PONTIANAK POST — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong hasil riset dan inovasi bidang air agar dapat segera diakselerasi ke tahap pemanfaatan bersama dunia usaha dan industri. Langkah strategis ini ditegaskan dalam forum BRIN Goes to Industry (BGTI) ke-6 bertema “Hilirisasi Riset dan Inovasi Menuju Kemandirian Teknologi dan Ketahanan Air Nasional” di Jakarta, Kamis (27/8).
Kepala BRIN Arif Satria menekankan bahwa air merupakan sumber daya strategis yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ketahanan air tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya alam. Kita membutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar air dapat dikelola secara lebih efisien, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Di sinilah riset dan inovasi harus hadir memberikan solusi,” ujar Arif.
Arif menjelaskan, Indonesia perlu menguasai seluruh rantai pengelolaan air, mulai dari pemantauan sumber daya, konservasi, pengolahan air baku dan air minum, hingga daur ulang air limbah. BRIN sendiri telah menyiapkan sejumlah inovasi unggulan, di antaranya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), pemetaan sumber air, teknologi desalinasi, Air Siap Minum (ARSINUM), serta teknologi membran pengolahan air bersih.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa ukuran keberhasilan riset tidak berhenti pada tahap penemuan, melainkan pada sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata dan nilai tambah bagi perekonomian serta masyarakat.
Melalui ajang BGTI 6, BRIN memposisikan diri sebagai ruang intermediasi yang mempertemukan kemampuan riset nasional dengan kebutuhan nyata sektor industri. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi tepat guna sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap teknologi pengelolaan air dari luar negeri.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro