PONTIANAK POST - Jumlah titik panas (hotspot) tingkat kepercayaan tinggi secara nasional turun 400 titik dalam sehari. Di Kalimantan Barat, jumlah hotspot turun dari 203 menjadi 43 titik berdasarkan pemantauan Kementerian Kehutanan.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring kondisi yang masih dinamis.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan perkembangan titik panas terus dipantau melalui Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut.
“Saya tidak bisa memprediksi, namun perlu saya laporkan per hari ini angkanya terus menurun. Dan ini angka yang sangat terbuka, transparan, teman-teman bisa cek di SiPongi Kemenhut, ya,” kata Raja Juli seusai rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu (16/9).
Baca Juga: Kemenhut Bekukan Izin 26 Perusahaan Terkait Karhutla, 6 Perusahaan Ada di Kalbar
Hotspot Kalbar Turun 160 Titik
Berdasarkan data SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga Selasa (15/9) pukul 21.05 WIB, tercatat 1.037 titik panas tingkat kepercayaan tinggi secara nasional.
Jumlah tersebut berkurang 400 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah mencatat 266 titik panas, turun dari 689 titik. Kalimantan Barat turun dari 203 menjadi 43 titik, sedangkan Kalimantan Selatan turun dari 112 menjadi 72 titik.
Sementara itu, Sumatera Selatan mencatat peningkatan dari 116 menjadi 245 titik panas. Jambi juga naik dari sembilan menjadi 62 titik, sedangkan Riau mencatat 15 titik setelah sebelumnya nihil.
“Jadi sekali lagi trennya terus menurun karena kerja keras teman-teman dari tadi, Manggala Agni Kemenhut, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api,” ujar Raja Juli.
Hotspot Bukan Selalu Titik Kebakaran
Kemenhut menjelaskan titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Data tersebut tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas. Karena itu, indikasi dari satelit tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.
Kemenhut Perkuat Operasi Udara
Pemerintah terus menjalankan operasi pengendalian karhutla melalui kombinasi operasi udara dan darat.
Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan memanfaatkan potensi awan untuk mendukung pembasahan lahan.
“Jadi OMC kami akan terus lakukan, masif sekali. Kepala BNPB sudah melaporkan berkali-kali bahwa kekuatan pesawat udara, satgas udara, telah maksimum untuk melakukan selain patroli, juga OMC,” tuturnya.
Baca Juga: Menteri Kehutanan Tutup Izin Usaha 5 Perusahaan Terkait Karhutla di Kalbar
Pemerintah masih menyiagakan 53 armada udara di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing, sedangkan 19 armada lainnya digunakan untuk patroli udara dan mendukung OMC.
Pemadaman dari udara digunakan untuk menjangkau wilayah kebakaran yang sulit dicapai satuan tugas darat.
“Yang kedua, water bombing. Kita juga maksimumkan, terutama di daerah-daerah yang remote, daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh satgas darat,” ucap Menhut.
Satgas Darat Fokus Kawasan Gambut
Di sisi lain, satuan tugas darat tetap memiliki peran penting dalam pemadaman maupun pembasahan, terutama pada kawasan gambut di enam provinsi prioritas karhutla.
“Evaluasi kami bersama menunjukkan, dalam keadaan El Nino kuat seperti ini, selain tadi OMC, satgas darat ini yang paling memiliki kemampuan melakukan pemadaman api maupun pembasahan di daerah-daerah gambut, terutama di 6 provinsi prioritas gambut,” ungkap dia.
Perkembangan titik panas dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kondisi yang berfluktuasi.
Data SiPongi hingga Senin (14/9) pukul 21.05 WIB mencatat 1.437 titik panas tingkat kepercayaan tinggi secara nasional, meningkat dari 592 titik sehari sebelumnya.
Sebelumnya, BNPB melaporkan tim gabungan dalam sehari memadamkan lebih dari 421 hektare hutan dan lahan gambut di enam provinsi prioritas hingga Rabu (9/9).
Operasi darat dan udara tersebut menjangkau 55 kabupaten/kota.(*)
Editor : Uray RonaldSumber : Antara