinya ini sebagai alternatif dari avtur konvensional dan ini jauh lebih bersih," kata AHY saat membuka Rapat Koordinasi Tingkat Menteri terkait Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan di Jakarta, Kamis (25/6).

Menurut AHY, transformasi tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga: Pemerintah Percepat Pembangunan 30 PSEL, Sampah Ditargetkan Jadi Sumber Energi dan Kurangi Emisi

Penerapan Awal di Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai

Pemerintah menargetkan implementasi awal SAF pada satu persen penerbangan internasional yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten dan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Kebijakan tersebut diharapkan menjadi tahap awal sebelum penggunaan SAF diperluas secara bertahap ke lebih banyak rute internasional maupun domestik.

AHY menilai langkah tersebut penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi sekaligus menjawab tuntutan global terhadap industri penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Dekarbonisasi Jadi Fokus Pengembangan Sektor Penerbangan

AHY mengatakan sektor transportasi udara tidak dapat dipisahkan dari tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.

Karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai langkah dekarbonisasi melalui pengurangan konsumsi energi, konversi sumber energi yang lebih bersih, serta peningkatan efisiensi pemanfaatan sumber daya.

Menurut dia, pengembangan ekosistem kebandarudaraan ke depan harus berjalan seiring dengan agenda penurunan emisi nasional.

Upaya tersebut juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam membangun infrastruktur transportasi yang berkelanjutan.

Bandara Emisi Nol Bersih Mulai Disiapkan

Selain penggunaan SAF, pemerintah juga mendorong penerapan konsep bandara net zero emission atau emisi nol bersih.

AHY menyebut sejumlah negara telah lebih dahulu menerapkan konsep tersebut melalui penggunaan energi terbarukan, kendaraan listrik operasional bandara, serta sistem pengelolaan energi yang lebih efisien.

Pengalaman tersebut dapat menjadi referensi dalam pengembangan bandara berkelanjutan di Indonesia.

Sebagai referensi global, sejumlah bandara seperti Amsterdam Schiphol, Oslo Gardermoen, dan Dallas Fort Worth International Airport telah memperoleh sertifikasi tingkat lanjut dalam program Airport Carbon Accreditation.

Pengakuan tersebut diberikan kepada bandara yang berhasil menekan emisi karbon melalui pemanfaatan energi terbarukan, efisiensi energi, serta penerapan strategi menuju target net zero emission.

Baca Juga: Dinas LHK Kalbar Perkuat Program Iklim untuk Capai Target Penurunan Emisi GRK

Industri SAF Didorong Tumbuh dari Hulu hingga Hilir

Pemerintah berharap pengembangan SAF tidak hanya dilakukan pada sisi pengguna, tetapi juga mampu membangun rantai industri dari hulu hingga hilir di dalam negeri.

AHY menegaskan pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan harus memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan yang ditetapkan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO).

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga berpeluang menjadi produsen SAF yang kompetitif di kawasan.

Menjawab Tantangan Emisi Sektor Aviasi

Sektor penerbangan merupakan salah satu penyumbang emisi karbon yang terus meningkat seiring pertumbuhan mobilitas global.

Menurut data International Air Transport Association (IATA), penggunaan SAF menjadi salah satu instrumen utama yang diproyeksikan mampu menyumbang sekitar 65 persen kebutuhan pengurangan emisi industri penerbangan menuju target net zero emission pada 2050.

Karena itu, penerapan SAF pada 2027 dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing industri penerbangan Indonesia sekaligus mendukung komitmen pengurangan emisi nasional.*

Editor : Uray Ronald
#Sustainable Aviation Fuel #SAF Indonesia 2027 #penerbangan rendah emisi #Bandara Soekarno-Hatta #ahy