Asap Kalimantan Terlihat dari Luar Angkasa, NASA Soroti Kebakaran Gambut yang Sulit Dipadamkan

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 22:06 WIB
CITRA LUAR ANGKASA: NASA menangkap foto Bumi dari luar angkasa pada 4 September 2026. Tampak Pulau Kalimantan diselimuti kabut asap tebal. Dalam caption fotonya di platfot X, NASA menulis (terjemahan): Kebakaran sedang membara di Indonesia, yang tengah dilanda kekeringan parah dan meluas. Sebagian di antaranya merupakan kebakaran lahan gambut tropis yang membara secara perlahan, melepaskan polusi udara dalam jumlah lebih besar, serta dikenal sangat sulit dipadamkan. (X: @NASAEarth)
CITRA LUAR ANGKASA: NASA menangkap foto Bumi dari luar angkasa pada 4 September 2026. Tampak Pulau Kalimantan diselimuti kabut asap tebal. Dalam caption fotonya di platfot X, NASA menulis (terjemahan): Kebakaran sedang membara di Indonesia, yang tengah dilanda kekeringan parah dan meluas. Sebagian di antaranya merupakan kebakaran lahan gambut tropis yang membara secara perlahan, melepaskan polusi udara dalam jumlah lebih besar, serta dikenal sangat sulit dipadamkan. (X: @NASAEarth)

 

PONTIANAK POST – Kabut asap yang menyelimuti Kalimantan terlihat jelas dari luar angkasa. Citra yang diunggah NASA Earth pada Jumat (4/9) memperlihatkan asap tebal membentang di atas pulau tersebut ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat telah mencapai 38.310 hektare.

Dalam keterangan yang menyertai citra tersebut, NASA menyebut kebakaran sedang berlangsung di Indonesia di tengah kekeringan parah dan meluas. Sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut tropis yang membara perlahan, menghasilkan polusi udara dalam jumlah besar, serta sulit dipadamkan.

Unggahan itu memperlihatkan bahwa karhutla bukan hanya kumpulan titik panas dalam laporan harian. Asapnya telah membentuk selimut pekat yang dapat diamati dari orbit dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat di daratan.

61 Titik Dipastikan Terbakar

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, sebanyak 166 hotspot terpantau di Kalbar. Setelah diverifikasi melalui patroli dan pengamatan visual, 61 titik dipastikan sebagai kebakaran nyata atau fire spot.

Luas kebakaran terkini pada 61 titik tersebut mencapai 802,17 hektare. Adapun luas kumulatif lahan yang terbakar sejak awal penanganan tercatat 38.310 hektare.

“Dari 166 hotspot, setelah dicek lewat patroli dan visual secara nyata di lapangan, yang benar-benar fire spot hanya 61 titik,” kata Suharyanto dalam Rapat Koordinasi Karhutla di Lanud Supadio, Pontianak, Jumat (4/9).

Penurunan Titik Panas Belum Cukup

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, titik panas sempat menembus lebih dari 2.000 sebelum turun menjadi sekitar 100 titik. Meski demikian, penurunan angka tidak berarti ancaman telah berakhir.

“Tidak boleh lengah. Walaupun titik api sudah menurun, pemantauan dan pemadaman tetap dilakukan sampai kondisi benar-benar aman,” tegasnya.

Bara Gambut Sulit Dijangkau

Sorotan NASA terhadap kebakaran gambut sejalan dengan tantangan petugas di lapangan. Api dapat merambat di bawah permukaan dan tetap membara meski kobaran di atas tanah tidak lagi terlihat.

Bara tersebut berpotensi kembali memicu kebakaran ketika gambut mengering dan angin menguat. Tim darat menggunakan teknik peat injection atau penyuntikan air untuk membasahi lapisan gambut dan menjangkau api di bawah permukaan.

Operasi darat melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, relawan, dan masyarakat peduli api. Pemerintah masih memetakan kebutuhan personel hingga tingkat kabupaten dan kecamatan.

OMC Digencarkan Lima Hari

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dimaksimalkan pada 4–8 September. Pemerintah memanfaatkan potensi awan hujan untuk membasahi lahan dan meningkatkan tinggi muka air tanah gambut.

Pemadaman melalui water bombing juga dilakukan di lokasi yang sulit dijangkau dari darat. Operasi udara antara lain diarahkan ke kawasan Danau Sentarum, Kapuas Hulu, yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia.

Tiga helikopter Chinook dan 180 personel dari Pasukan Bela Diri Jepang dijadwalkan tiba pada 9 September. Bantuan itu akan memperkuat operasi udara di wilayah terdampak.

Kementerian Kehutanan menyiapkan Dana Alokasi Khusus sebesar Rp5,5 miliar bagi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Anggaran tersebut ditujukan untuk mendukung penanganan karhutla di lapangan.

Penegakan hukum juga tetap dijalankan terhadap individu maupun korporasi yang terbukti menyebabkan kebakaran. Lokasi yang terbakar akan dipasangi garis pengaman dan dilarang ditanami dalam jangka waktu tertentu.

Di tengah operasi dan rapat koordinasi yang terus dilakukan, citra NASA menjadi gambaran nyata besarnya krisis. Asap Kalimantan bukan lagi hanya terlihat oleh warga yang menghirupnya setiap hari, tetapi juga terekam jelas dari luar angkasa. (mse/den)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kabut asap Kalimantan titik api Kalbar citra satelit NASA kebakaran lahan gambut karhutla kalbar