PONTIANAK POST- PT Freeport Indonesia (PTFI) menyelesaikan rehabilitasi mangrove seluas 484 hektare di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai bagian dari komitmen perusahaan mendukung program restorasi mangrove nasional, penguatan ekonomi hijau, dan upaya mitigasi perubahan iklim.
Program tersebut menjadi capaian rehabilitasi mangrove terbesar yang dilakukan PTFI di luar wilayah operasional Papua sekaligus merupakan tindak lanjut Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang ditandatangani bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2023.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan perusahaan tidak hanya berfokus pada kegiatan produksi, tetapi juga menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari operasional perusahaan.
"Penanaman manggrove adalah suatu hal yang menjadi komitmen kami. Dalam operasionalnya kami tentu saja tidak semata-mata hanya produksi yang dipikirkan, tapi lebih juga kepada lingkungan," kata Tony Wenas saat ditemui di sela kegiatan penanaman mangrove di Labuan Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB, Selasa.
Melalui kerja sama tersebut, PTFI menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 2.000 hektare di luar wilayah operasional perusahaan sebagai bentuk dukungan terhadap program restorasi mangrove nasional.
"NTB punya potensi yang besar dan memang ekosistemnya menunjang untuk hal itu (penanaman mangrove)," kata Tony.
Pelaksanaan rehabilitasi di NTB dilakukan secara bertahap, yakni mencakup lahan seluas 193 hektare pada 2025 di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa. Program kemudian diperluas pada 2026 dengan rehabilitasi tambahan seluas 291 hektare di Kabupaten Sumbawa sehingga total kawasan yang dipulihkan mencapai sekitar 484 hektare.
Keberhasilan program tersebut turut menjadikan NTB sebagai salah satu dari lima provinsi yang telah memiliki dokumen Rancangan Teknis (RANTEK) rehabilitasi mangrove. Penetapan lokasi rehabilitasi dilakukan berdasarkan usulan Kementerian Lingkungan Hidup yang kemudian diverifikasi oleh Universitas Gadjah Mada.
Hingga 2026, Freeport Indonesia telah menanam sekitar 1,5 juta bibit mangrove yang didominasi jenis Rhizophora sp atau bakau. Jenis mangrove tersebut berperan penting dalam melindungi wilayah pesisir dari abrasi, mencegah intrusi air laut, meredam gelombang, serta menjadi habitat berbagai biota seperti ikan dan udang.
Program rehabilitasi itu juga melibatkan sekitar 1.500 masyarakat lokal yang berperan dalam proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan mangrove. Keterlibatan warga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja berbasis konservasi.
Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mengapresiasi kontribusi sektor swasta dalam mendukung pemulihan ekosistem mangrove di Indonesia. Menurutnya, mangrove memiliki kemampuan menyerap emisi karbon sekitar empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan pohon tropis yang tumbuh di daratan sehingga keberadaannya sangat penting dalam menghadapi perubahan iklim.
"Semua pihak, semua organisasi, bisnis ataupun non-bisnis, semuanya juga punya tanggung jawab untuk memperbaiki alam terkhusus yang di pesisir seperti mangrove," demikian Jumhur. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas