PONTIANAK POST — Jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, bertambah menjadi 265 orang hingga Kamis (10/9). Sebanyak 54 siswa masih menjalani rawat inap di empat rumah sakit.
Banyaknya korban mendorong pemerintah daerah menetapkan insiden tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB). Keselamatan anak-anak dan percepatan pelayanan kesehatan menjadi prioritas utama.
“Karena menyangkut nyawa anak-anak didik kita, makanya saya putuskan kondisinya adalah KLB. Penyelamatan kami utamakan,” kata Pelaksana Tugas Bupati Pati Risma Ardhi Chandra kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Status tersebut ditetapkan ketika penyebab gangguan kesehatan belum diketahui. Sampel makanan masih diperiksa di laboratorium sehingga kasus tersebut tetap disebut sebagai dugaan keracunan.
Biaya Perawatan Ditanggung
Chandra memastikan seluruh siswa yang mengalami keluhan dapat memperoleh pelayanan kesehatan tanpa terkendala biaya. Pemerintah daerah bersama Badan Gizi Nasional (BGN) akan menanggung biaya pengobatan dan perawatan korban.
Dana belanja tidak terduga juga disiapkan untuk mendukung penanganan. Kebijakan tersebut diharapkan membuat orang tua tidak ragu membawa anaknya ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala setelah mengonsumsi MBG.
“Kami mengutamakan pelayanan kesehatan masyarakat,” tegas Chandra.
Dari 54 siswa yang masih dirawat, sebanyak 23 orang berada di RSUD R.A.A. Soewondo. Sebanyak 18 siswa dirawat di RS Keluarga Sehat Hospital, 12 orang di RS Mitra Bangsa, dan seorang lainnya di RSUD Fastabiq Sehat.
Seluruh Dapur Akan Disisir
Selain menangani korban, pemerintah daerah menyiapkan evaluasi menyeluruh terhadap dapur penyedia MBG. Mulai pekan depan, Chandra akan memimpin inspeksi terhadap 172 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Pati.
Inspeksi melibatkan Dinas Kesehatan, Kodim, Polres, seluruh unsur forum koordinasi pimpinan daerah, serta perwakilan BGN. Pemeriksaan mencakup fasilitas, proses produksi, dan kemampuan setiap dapur memenuhi standar kelayakan.
“Kami akan datang langsung ke semua SPPG untuk mengecek fasilitas dan kemampuan dapur dalam memenuhi standar kelayakan. Kami akan sisir ulang semuanya,” katanya.
Kapasitas dapur akan dicocokkan dengan jumlah makanan yang diproduksi setiap hari. Dapur dengan fasilitas terbatas tetapi melayani 2.500 hingga 3.000 porsi akan mendapat perhatian khusus.
Hasil pemeriksaan akan dicatat dan dijadikan bahan rekomendasi kepada pimpinan BGN. Kewenangan mencabut izin atau memutus kontrak penyedia tetap berada di tangan lembaga tersebut.
Sekolah Minta MBG Dihentikan
Insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan sekolah. Sejumlah sekolah telah mengirimkan surat yang meminta pembagian MBG dihentikan sementara.
Chandra meminta masyarakat tidak panik. Pemerintah daerah akan mengajak sekolah berdiskusi sembari memastikan keamanan makanan melalui pemeriksaan seluruh SPPG.
“Untuk sekolah yang bersurat meminta disetop, nanti kita ajak diskusi,” katanya.
Menurut dia, pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menentukan penyebab pasti gangguan kesehatan. Hasil tersebut akan disampaikan kepada masyarakat setelah diterima.
“Sampel makanan masih diuji di laboratorium. Hasilnya akan segera kami umumkan kepada publik jika sudah keluar,” ujarnya.
BGN Ancam Tutup Permanen Dapur
Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono meninjau langsung kondisi siswa yang menjalani perawatan di Pati. Menurut dia, sebagian besar korban telah menunjukkan pemulihan.
“Tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan,” ujarnya.
BGN menaruh perhatian serius terhadap insiden di Pati karena terjadi setelah kasus serupa di sejumlah wilayah Jawa Tengah, termasuk Blora dan Rembang.
Trenggono menegaskan SPPG yang terbukti melanggar prosedur operasional standar akan dihentikan sementara. Penutupan permanen dapat diberlakukan apabila kondisi dapur dinilai buruk.
“Jika ada dapur yang menyiapkan MBG secara tidak baik hingga menyebabkan keracunan, langsung kami suspend. Jika kondisi dapurnya memang buruk, kami akan suspend permanen,” tegasnya.
Sebelas Siswa Kembali Dirawat
Sebanyak 11 siswa MTs Manba’ul Ulum Bermi menjalani perawatan di tiga rumah sakit setelah mengonsumsi menu nasi bakar pada Selasa (8/9). Keluhan kesehatan mulai muncul pada malam hari.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MTs Manba’ul Ulum Bermi Ahmadi Rozaq mengatakan paket MBG dibagikan kepada sekitar 205 siswa.
“Gejalanya bervariasi, ada yang mual, pusing, hingga diare,” ujarnya.
Pihak sekolah kemudian menyisir seluruh ruang kelas dan pondok pesantren yang terintegrasi dengan sekolah. Siswa yang tampak lemas segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
“Saya langsung cek semua kelas dan pondok pesantren untuk mencari anak-anak yang tidak masuk sekolah. Yang terlihat lemas langsung saya bawa ke puskesmas untuk penanganan awal,” kata Ahmadi.
Siswa dengan gejala ringan mendapatkan pemeriksaan dan obat. Kondisi mereka dilaporkan berangsur membaik, tetapi sekolah masih melakukan pemantauan.
Tambahan Korban Belum Terperinci
Jumlah korban sebelumnya tercatat 230 siswa dari MTsN 3 Pati dan SMPN 1 Gembong. Data terbaru Dinas Kesehatan Pati menunjukkan totalnya meningkat menjadi 265 orang atau bertambah 35 siswa.
Sebanyak 11 dari tambahan korban tersebut diketahui berasal dari MTs Manba’ul Ulum Bermi. Namun, bahan keterangan yang diterima belum memerinci asal 24 korban tambahan lainnya.
Pemerintah dan sekolah masih berkoordinasi untuk menelusuri seluruh siswa yang mengalami keluhan. Penetapan penyebab kasus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro