Delapan Orang Hilang di Selat Sunda, Lima Jurnalis Berangkat Meliput Anak Krakatau

Salman Busrah • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 08:03 WIB
LUKISAN LETUSAN: Lanskap gunung berapi Krakatau pada 1883 menunjukkan gumpalan material yang dikeluarkan dan abu yang jatuh. THE ROYAL SOCIETY
LUKISAN LETUSAN: Lanskap gunung berapi Krakatau pada 1883 menunjukkan gumpalan material yang dikeluarkan dan abu yang jatuh. THE ROYAL SOCIETY

Pencarian Diperkuat Empat Kapal dan Dua Drone, Gunung Masih Siaga

PANDEGLANG – Mereka berangkat untuk mencari berita dari Gunung Anak Krakatau. Kini justru mereka yang menjadi berita.

Lima jurnalis bersama tiga awak kapal belum ditemukan setelah speedboat yang membawa mereka ke kawasan perairan Selat Sunda hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) sore. Hingga Rabu (9/9) pagi, operasi pencarian masih berlangsung dan diperluas dengan mengerahkan empat kapal serta dua drone.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Banten, Rizky Dwianto, mengatakan pencarian delapan orang tersebut kembali diperkuat pada Rabu pagi. Selain kapal dan drone, nelayan setempat turut dilibatkan untuk memperluas wilayah penyisiran. Dukungan tambahan dari TNI AL juga disiapkan.

Delapan orang itu terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal. Mereka berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, sekitar pukul 14.00 WIB, Senin, menggunakan speedboat untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau yang saat itu sedang mengalami erupsi.

Perjalanan yang semula merupakan tugas jurnalistik berubah menjadi operasi SAR setelah komunikasi dengan kapal terputus.

Sempat Kirim Lokasi

Salah seorang anggota rombongan masih sempat mengirimkan share location sekitar pukul 14.42 WIB. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan kapal tersebut terputus.

Sejak saat itu, tim SAR berupaya menemukan posisi kapal dan delapan orang yang berada di dalamnya.

Pencarian hari pertama belum membuahkan hasil. Kondisi laut, termasuk arus yang cukup kuat, menjadi salah satu kendala tim di lapangan.

Basarnas kemudian memperluas pencarian dengan melibatkan unsur gabungan dan masyarakat nelayan yang mengenal karakter perairan Selat Sunda.

Mereka Datang Memburu Berita

Lima jurnalis tersebut datang ke kawasan Anak Krakatau bukan untuk berwisata.

Mereka menjalankan tugas jurnalistik ketika gunung api tersebut sedang menunjukkan aktivitas tinggi. Anak Krakatau sebelumnya mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB.

Setelah erupsi menerus berakhir, aktivitas tidak berhenti.

Pada Selasa (8/9), PVMBG mencatat sedikitnya lima kali erupsi. Letusan terakhir pada hari itu terjadi pukul 17.56 WIB dengan amplitudo maksimum 54 milimeter dan berlangsung 31 detik.

Memasuki Rabu dini hari, Anak Krakatau kembali erupsi.

PVMBG melalui MAGMA Indonesia mencatat erupsi pada pukul 00.47 WIB, dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 28 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati secara visual.

Artinya, ketika operasi pencarian berlangsung, gunung yang menjadi tujuan peliputan para jurnalis tersebut masih aktif.

Status Gunung Tetap Siaga

Kepala PVMBG dan Badan Geologi sebelumnya menegaskan aktivitas Anak Krakatau masih perlu diwaspadai. Status gunung tetap Level III atau Siaga.

PVMBG juga masih menetapkan radius bahaya tiga kilometer dari kawah aktif.

Rekomendasi tersebut berlaku bagi masyarakat, wisatawan maupun pengunjung. Mereka diminta tidak mendekati kawasan kawah aktif karena masih terdapat potensi lontaran material pijar dan abu vulkanik.

Di tengah pencarian delapan orang tersebut, tidak ada informasi resmi yang menyatakan mereka telah ditemukan maupun dinyatakan meninggal.

Karena itu, operasi SAR masih diarahkan pada satu tujuan: menemukan mereka.

Keluarga menunggu kabar. Rekan-rekan sesama jurnalis menunggu kepastian.

Dan di Selat Sunda, tim SAR terus menyisir laut untuk mencari delapan orang yang berangkat membawa satu misi sederhana—melaporkan apa yang terjadi di Anak Krakatau.

Kini, seluruh perhatian justru tertuju kepada mereka. **

Editor : Salman Busrah
erupsi Anak Krakatau anak gunung krakatau jurnalis hilang kabut asap