PONTIANAK POST - Di tengah statusnya sebagai penyumbang besar devisa negara lewat sawit dan tambang, Kalimantan justru tertinggal jauh dalam urusan infrastruktur transportasi.
Cerita ini terungkap dalam obrolan di kanal YouTube Risyad and Son bersama Jajago Keliling Indonesia (30/6), yang membahas pengalaman menjelajah pelosok Nusantara, termasuk kampung halaman mereka sendiri yaitu Kalimantan Barat.
Baru Sadar Setelah Membandingkan dengan Negara Tetangga
Kesadaran akan ketimpangan ini justru muncul setelah salah satu narasumber melakukan perjalanan darat lintas negara, dari Malaysia menembus Thailand hingga ke perbatasan Myanmar.
Baca Juga: Terminal Kijing Jadi Motor Baru Ekonomi Kalbar, Pemprov Dorong Investasi dan Infrastruktur Pendukung
Ia mengaku kaget mendapati kawasan selatan Thailand yang secara geografis dan sosial mirip dengan Kalimantan, tapi tetap terhubung jalur kereta api hingga ke Bangkok.
“Kami cobalah jalur darat dari ujung Malaysia selatan naik mobil sampai Malaysia Utara, perbatasan Thailand. Di Thailand kami naik kereta publik, dari paling selatan sampai tembus ke Bangkok,” ungkapnya dalam obrolan tersebut.
Ironisnya, kawasan selatan Thailand yang ia lewati justru mengingatkannya pada Kalimantan.
“Kayak Indonesia, kayak Kalimantan. Sawahnya banyak, rumahnya juga kayu-kayu, sungainya cokelat. Tapi ada kereta api, dari sana tembak langsung sampai ke Bangkok,” jelasnya.
Selama bertahun-tahun, ketiadaan kereta api di Kalimantan dianggap wajar oleh warga setempat karena minim pembanding.
“Kami enggak pernah komplain, karena kami selama ini tahunya ya memang wajar, enggak ada kereta api. Kereta api ada di Jawa,” katanya.
Satu-satunya Ruas Tol di Seluruh Kalimantan
Dari empat provinsi yang membentang di pulau ini, hanya ada satu ruas jalan tol yang beroperasi.
“Satu-satunya tol yang ada di Kalimantan adalah Kalimantan Timur. Itu dari Balikpapan ke Samarinda, itu ada tol. Sisanya tidak ada tol,” ujarnya.
Di luar ruas itu, warga masih mengandalkan Jalan Trans Kalimantan yang sempit, hanya dua lajur berlawanan arah tanpa pemisah jalur cepat.
“Kayak tol Jakarta ini, sebiji itu Trans Kalimantan, kau bagi dua mobil gini. Jadi kalau kau mau lewatin truk, kau harus ngantri di belakang truk, tunggu sela pantas,” ungkapnya, menggambarkan risiko yang dihadapi pengendara setiap kali harus menyalip kendaraan besar pengangkut hasil bumi.
Anggaran Tambang yang Mengalir Lewat Pusat
Salah satu akar masalah yang disorot adalah mekanisme distribusi anggaran dari sektor pertambangan.
“Keuntungan dari sebuah daerah tambang itu akan disetorkan dulu kepada pusat. Dari pusat nanti ada meeting, baru kita bagi kepada daerah tersebut,” jelas narasumber, menirukan penjelasan yang pernah ia dapat dari pejabat daerah setempat.
Proses inilah yang dinilai menjadi salah satu penyebab lambatnya pembangunan infrastruktur di daerah-daerah kaya sumber daya, termasuk Kalimantan, meski daerah tersebut menyumbang besar bagi perekonomian nasional.
Baca Juga: Bupati Ketapang Dorong Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Pelayanan Publik Daerah
Ketimpangan yang Baru Terasa Setelah Dibandingkan
Fenomena ketimpangan yang tidak terasa karena tidak ada pembanding menjadi benang merah dari keseluruhan obrolan ini.
Salah satu narasumber menyimpulkannya lewat sebuah istilah yang cukup menohok.
“You take it for granted. Lu kelamaan di sini, lu berasa biasa aja,” ungkapnya.
Selama warga tidak melihat langsung kondisi di wilayah lain, ketimpangan infrastruktur cenderung dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.
Namun begitu dibandingkan, baik dengan Jawa maupun negara tetangga, jurang pembangunan antara wilayah kaya sumber daya seperti Kalimantan dengan daerah lain di Indonesia menjadi jauh lebih nyata. (*)
Editor : Miftahul Khair