PONTIANAK POST - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan kayu transparan (transparent wood) berbasis bahan hayati sebagai alternatif material silika dari pasir kuarsa yang selama ini digunakan sebagai bahan baku kaca.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN Adik Bahanawan mengatakan penggunaan kayu sebagai material alternatif diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan silika yang tidak dapat diperbarui.
"Melalui inovasi ini, kami memanfaatkan material organik berupa kayu yang ada di negara kita. Dengan pendekatan modifikasi dan rekayasa material, kayu yang selama ini tidak tembus pandang bisa diubah menjadi material transparan sebagai salah satu parameter utama produk kaca," kata Adik dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Menurut Adik, hampir semua jenis kayu berpotensi digunakan untuk menghasilkan kayu transparan. Namun, setiap jenis kayu membutuhkan proses modifikasi dan perlakuan yang berbeda.
Kadar dan tipe lignin menjadi salah satu parameter penting karena dapat menentukan tingkat kemudahan proses modifikasi dan rekayasa material.
"Secara umum, berbagai jenis kayu, baik kayu jenis daun jarum maupun daun lebar dapat digunakan. Namun, setiap jenis kayu memerlukan perlakuan modifikasi dan rekayasa yang berbeda. Kadar dan tipe lignin dari kayu tersebut akan menentukan mudah tidaknya proses modifikasi rekayasa," kata dia.
Dua Tahap Ubah Kayu Jadi Transparan
Adik menjelaskan pembuatan kayu transparan secara umum melalui dua tahapan utama. Tahap pertama adalah delignifikasi, yakni proses meluruhkan sebagian besar lignin yang menjadi salah satu komponen utama kayu dan memiliki sifat menyerap cahaya.
"Lignin merupakan salah satu komponen utama di kayu yang bersifat opak atau tidak tembus cahaya. Jadi, kalau ada cahaya, dia tidak mentransmisikan tapi dia menyerap. Karena itu, dilakukan proses delignifikasi," ujarnya.
Setelah lignin diluruhkan, tahap berikutnya adalah infiltrasi polimer. Pada tahap ini, material polimer dimasukkan untuk menggantikan lignin yang telah dihilangkan.
Polimer tersebut harus mampu mempertahankan struktur kayu sekaligus memiliki kemampuan meneruskan cahaya. Melalui proses tersebut, kayu membentuk struktur dan sifat baru sehingga menjadi biokomposit.
Hasilnya, material kayu yang sebelumnya tidak tembus cahaya dapat berubah menjadi transparan.
Adik mengatakan keunggulan kayu transparan tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahan baku berbasis kayu. Material tersebut juga dikembangkan dengan semangat green lifestyle dan green process karena tidak menggunakan silika dari pasir kuarsa.
"Semangatnya tetap ke green lifestyle dan green process. Kita menggunakan bahan baku yang tidak menggunakan silika, sehingga secara tidak langsung dapat mengantisipasi eksploitasi tambang pasir lebih jauh ke depan," ucap dia.
Dari sisi performa, kayu transparan yang dikembangkan memiliki tingkat transmitansi cahaya yang tinggi atau kemampuan material dalam meneruskan cahaya.
Riset yang dilakukan hingga saat ini telah menghasilkan kayu transparan dengan tingkat transmitansi lebih dari 50 persen.
Pengembangan material juga diarahkan pada prinsip keberlanjutan. BRIN mengupayakan agar material tersebut dapat didaur ulang atau setidaknya terdegradasi secara alami setelah masa penggunaannya berakhir.
"Harapannya, kita bisa mendaur ulang produk ini. Oleh karena itu ke depan, kita kembangkan produk yang lebih biodegradable. Jadi, suatu produk nanti tidak berhenti pada produk akhir, tetapi bisa didaur ulang atau minimal terdegradasi terlebih dahulu. Saat degradasi ke alam, juga lebih ramah lingkungan," tutur Adik Bahanawan. (ant)
Editor : Basilius Andreas GasSumber : Antara