Detik-Detik Maut di Laut Jawa: Kapal Miring setelah Bunyi Retakan, kemudian Perlahan Karam

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 23:52 WIB
JENGUK KORBAN: Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjenguk korban selamat KMP Virgo Transport 8 yang menjalani perawatan di Banjarmasin, Minggu (13/9). (FOTO: KEMENHUB)
JENGUK KORBAN: Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjenguk korban selamat KMP Virgo Transport 8 yang menjalani perawatan di Banjarmasin, Minggu (13/9). (FOTO: KEMENHUB)

 

PONTIANAK POST - Hari telah lewat tengah malam, tetapi Rinto Ararap belum bisa memejamkan mata. KM Virgo Transport 8 yang ditumpanginya bersama ratusan orang sedang membelah Laut Jawa menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebagian besar penumpang terlelap. Rinto bersama sejumlah kawannya asal Sumatera Selatan masih duduk meriung di lantai kapal.

Tiba-tiba, pria 33 tahun asal Rimba Asam, Banyuasin, itu mendengar suara seperti benda retak. Mereka berusaha mencari sumber suara, tetapi tidak sempat menemukannya.

“Tidak lama setelah terdengar bunyi itu, kapal langsung oleng dan miring. Setelah itu, perlahan-lahan karam,” tutur Rinto mengenang kejadian sekitar pukul 01.00 Wita, Minggu (13/9).

Kepanikan seketika pecah. Penumpang berusaha mencari jalan keluar dan meraih rompi pelampung untuk menyelamatkan diri.

Rinto mengaku tidak mendengar pengumuman darurat dari anjungan. “Kapten kapal dan awak kapal tidak memberikan informasi atau pemberitahuan,” katanya.

Terbangun ketika Kapal Miring

Kesaksian serupa disampaikan Salihin, penumpang yang bekerja sebagai kernet. Ia baru terbangun ketika posisi kapal sudah miring.

“Kami kaget ketika dibangunkan dan kapal sudah dalam posisi miring,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

“Pokoknya tiba-tiba saja. Tidak ada pemberitahuan atau informasi melalui pengeras suara. Kejadiannya begitu cepat,” lanjut Salihin.

Dalam hitungan menit, kemiringan kapal bertambah. Setiap penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan kemampuan masing-masing.

Rinto memilih terjun ke laut. Rompi pelampung menjadi satu-satunya alat yang menopang tubuhnya di tengah gelap.

“Setelah kapal tenggelam, kami pasrah dan terus berdoa, berzikir. Yakin ada pertolongan dari Allah agar saya dan teman-teman bisa selamat,” ucapnya.

Keterangan dua penyintas mengenai tidak terdengarnya peringatan masih harus diperiksa dalam investigasi. Belum diketahui apakah alarm darurat berfungsi atau awak kapal sempat memberikan instruksi melalui prosedur lain.

Bertahan di Lambung Kapal

Setelah kapal terbalik, para penumpang tercerai-berai. Mereka terapung di tengah laut dengan gelombang yang terus mengayun tubuh.

Faisal Weskurni, penumpang asal Bandung Barat, Jawa Barat, menemukan tempat bertahan di atas lambung kapal yang terbalik. Penumpang lain hanya mengandalkan rompi pelampung sambil menunggu pertolongan.

Sekitar empat jam kemudian, kapal pengangkut batu bara MV Haida menemukan para penyintas. Kapal tersebut mengevakuasi 69 orang.

MV Haida tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Minggu malam sekitar pukul 18.30 Wita. Satu per satu penyintas diturunkan dan dibawa menggunakan ambulans.

Sejumlah korban yang kondisinya memburuk dirujuk ke RS TPT Dr R Soeharsono dan RSUD Ulin Banjarmasin. Sebagian mengalami trauma, sesak napas, dan penurunan kesadaran setelah berjam-jam berada di laut.

Tas selempang Salihin masih melekat di tubuhnya ketika dievakuasi. Dompet dan telepon selulernya tetap berada di dalam tas.

“Kemungkinan telepon saya rusak karena kena air. Tapi, saya bersyukur bisa selamat,” katanya.

Rinto juga bersyukur 14 rekannya selamat. Mereka berangkat bersama dari Sumatera Selatan untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah.

Perjalanan mencari penghidupan itu nyaris berakhir di Laut Jawa. Setelah selamat, Rinto justru memikirkan penumpang lain yang kemungkinan tidak sempat keluar.

“Terutama mereka yang berada di kelas ekonomi dan sedang tidur ketika kapal mulai miring,” katanya.

Mia Ditemukan dari Udara

Harapan kembali muncul ketika tim SAR menemukan Mia Melinda, Senin (14/9). Warga Kendal berusia 28 tahun itu telah terombang-ambing selama berjam-jam.

Mia dievakuasi menggunakan Helikopter HR-3601 milik Basarnas. Ketika turun dari helikopter, wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya lemas.

Tim penyelamat memapah Mia menuju petugas medis. Ia kemudian dibaringkan di bed trolley sebelum dibawa menuju Rumah Sakit Lanud Syamsudin Noor, Banjarbaru.

Ditemukannya Mia menambah jumlah penyintas menjadi 109 orang. Enam orang ditemukan meninggal dunia, sedangkan 128 penumpang dan awak belum ditemukan hingga Senin pukul 17.00 Wita.

Total orang di atas kapal tercatat 243. Sebanyak 115 orang telah dievakuasi, terdiri atas 109 penyintas dan enam korban meninggal.

Gelombang Hambat Pencarian

Kepala Basarnas Laksamana Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan pencarian 128 orang menjadi fokus operasi SAR hari kedua.

“Operasi SAR lanjutan kami fokuskan pada pencarian dan pertolongan terhadap 128 orang yang masih berstatus dalam pencarian,” katanya.

Tantangan utama tim SAR adalah gelombang tinggi. Kondisi tersebut membatasi jarak pandang dan menyulitkan pergerakan kapal yang menyisir permukaan laut.

“Faktor penghambat utama di lapangan saat ini adalah gelombang tinggi yang sangat menyulitkan jarak pandang visual maupun pergerakan kapal-kapal penyapu,” ujar Syafii.

Sebanyak 655 personel terlibat dalam operasi. Basarnas mengerahkan tiga KN SAR, satu rigid inflatable boat, dan sebuah helikopter.

TNI Angkatan Laut menurunkan empat KRI, pesawat Cassa CN-235, dan satu pesawat udara lainnya. Helikopter Polda Jawa Timur serta pesawat Caravan PK-SNK milik BNPB juga membantu pencarian dari udara.

Sejumlah kapal sipil turut menyisir lokasi. Selain MV Haida, terdapat MT Mauhau milik Pertamina, TB TCP, dan FV Cahaya Bahari Jaya.

“Sinergi maritim sangat krusial. Armada sipil seperti MV Haida dan MT Mauhau telah membuktikan bahwa aksi cepat di laut bisa menyelamatkan banyak nyawa pada fase kritis,” tutur Syafii.

Di darat, ambulans dari Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, RSUD Ulin, dan RS Sultan Suriansyah disiagakan di pelabuhan. Petugas memeriksa setiap korban sebelum menentukan kebutuhan perawatan lanjutan.

Pemutakhiran manifes dan identitas korban terus dilakukan di posko Basarnas. Area pencarian juga diperluas dengan memperhitungkan arah arus laut dan angin.

Operator Klaim Manifes Sesuai

Di Surabaya, kantor PT Virgo Karya Shipping di Jalan Perak Barat mulai ramai didatangi keluarga korban. Perusahaan membuka posko pengaduan dan pelayanan darurat.

General Manager PT Virgo Karya Shipping Yoel Rihi memastikan manifes internal perusahaan sama dengan data Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan serta Basarnas.

Jumlah orang di atas kapal tercatat 243. Rinciannya meliputi 30 awak kapal, 60 penumpang umum, 124 sopir dan kernet, serta 29 petugas nonawak, termasuk petugas katering dan tim hiburan.

“Keseluruhan itu jumlahnya 243 orang. Sesuai,” tegas Yoel.

Perusahaan menyatakan seluruh awak, penumpang, sopir, kernet, dan kendaraan yang terdampak mendapat perlindungan asuransi.

“Seluruh kru, penumpang kelas, sopir, kernet, hingga penumpang jalan kaki ter-cover asuransi dari Jasa Raharja dan Jasa Raharja Putra, termasuk perlindungan BPJS dan ganti rugi kendaraan,” katanya.

