160 Tahun di Belanda, Berlian Kalimantan Pulang ke Indonesia: Harganya Tembus Rp50 Miliar

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 18:30 WIB
Berlian Kalimantan Selatan atau Intan Sultan Adam seberat 38,23 karat merupakan bagian dari regalia Kesultanan Banjar yang disita pada masa kolonial Belanda. Berlian bersejarah ini masuk dalam kesepakatan pengembalian 20 benda budaya Indonesia dari Belanda. (IST)
Berlian Kalimantan Selatan atau Intan Sultan Adam seberat 38,23 karat merupakan bagian dari regalia Kesultanan Banjar yang disita pada masa kolonial Belanda. Berlian bersejarah ini masuk dalam kesepakatan pengembalian 20 benda budaya Indonesia dari Belanda. (IST)

 

PONTIANAK POST - Berlian Kalimantan, atau Intan Banjarmasin  (Banjarmasin Diamond) yang dikenal masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan sebagai Intan Sultan Adam segera kembali ke Indonesia setelah lebih dari 160 tahun berada di Belanda. Berlian bersejarah seberat 38,23 karat ini bukan sekadar batu permata, melainkan simbol kedaulatan Kesultanan Banjar yang dirampas pada masa kolonial.

Lantas, berapa perkiraan harga berlian yang pernah menjadi bagian dari regalia atau perangkat kebesaran Sultan Banjar tersebut? Berdasarkan estimasi harga berlian alami berukuran besar dengan karakteristik sejenis, nilainya diperkirakan mencapai US$1,72 juta hingga US$2,86 juta, atau sekitar Rp30,1 miliar hingga Rp50,05 miliar, dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS.

Angka tersebut bukan harga resmi yang ditetapkan pemerintah maupun hasil penilaian independen khusus atas Intan Sultan Adam. Nilai sebenarnya dapat berbeda, terlebih karena berlian ini memiliki sejarah, asal-usul, dan kedudukan budaya yang membuatnya tidak bisa disamakan dengan batu permata komersial biasa.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda Rianne Letschert menandatangani perjanjian pengembalian 20 benda budaya Indonesia di Indonesia House Amsterdam, Jumat (9/10/2026).

Kesepakatan tersebut menjadi langkah penting dalam pemulihan warisan budaya Indonesia yang dibawa ke Belanda pada masa kolonial. Namun, penandatanganan perjanjian tidak berarti seluruh benda tersebut sudah tiba secara fisik di Indonesia. Proses penyiapan dokumen, pengemasan, dan pengangkutan masih perlu dilakukan.

Perkiraan Harga Berlian Banjarmasin

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, L. Amrih Jinangkung, mengakui tidak mengetahui secara pasti nilai pasar berlian tersebut. Namun, ia meyakini harganya sangat tinggi, terutama jika mempertimbangkan makna sejarahnya.

Berlian Banjarmasin atau Intan Sultan Adam memancarkan pesona lewat kilau beningnya yang berpadu dengan nilai sejarah luar biasa. Memiliki berat 38,23 karat dan warna E yang nyaris tanpa rona, permata ini bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga menyimpan jejak kejayaan Kesultanan Banjar yang kini bersiap pulang ke Indonesia. (IST)
Berlian Banjarmasin atau Intan Sultan Adam memancarkan pesona lewat kilau beningnya yang berpadu dengan nilai sejarah luar biasa. Memiliki berat 38,23 karat dan warna E yang nyaris tanpa rona, permata ini bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga menyimpan jejak kejayaan Kesultanan Banjar yang kini bersiap pulang ke Indonesia. (IST)

 

“Harganya pasti sangat sangat tinggi. Tidak hanya soal fisik bendanya, tetapi soal nilai yang terkandung di dalam berlian itu sebagai pusaka Kasultanan Banjar. Dan tentu, nilai berlian jauh lebih tinggi lagi dari perkiraan karena nilai sejarahnya,” ujar Amrih Jinangkung, Minggu (11/10/2026).

Untuk memahami perkiraan nilainya, karakteristik berlian ini dapat dibandingkan dengan berlian alami berukuran besar yang diperdagangkan di pasar internasional. Berat, warna, kejernihan, kualitas potongan, serta kondisi fisik merupakan sejumlah faktor yang memengaruhi harga.

Berikut gambaran perkiraan nilainya.

Komponen Perkiraan
Berat berlian 38,23 karat
Estimasi harga per karat US$45.000–US$75.000
Estimasi nilai dasar US$1,72 juta–US$2,87 juta
Asumsi kurs Rp17.500 per US$1
Perkiraan nilai rupiah Rp30,1 miliar–Rp50,2 miliar
Status angka Estimasi pembanding, bukan penilaian resmi

Catatan: Rentang harga di atas merupakan simulasi berdasarkan asumsi harga per karat yang diberikan dalam bahan. Angka tersebut bukan penawaran jual, hasil appraisal resmi, ataupun jaminan nilai lelang. Nilai aktual bergantung pada hasil pemeriksaan gemologi, kualitas potongan, pasar, dan pertimbangan lain.

Aslinya 70 Karat, Kini Menjadi 38,23 Karat

Salah satu fakta menarik tentang Intan Sultan Adam adalah perubahan beratnya. Ketika masih berupa batu mentah, berlian ini diperkirakan memiliki berat sekitar 70 karat. Setelah dipotong dan dipoles, beratnya menjadi 38,23 karat.

Artinya, berat berlian yang tersisa sekitar 54,6 persen dari berat awal. Selisih tersebut bukan berarti seluruh material yang hilang terbuang sia-sia. Pemotongan berlian dilakukan untuk membentuk bidang-bidang yang memengaruhi pantulan cahaya, penampilan, dan karakter batu.

Berdasarkan data koleksi Rijksmuseum, berlian ini memiliki dimensi sekitar 2,2 sentimeter panjang, 1,7 sentimeter lebar, dan 1,4 sentimeter tinggi. Beratnya mencapai 7,65 gram.

Sebagai gambaran, satu karat setara dengan 0,2 gram. Karena itu, berlian seberat 38,23 karat memiliki berat sekitar 7,65 gram—cukup untuk menunjukkan bahwa batu ini tergolong besar dalam dunia permata.

Namun, berat bukan satu-satunya penentu harga. Dua berlian dengan berat sama dapat memiliki nilai sangat berbeda akibat perbedaan warna, kejernihan, kualitas potongan, dan kelangkaannya.

Warna E, Hampir Tak Terlihat Kuning

Intan Sultan Adam memiliki tingkat warna E, salah satu kategori tertinggi dalam skala warna berlian yang digunakan Gemological Institute of America (GIA).

Skala tersebut membentang dari D hingga Z. D merupakan kategori tertinggi untuk berlian tanpa warna, sedangkan E berada tepat di bawahnya. Berlian kategori D, E, dan F secara umum masuk kelompok colorless atau tidak berwarna.

Pada berlian berukuran besar, karakter warna menjadi salah satu faktor penting. Perbedaan rona yang sangat halus dapat memengaruhi penampilan batu dan penilaian pasarnya.

Karakter warna E menjadi salah satu keunggulan Intan Sultan Adam dari sisi gemologi. Akan tetapi, warna yang tinggi tidak otomatis menjadikannya berlian dengan harga tertinggi karena faktor lain tetap harus diperhitungkan.

Kejernihan SI2, Ada Inklusi di Dalam Batu

Fakta lainnya, berlian ini memiliki tingkat kejernihan SI2 atau Slightly Included 2. Dalam sistem penilaian GIA, kategori tersebut menunjukkan adanya karakteristik internal atau eksternal yang terlihat di bawah pembesaran 10 kali.

Inklusi dapat berupa kristal kecil, awan mikroskopis (cloud), atau retakan halus menyerupai bulu (feather). Bergantung pada ukuran, warna, dan posisinya, sebagian inklusi bisa terlihat dengan mata telanjang.

SI2 berada di bawah kategori VS dan VVS, yang menunjukkan inklusi lebih kecil atau lebih sulit terlihat. Kondisi ini dapat menurunkan nilai komersial dibandingkan berlian dengan warna dan berat sebanding tetapi kejernihan lebih tinggi.

Dengan demikian, Intan Sultan Adam mempunyai kombinasi yang menarik: warna E yang sangat tinggi, tetapi kejernihan SI2 yang tidak termasuk kategori kejernihan premium tertinggi.

Kombinasi tersebut membantu menjelaskan mengapa perkiraan harga berlian ini tidak cukup dihitung hanya berdasarkan berat dan warna.

Pernah Ditolak Raja Belanda dan Gagal Terjual

Perjalanan Intan Sultan Adam di Eropa juga menyimpan cerita yang tidak kalah menarik.

Setelah dibawa ke Belanda, berlian tersebut sempat menghadapi persoalan mengenai nasib dan pemanfaatannya. Raja Willem III disebut menolak pemberian berlian itu. Upaya menjualnya juga beberapa kali tidak berhasil.

Pada akhirnya, berlian tersebut masuk ke dalam koleksi Rijksmuseum pada 1902 sebagai bagian dari sejarah kolonial Belanda. Catatan penelitian mengenai berlian ini menjelaskan bahwa batu tersebut menjadi objek perdebatan selama puluhan tahun, termasuk mengenai apakah berlian harus dipotong dan dijual.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa berlian besar tidak selalu mudah dijual, bahkan ketika secara fisik memiliki karakteristik yang menarik. Pasar berlian berukuran sangat besar jauh lebih terbatas dibandingkan pasar perhiasan pada umumnya.

Dalam kasus Intan Sultan Adam, persoalannya bahkan lebih rumit. Berlian ini tidak sekadar komoditas, tetapi juga benda pusaka yang berkaitan dengan sejarah kekuasaan, konflik kolonial, dan identitas masyarakat Banjar.

Dari Regalia Sultan Menjadi Jarahan Perang

Sebelum dibawa ke Belanda, berlian tersebut merupakan bagian dari regalia Kesultanan Banjar. Batu itu digunakan sebagai perhiasan kebesaran yang dikalungkan pada Sultan.

Setelah Sultan Adam Al-Watsiq Billah wafat pada 1857, Kesultanan Banjar menghadapi krisis suksesi. Situasi politik tersebut kemudian berkembang menjadi konflik yang melibatkan kekuatan kolonial Belanda.

Pada 24–25 Juni 1859, Sultan Tamdjidillah II dipaksa turun takhta di tengah tekanan militer Belanda. Regalia kesultanan, termasuk berlian, kemudian disita. Kesultanan Banjar selanjutnya dihapuskan secara sepihak oleh pemerintah kolonial.

Berlian tersebut dibawa ke Batavia sebelum dikirim ke Belanda pada abad ke-19. Rijksmuseum secara terbuka menyebutnya sebagai war booty atau jarahan perang dalam deskripsi koleksinya.

Pengakuan itu penting karena menjelaskan bahwa persoalan pengembalian berlian bukan semata-mata soal kepemilikan benda bernilai tinggi. Ada sejarah pengambilalihan kekuasaan dan hilangnya benda-benda simbolis milik suatu kerajaan yang ikut melekat pada batu tersebut.

Mengapa Nilainya Sulit Dihitung?

Jika Intan Sultan Adam hanya dinilai sebagai berlian alami, pendekatan harga per karat dapat digunakan untuk membangun perkiraan awal. Namun, cara tersebut memiliki keterbatasan.

Pertama, berlian ini mempunyai identitas sejarah yang spesifik. Ia pernah menjadi bagian dari regalia Kesultanan Banjar dan berkaitan dengan peristiwa kolonial pada 1859.

Kedua, berlian tersebut bukan batu permata yang sedang ditawarkan kepada pembeli umum. Pengembalian melalui mekanisme repatriasi bertujuan memulihkan hak atas warisan budaya, bukan memperoleh keuntungan dari penjualan.

Ketiga, nilai budaya tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi nominal uang. Makna pusaka bagi masyarakat Banjar, hubungan dengan sejarah kerajaan, dan kedudukannya sebagai simbol identitas merupakan aspek yang tidak terwakili dalam tabel harga berlian komersial.

Karena itu, kisaran Rp30 miliar hingga Rp50 miliar lebih tepat dibaca sebagai gambaran potensi nilai material berdasarkan asumsi pembanding, bukan harga yang harus dibayarkan Indonesia untuk mendapatkan kembali pusaka tersebut.

Bukan Hanya Berlian, Ada 19 Benda Budaya Lain

Intan Sultan Adam merupakan satu dari 20 benda budaya Indonesia yang masuk dalam kesepakatan pengembalian dari Belanda.

Benda-benda lainnya meliputi Al-Qur’an tulisan tangan yang berkaitan dengan keluarga Teuku Umar, pedang tradisional Sikin Panjang dari Aceh, manuskrip Kesultanan Aceh, gulungan Wayang Beber Jawa, panel arsitektur makam, serta batu-batu nisan bersejarah.

Benda-benda tersebut memiliki latar belakang, fungsi, dan nilai yang berbeda. Ada yang berkaitan dengan tradisi keagamaan, seni pertunjukan, sejarah politik, hingga perkembangan kebudayaan daerah.

Selain kesepakatan untuk 20 benda budaya tersebut, kedua negara juga menandatangani perjanjian pengalihan Koleksi Dubois. Koleksi ini berkaitan dengan penelitian Eugène Dubois di wilayah Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, termasuk penelitian mengenai evolusi manusia dan Homo erectus.

Koleksi tersebut mencakup puluhan ribu objek ilmiah dan historis. Pengembaliannya memiliki arti penting bagi penelitian, dokumentasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa repatriasi harus menjadi landasan pemulihan dan rekonsiliasi, bukan membuka kembali luka sejarah.

“Kami meyakini bahwa rekonsiliasi yang sejati membutuhkan tindakan nyata, rasa saling menghormati, dan tekad bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menekankan tiga prinsip, yakni care, research, dan educate: pelestarian yang bertanggung jawab, kolaborasi ilmiah yang setara, serta perluasan akses masyarakat terhadap warisan budaya dan sejarah.

Sementara itu, Amrih Jinangkung menilai proses repatriasi mencerminkan pentingnya dialog dan kerja sama konstruktif antara Indonesia dan Belanda. Kesepakatan ini diharapkan memperkuat hubungan kedua negara sekaligus membuka ruang bagi pemulihan warisan sejarah Indonesia lainnya.

Pulang Lebih Berharga daripada Harganya

Kembalinya Intan Sultan Adam menghadirkan dua angka yang berbeda makna. Dari sisi material, berlian tersebut diperkirakan bernilai puluhan miliar rupiah. Dari sisi sejarah, nilainya terletak pada kisah Kesultanan Banjar, perjalanan kolonial, dan identitas masyarakat yang selama ini terpisah dari salah satu simbol kebesarannya.

Berlian ini mungkin dapat dibandingkan dengan permata lain berdasarkan berat, warna, dan kejernihan. Namun, tidak ada rumus harga per karat yang bisa sepenuhnya menghitung arti sebuah pusaka bagi masyarakat yang memiliki hubungan sejarah dengannya.

Bagi masyarakat Banjar, pertanyaan terpenting bukan hanya apakah Intan Sultan Adam bernilai Rp30 miliar atau Rp50 miliar. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pusaka tersebut akan dirawat, diteliti, dipamerkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang setelah kembali ke Indonesia.

Sebab, berlian ini bukan hanya batu yang memantulkan cahaya. Ia juga menyimpan jejak sejarah yang selama lebih dari satu abad berada jauh dari tanah asalnya. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
berlian kalimantan sultan banjar belanda harga intan