Prabowo dan PM Tailan Targetkan Nilai Perdagangan USD 20 Miliar Lewat Roadmap Kemitraan Strategis 2030

Miftahul Khair • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 09:47 WIB
Presiden RI Prabowo Subianto menyambut kedatangan PM Tailan Anutin Charnvirakul dalam forum Second Leaders
Presiden RI Prabowo Subianto menyambut kedatangan PM Tailan Anutin Charnvirakul dalam forum Second Leaders' Consultation di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8/2026). (BAKOM RI)

PONTIANAK POST — Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Tailan memasuki babak baru. Pemerintah Republik Indonesia bersama Pemerintah Kerajaan Tailan resmi menyepakati penguatan kemitraan strategis dengan mematok target nilai perdagangan bilateral mencapai USD 20 miliar pada tahun 2030 mendatang.

Kesepakatan tersebut ditegaskan oleh Presiden Prabowo Subianto usai menyambut kunjungan kenegaraan Perdana Menteri (PM) Tailan Anutin Charnvirakul dalam forum Second Leaders' Consultation di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8/2026).

"Kerja sama ekonomi tetap menjadi pilar utama hubungan bilateral kita. Kami optimistis target perdagangan sebesar USD 20 miliar pada tahun 2030 dapat dicapai melalui implementasi roadmap kemitraan strategis," kata Prabowo.

Baca Juga: Teras Narang Sambut Tantangan Prabowo Bangun Kereta Api Trans Kalimantan, Sebut Kajian Sudah Tuntas

Momen ini terbilang bersejarah mengingat kunjungan PM Anutin menjadi lawatan perdana Kepala Pemerintah Tailan ke Indonesia dalam rentang 15 tahun terakhir. Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, kedua pemimpin meresmikan Roadmap Kemitraan Strategis Indonesia–Tailan 2026–2030 sebagai pedoman utama penguatan diplomasi kedua negara di berbagai sektor.

Pengesahan peta jalan ini merupakan tindak lanjut konkret dari hasil pembicaraan kedua pemimpin di sela-sela KTT ASEAN 2026 di Cebu, Filipina, pada Mei lalu, sekaligus memantapkan komitmen yang telah dirintis melalui forum Leaders' Consultation sejak 2025.

Guna mengejar target perdagangan tersebut, kedua belah pihak sepakat memperlebar investasi, mempermudah akses pasar, serta mempererat kolaborasi antar-pelaku usaha. Bahkan, kedua negara siap membentuk Joint Trade Commission—sebuah wadah bilateral pertama dalam sejarah diplomasi Indonesia-Tailan yang dirancang khusus untuk memetakan peluang bisnis serta mengurai hambatan perdagangan.

"Kita juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang ketahanan pangan terkait teknologi pertanian, logistik, pengolahan pangan, hingga ketahanan rantai pasok," imbuh Presiden.

Baca Juga: Prabowo Minta Investasi Kereta Api Ditingkatkan, DPR Ingatkan Butuh Anggaran Besar Buat Sektor Keselamatan

Di bidang energi, kedua negara mendorong penyelenggaraan Indonesia–Tailan Energy Forum untuk memperkokoh ketahanan energi dan mempercepat transisi menuju energi bersih. Sinergi antara pemerintah dan sektor swasta juga diarahkan untuk memperkuat ekonomi digital, termasuk optimalisasi pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT) guna memangkas biaya transaksi serta mendongkrak efisiensi investasi.

"Dengan keunggulan masing-masing di sektor industri halal, Indonesia dan Tailan dapat saling mendukung dalam membangun rantai nilai industri halal regional dan global," lanjut Prabowo.

Merespons komitmen tersebut, PM Anutin mengekspresikan optimisme tinggi terhadap masa depan hubungan ekonomi kedua negara. Berbekal potensi pasar raksasa yang dihuni sekitar 350 juta jiwa penduduk, ia meyakini peluang besar ini harus dimaksimalkan lewat kemudahan investasi serta konektivitas dunia usaha.

"Kami sepakat bahwa Tailan dan Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan volume perdagangan dan investasi bilateral," kata PM Anutin. (*)

Editor : Miftahul Khair
hubungan bilateral perdana menteri tailan Anutin Charnvirakul Roadmap Kemitraan Strategis Indonesia–Thailand 2026–2030 Presiden Prabowo