PONTIANAK POST - Program pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) mendapat sorotan setelah lima peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti pelatihan dasar program tersebut.
Anggota Ombudsman RI Maneger Nasution meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap metode pelatihan, standar keselamatan, hingga tata kelola penyelenggaraan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai program yang bertujuan membangun kapasitas sumber daya manusia justru kembali memakan korban," kata Maneger.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengungkap kronologi meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang mengikuti pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP). Para peserta meninggal saat mengikuti rangkaian latihan dasar kemiliteran, bela negara, dan pembekalan manajerial di sejumlah satuan pendidikan.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan (BPSDM) Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan mengatakan seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, baik melalui fasilitas kesehatan satuan pendidikan maupun rumah sakit rujukan.
Berdasarkan penjelasan Kemhan, peserta pertama yang meninggal adalah Yonanda Muhammad Taufiq. Ia mengalami penurunan kesadaran pada Rabu (17/6/2026) setelah mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan di daerah latihan Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatera Selatan. Tim kesehatan kemudian melakukan penanganan sebelum korban dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Peserta berikutnya, Anisa Muyassaroh, mengikuti pelatihan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Kemhan menyebut Anisa mengalami gangguan kesehatan dan kemudian mendapatkan penanganan medis sebelum dinyatakan meninggal dunia berdasarkan keterangan medis akibat heat stroke.
Selanjutnya, Novia Rahmadhani Sihotang, peserta SPPI yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta, juga meninggal dunia setelah mengalami gangguan kesehatan saat mengikuti rangkaian pelatihan.
Dua peserta lainnya yang meninggal adalah Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dan Nola Dya Sari. Nola diketahui merupakan peserta asal Singkawang, Kalimantan Barat, yang mengikuti pelatihan di satuan pendidikan bela negara wilayah Kalimantan.
Kemhan menyatakan kelima peserta memiliki kondisi medis yang berbeda-beda. Pemerintah juga menyebut seluruh peserta sebelumnya telah menjalani tahapan pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti program, namun evaluasi tetap dilakukan terhadap seluruh aspek penyelenggaraan pelatihan.
Ombudsman Soroti Tujuan Pelatihan dan Risiko Keselamatan
Maneger menilai pelatihan calon manajer koperasi desa seharusnya berorientasi pada peningkatan kemampuan mengelola koperasi, bukan hanya aktivitas kedisiplinan.
Menurut dia, seorang manajer koperasi membutuhkan kemampuan mengelola organisasi, membaca laporan keuangan, menyusun strategi bisnis, serta membangun jaringan ekonomi desa.
"Penanaman disiplin tentu penting, tetapi orientasi pelatihan semestinya lebih menitikberatkan pada penguatan kapasitas substantif pengelolaan koperasi," ujarnya.
Program SPPI dinilai memiliki tujuan strategis karena dipersiapkan untuk mendukung pengelolaan koperasi desa sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Namun, tujuan tersebut harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap keselamatan peserta.
Investigasi Akan Menilai Dugaan Maladministrasi
Sebagai lembaga pengawas pelayanan publik, Ombudsman RI menyatakan akan mencermati penyelenggaraan program tersebut sesuai kewenangannya.
Jika ditemukan dugaan maladministrasi, Ombudsman dapat melakukan investigasi atas prakarsa sendiri atau own-motion investigation.
Maneger menjelaskan investigasi akan melihat berbagai aspek, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan pelatihan, standar operasional prosedur (SOP) keselamatan, hingga mekanisme penanganan kondisi darurat.
Hal yang akan menjadi perhatian antara lain kesiapan tenaga medis, sistem mitigasi risiko, transparansi evaluasi internal, serta pemenuhan hak peserta selama mengikuti program.
Pelatihan Dasar Kemiliteran Diubah Setelah Evaluasi
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan menghentikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi peserta program SPPI yang dipersiapkan menjadi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan pendekatan pelatihan kini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.
"Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan latsarmil lagi," kata Rico.
Perubahan tersebut dilakukan setelah Menteri Pertahanan melakukan evaluasi terhadap sistem pembelajaran menyusul meninggalnya lima peserta pelatihan. Pemerintah memastikan porsi kegiatan fisik dan materi yang berkaitan dengan latihan kemiliteran akan dikurangi.
Program Pembangunan Desa Tidak Boleh Mengabaikan Faktor Kemanusiaan
Bagi Ombudsman, peristiwa meninggalnya lima peserta menjadi pengingat bahwa setiap program pembangunan harus menempatkan keselamatan manusia sebagai bagian utama.
Calon manajer koperasi desa dipersiapkan untuk membantu memperkuat ekonomi masyarakat. Namun, proses menuju tujuan tersebut harus memastikan peserta mendapatkan perlindungan yang layak.
Evaluasi terhadap pelatihan SPPI kini menjadi ujian bagi pemerintah dalam memastikan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia berjalan dengan standar keselamatan yang memadai.
Duka menyelimuti keluarga Nola Dya Sari, peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) asal Kota Singkawang, Kalimantan Barat, yang meninggal dunia saat mengikuti pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Di rumah duka di Jalan Manggis Gang Rukmajaya, Kelurahan Roban, Kecamatan Singkawang Tengah, keluarga masih berusaha menerima kepergian perempuan yang akrab disapa Olak tersebut. Nola disebut berangkat mengikuti program dengan semangat untuk berkontribusi dalam pembangunan dan penguatan ekonomi desa.
Keluarga menyebut Nola tidak memiliki riwayat penyakit sebelum mengikuti pelatihan. Kepergian mendadak tersebut membuat keluarga terkejut karena sebelumnya Nola masih menjalani aktivitas program seperti biasa.
"Setahu kami, dia tidak pernah punya riwayat penyakit dan juga jarang menceritakan kalau sedang mengalami kesulitan," ujar kakak sepupu almarhumah, Nila Cempaka Sari, Minggu (28/6). **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro