BRIN Dorong Teknologi untuk Hadapi Ancaman Krisis Air

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:48 WIB
Ilustrasi krisis air bersih
Ilustrasi krisis air bersih

 

PONTIANAK POST - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan teknologi air untuk memperkuat ketahanan air Indonesia. Teknologi mulai dari pemetaan sumber air, desalinasi, air siap minum, hingga membran pengolahan air dikenalkan kepada dunia usaha dan industri melalui Forum BRIN Goes to Industry (BGTI) 6.

Forum tersebut mempertemukan periset BRIN dengan pelaku usaha, industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan. Tujuannya mempercepat hasil riset agar tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan air merupakan sumber daya strategis yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar, ketahanan pangan, kesehatan, ekonomi, dan keberlanjutan pembangunan.

Riset Harus Sampai ke Masyarakat

Menurut Arif, ketersediaan sumber daya alam saja tidak cukup untuk membangun ketahanan air. Indonesia membutuhkan penguasaan teknologi agar air dapat dikelola secara efisien dan berkelanjutan.

“Ketahanan air tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya alam. Kita membutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar air dapat dikelola secara lebih efisien, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ujar Arif.

Ia menilai penguasaan teknologi perlu mencakup seluruh rantai pengelolaan air. Mulai dari pemantauan sumber daya, konservasi, pengolahan air baku, penyediaan air bersih dan air minum, pengolahan limbah, hingga pemanfaatan kembali air.

Dari Pemetaan hingga Air Siap Minum

Dalam BGTI 6, BRIN memperkenalkan sejumlah inovasi yang berkaitan dengan pengelolaan air.

Salah satunya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dapat mendukung pengelolaan sumber daya air. BRIN juga mengembangkan teknologi pemetaan dan penelusuran sumber air untuk membantu mengidentifikasi potensi sumber daya air secara lebih tepat.

Di sisi penyediaan air, terdapat teknologi desalinasi dan Air Siap Minum (ARSINUM). BRIN juga mengembangkan teknologi membran untuk pengolahan air bersih.

Tak Boleh Berhenti di Laboratorium

Arif menegaskan keberhasilan riset tidak hanya diukur dari teknologi yang berhasil ditemukan. Teknologi tersebut harus dapat dikembangkan, diuji, distandardisasi, dilindungi kekayaan intelektualnya, dan memiliki model bisnis agar dapat diadopsi.

“Ukuran keberhasilan riset pada akhirnya bukan hanya pada ditemukannya teknologi, tetapi sejauh mana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan dan memberikan dampak,” katanya.

Karena itu, BGTI 6 menjadi ruang untuk mempertemukan kemampuan periset dengan kebutuhan industri. Tantangan yang dihadapi pelaku usaha juga diharapkan menjadi masukan untuk mengembangkan teknologi yang lebih tepat guna.

Mengejar Kemandirian Teknologi

Menurut Arif, Indonesia perlu mengembangkan teknologi yang sesuai dengan karakteristik kebutuhan dalam negeri. Inovasi juga harus efisien, ramah lingkungan, dan mampu digunakan secara berkelanjutan.

“Kemandirian teknologi menjadi penting karena persoalan air yang kita hadapi memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri. Kita perlu memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan mampu menjawab kebutuhan Indonesia secara tepat dan efektif, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi dari luar,” ujarnya.

Bagi masyarakat, hilirisasi teknologi air memiliki arti yang lebih konkret ketika inovasi tersebut mampu membantu menghadirkan air bersih, air minum, dan pengelolaan air yang lebih terjangkau serta berkelanjutan.

BGTI 6 diharapkan tidak berhenti sebagai forum promosi riset. Pertemuan antara periset dan industri menjadi langkah untuk memastikan teknologi air dapat bergerak dari hasil penelitian menuju solusi yang benar-benar digunakan masyarakat.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
ketahanan air Indonesia teknologi desalinasi air siap minum teknologi pengolahan air hilirisasi riset BRIN