Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Pencemaran Laut Tarumajaya Diduga Hancurkan Ekonomi Nelayan, Hasil Tangkapan Kerang Anjlok dan Warga Kehilangan Mata Pencaharian

Basilius Andreas Gas • Minggu, 28 Juni 2026 | 13:14 WIB
Kondisi pangkalan kerang mulai sepi dari perahu-perahu nelayan di Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Sabtu. (ANTARA/Pradita Kurniawan Syah).
Kondisi pangkalan kerang mulai sepi dari perahu-perahu nelayan di Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Sabtu. (ANTARA/Pradita Kurniawan Syah).

PONTIANAK POST- Dugaan pencemaran laut di perairan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mulai berdampak serius terhadap kehidupan nelayan pesisir setelah perubahan warna air menjadi lebih gelap dan munculnya bau tidak sedap diduga menyebabkan rusaknya ekosistem laut serta menurunnya populasi kerang yang menjadi sumber penghasilan utama warga.

Nelayan setempat Samsur (58) mengatakan kondisi perairan Tarumajaya saat ini menjadi yang terburuk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut perubahan kondisi laut membuat hasil tangkapan terus menurun, namun dirinya tetap bertahan karena mencari kerang merupakan satu-satunya mata pencaharian.

"Kondisi perairan sejak bibir pantai saat ini berada pada titik terburuk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Masih bertahan karena mencari kerang merupakan satu-satunya mata pencaharian saya," kata Samsur.

Menurut dia, sejak Mei 2026 kondisi laut Tarumajaya tidak lagi mendukung aktivitas nelayan. Zat polutan yang diduga masuk ke perairan membuat jumlah kerang semakin berkurang, sementara ikan-ikan berpindah ke wilayah laut yang lebih jauh dan sulit dijangkau perahu tradisional nelayan.

Penurunan hasil tangkapan tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan nelayan. Samsur menyebut penghasilan nelayan kini merosot hingga sekitar 70 persen, bahkan sebagian besar nelayan sudah tidak lagi mengandalkan pencarian kerang.

Padahal, pada Februari hingga Maret 2026, hasil tangkapan masih tergolong tinggi. Dalam sehari, nelayan dapat membawa pulang sekitar 30 ember kerang, bahkan saat musim terbaik jumlahnya bisa mencapai 40 hingga 50 ember.

Kini, mendapatkan enam ember kerang dalam sehari sudah menjadi tantangan besar. Satu ember berisi sekitar lima hingga enam kilogram kerang sebelum dibersihkan, sementara pertumbuhan kerang dinilai tidak lagi seperti sebelumnya.

"Sekarang paling dapat enam ember. Sudah maksimal banget 12 ember. Padahal kerang satu ember cuma Rp20 ribu sampai Rp22 ribu," katanya.

Dari sekitar 60 nelayan pemburu kerang di kawasan tersebut, kini hanya belasan orang yang masih bertahan. Mereka tetap melaut bukan karena hasil tangkapan menjanjikan, melainkan karena keterbatasan pilihan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Demi bertahan hidup, teman-teman saya terpaksa beralih profesi menjadi buruh kasar bahkan pemulung. Ada yang jadi kuli panggul. Saya sempat dua minggu menganggur, mencari kerja serabutan," ucapnya.

Nelayan lainnya, Sarman (52), mengatakan persoalan utama yang dihadapi nelayan bukan hanya kenaikan harga bahan bakar minyak maupun kebutuhan pokok, melainkan hilangnya sumber daya laut yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga.

Ia menyebut nelayan menduga pencemaran berkaitan dengan aktivitas industri di sekitar pesisir. Namun, nelayan tidak ingin menunjuk perusahaan tertentu karena kawasan Tarumajaya dikelilingi banyak industri sehingga diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan sumber pencemar.

Sarman bersama nelayan lainnya berharap pemerintah segera mengambil langkah serius menangani kondisi perairan Tarumajaya. Mereka juga meminta perusahaan di sekitar kawasan pesisir bertanggung jawab dan tidak membuang limbah industri ke laut.

"Mohon Pemerintah Kabupaten Bekasi, Pak Gubernur Jawa Barat, tengoklah nasib kami. Pak Presiden juga katanya memperhatikan nasib petani serta nelayan karena dianggap tulang punggung ekonomi," kata dia. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#pencemaran laut #Tarumajaya #Ekonomi #kerang #nelayan