Perusahaan belum merinci nilai santunan, persyaratan klaim, dan waktu pencairan. Kepastian tersebut penting bagi keluarga korban yang kehilangan anggota keluarga, barang, maupun kendaraan.

Bantah Kapal Tidak Laik

Yoel membantah anggapan KM Virgo Transport 8 tidak laik berlayar karena usia. Kapal tersebut diketahui dibuat di Jepang pada 1987.

Menurut dia, kondisi kapal tidak dapat dinilai hanya berdasarkan tahun pembuatan. Mesin, ketebalan pelat, dan perangkat keselamatan diperiksa serta diperbarui mengikuti regulasi.

Yoel mengatakan kapal baru menjalani perbaikan dan perawatan menyeluruh pada Februari 2026.

“Kondisi teknis armada kami sudah siap beroperasi dan berlayar. Proses berlayar juga sudah rutin,” ujarnya.

Ia menyebut KM Virgo Transport 8 telah mengantongi Surat Persetujuan Berlayar dan sertifikat kelaiklautan. Dokumen tersebut menjadi dasar kapal diizinkan meninggalkan Surabaya.

Klaim operator belum menjadi kesimpulan mengenai kondisi kapal saat kecelakaan. KNKT perlu memeriksa riwayat perawatan, konstruksi, stabilitas, muatan, perangkat keselamatan, serta dokumen pemeriksaan kapal.

Bunyi Retakan Jadi Petunjuk

Informasi awal menyebut kapal menghadapi gelombang setinggi 1,5–2,5 meter pada Minggu dini hari. Namun, kondisi cuaca belum dapat ditetapkan sebagai penyebab tunggal kecelakaan.

Yoel membantah dugaan bahwa kapal mengalami kebocoran. “Kebocoran itu tidak ada. Kami serahkan sepenuhnya kepada KNKT,” katanya.

Kesaksian Rinto mengenai bunyi seperti retakan sebelum kapal miring menjadi salah satu petunjuk awal. Pemeriksaan teknis diperlukan untuk mengetahui apakah suara itu berasal dari struktur kapal, muatan, kendaraan, atau bagian lain.

Kesaksian tentang tidak adanya peringatan juga perlu dicocokkan dengan keterangan kapten, awak kapal, rekaman komunikasi, dan kondisi sistem alarm. Seluruh kemungkinan tersebut berada dalam ranah penyelidikan KNKT.

Untuk sementara, manajemen menyatakan fokus mendampingi penyintas dan keluarga korban. Pendampingan mencakup pemulihan fisik, psikologis, serta pengurusan asuransi.

“Kami rutin berkomunikasi dengan tim di kantor pusat dan tim gabungan di Banjarmasin,” kata Yoel.

Di tengah penyelidikan yang baru dimulai, ratusan keluarga masih menunggu kabar. Bagi mereka, operasi besar di Laut Jawa berpacu dengan waktu untuk menemukan 128 orang yang belum kembali. 


Operasi SAR KM Virgo Transport 8

Pembaruan: Senin, 14 September 2026, pukul 17.00 Wita

Data Orang di Kapal

Keterangan Jumlah
Total orang di kapal 243
Telah dievakuasi 115
Selamat 109
Meninggal dunia 6
Masih dalam pencarian 128

Armada dan Unsur Udara

Armada Jumlah
Helikopter Basarnas 1 unit
KN SAR Basarnas 3 unit
Rigid Inflatable Boat 1 unit
KRI TNI AL 4 unit
Pesawat Cassa CN-235 TNI AL 1 unit
Pesawat udara TNI AL 1 unit
Helikopter Polda Jawa Timur 1 unit
Pesawat Caravan PK-SNK BNPB 1 unit
TB TCP 1 unit
MV Haida 1 unit
FV Cahaya Bahari Jaya 1 unit
MT Mauhau Pertamina 1 unit

Total personel SAR: 655 orang

Sumber: Basarnas, data per 14 September 2026 pukul 17.00 Wita

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kapal tenggelam di Laut Jawa korban KM Virgo Transport 8 operasi SAR Basarnas kapal Surabaya Banjarmasin penyintas kapal tenggelam