PONTIANAK POST – Sebanyak 230 siswa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mendapat penanganan medis setelah diduga mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (9/9). Korban berasal dari MTsN 3 Pati dan SMPN 1 Gembong.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kudus, korban terdiri atas 127 siswa MTsN 3 Pati dan 103 siswa SMPN 1 Gembong. Sejumlah guru yang turut menyantap makanan juga mengalami gangguan kesehatan. Menu untuk kedua sekolah tersebut dipasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 01 Ngembes.
Kepala SMPN 1 Gembong Istiana mengatakan, pihak sekolah mengetahui kejadian itu setelah sejumlah siswa berulang kali pergi ke kamar mandi pada Rabu pagi. Jumlah siswa yang mengeluhkan sakit perut terus bertambah hingga siang. “Awalnya diketahui tadi pagi. Banyak anak pergi ke kamar mandi. Semakin siang, jumlahnya semakin banyak,” ujarnya.
Baca Juga: Dapur MBG Sintang Sudah Dibangun, Warga Telanjur Pinjam Bank hingga Ratusan Juta
Sekolah kemudian menghubungi Puskesmas Gembong. Namun, jumlah pasien yang datang melebihi kapasitas pelayanan sehingga sebagian siswa dirujuk ke RSUD R.A.A. Soewondo Pati, RS Mitra Bangsa, dan KSH Pati. “Puskesmas sudah kelebihan kapasitas. Karena itu, anak-anak kami bawa ke beberapa rumah sakit,” jelas Istiana.
Menurut dia, MBG yang diterima sehari sebelumnya langsung dibagikan kepada siswa karena pada kemasan tercantum petunjuk agar makanan dikonsumsi sebelum pukul 12.00 WIB. Makanan biasanya dibagikan sebelum waktu istirahat pertama, sekitar pukul 09.30 WIB. “Di wadah makanan tertulis harus dimakan sebelum pukul 12.00. Jadi, begitu datang langsung kami berikan kepada anak-anak,” ungkapnya.
Saat menyantap makanan, siswa belum menunjukkan gejala gangguan kesehatan. Keluhan baru muncul beberapa jam kemudian, terutama pada sore hingga malam. Sekolah kemudian mendata siswa yang mengalami gejala dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan untuk mempercepat penanganan.
MBG Terlambat Tiba
Kejadian serupa berlangsung di MTsN 3 Pati. Sebanyak 127 dari 565 siswa dilaporkan mengalami sakit perut, mual, pusing, dan diare. Mayoritas korban merupakan siswa kelas VIII dan IX. Kepala MTsN 3 Pati Zaenal Arifin mengatakan, MBG seharusnya diterima sekitar pukul 11.20 WIB. Namun, makanan dari SPPG Gembong 01 Ngembes baru tiba sekitar pukul 12.00 WIB.
Baca Juga: Ratusan Siswa di Jateng Keracunan: MBG Lagi, Korban Lagi
“MBG datang terlambat, sekitar pukul 12.00. Anak-anak seharusnya makan pukul 11.20 sesuai jadwal, tetapi sampai waktu itu makanannya belum datang,” ujarnya. Karena terlambat, para siswa lebih dahulu melaksanakan salat Zuhur sebelum makanan dibagikan. Saat menyantap MBG, mereka belum mengalami keluhan.
Gangguan kesehatan baru dirasakan beberapa jam kemudian. Keluhan mulai muncul sekitar pukul 23.00 WIB dan berlanjut hingga Rabu pagi. “Mulai pukul 23.00, anak-anak merasakan sakit perut dan diare. Keluhannya berlangsung hingga pagi,” jelas Zaenal.
Sejumlah guru yang turut mengonsumsi makanan juga mengalami gejala serupa. Pihak sekolah masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah seluruh warga sekolah yang terdampak. Menu MBG yang dibagikan di MTsN 3 Pati berupa nasi bakar berisi ayam suwir dan potongan tempe.
MBG Sidoarjo Terkontaminasi Bakteri
Sementara itu, pemeriksaan laboratorium dalam kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo, Jawa Timur, menemukan satu sampel makanan positif terkontaminasi bakteri. Ketua Satgas MBG Sidoarjo Muhammad Ainur mengatakan, laboratorium memeriksa lebih dari 10 jenis sampel.
Hasil pemeriksaan itu menjadi bahan pendukung investigasi untuk mengungkap penyebab gangguan kesehatan para korban. “Ada lebih dari 10 item yang diperiksa. Satu di antaranya menunjukkan hasil positif terkontaminasi bakteri,” kata Ainur.
Hasil laboratorium telah dikoordinasikan dengan kepolisian untuk disandingkan dengan pemeriksaan forensik. Penyebab pasti kasus tersebut masih ditelusuri. Terkait pasien yang kembali mengalami keluhan, Ainur mengatakan proses pemulihan setiap orang berbeda. Daya tahan tubuh serta kepatuhan mengonsumsi obat dapat memengaruhi kondisi pasien. “Daya tahan tubuh setiap orang berbeda-beda. Kepatuhan mengonsumsi obat juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisinya,” ujarnya.
Berdasarkan data hingga Rabu (9/9) pukul 14.00 WIB, sebanyak 116 pasien telah mendapat penanganan di enam rumah sakit. Dari jumlah tersebut, 106 orang telah diperbolehkan pulang, sembilan masih dirawat, dan seorang pasien menjalani observasi.
Para korban ditangani di RSUD R.T. Notopuro, RSI Siti Hajar, RS Pusura Candi, RS DKT, RS Arafah Anwar, dan RS Rahman Rahim. Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuantina membenarkan adanya sampel makanan yang terkontaminasi bakteri. Namun, jenis bakterinya tidak diumumkan karena hasil pemeriksaan teknis tidak dirilis kepada publik.
Menurut Lakhsmie, kontaminasi makanan dapat bersumber dari berbagai faktor, mulai dari air, bahan baku, hingga kondisi lingkungan. “Hasil detailnya tidak dirilis untuk publik. Yang pasti, semua harus menjaga kesehatan,” katanya. (ful/mia/adr/oni)
Editor : Hanif