PONTIANAK POST - Ketegangan politik antara Iran dan Amerika Serikat memicu polemik baru di dunia sepak bola internasional.
Iran secara terbuka meminta FIFA mempertimbangkan pencoretan Amerika Serikat dari Piala Dunia 2026 setelah pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump terkait keikutsertaan tim nasional Iran.
Kontroversi ini muncul di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, yang bersama Israel dilaporkan melakukan serangan rudal ke wilayah Iran dua pekan lalu.
Serangan tersebut disebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan memicu eskalasi konflik bersenjata.
Situasi tersebut kemudian berdampak pada penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan dimulai kurang dari 100 hari lagi.
Turnamen sepak bola terbesar di dunia itu dijadwalkan berlangsung di tiga negara tuan rumah yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan yang menyinggung kehadiran tim nasional Iran di turnamen tersebut.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyebut Iran sebaiknya tidak datang ke Piala Dunia demi alasan keselamatan.
“Tim nasional Iran sebenarnya dipersilakan datang ke Piala Dunia, tetapi saya tidak percaya itu keputusan yang tepat bagi mereka untuk hadir, demi keselamatan dan keamanan mereka sendiri,” tulis Trump.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari pihak Iran.
Melalui pernyataan resmi, tim nasional Iran menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berhak mengeluarkan mereka dari turnamen tersebut.
“Piala Dunia adalah ajang internasional bersejarah dan penyelenggaranya adalah FIFA, bukan satu negara tertentu,” bunyi pernyataan tim nasional Iran yang dipublikasikan melalui media sosial mereka.
Iran juga menegaskan bahwa mereka lolos ke Piala Dunia melalui proses kualifikasi resmi yang sah.
Tim berjuluk Team Melli tersebut bahkan menjadi salah satu negara yang lebih awal memastikan tiket ke turnamen tersebut.
“Tim nasional Iran lolos ke turnamen ini secara meyakinkan melalui kemenangan beruntun. Tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkan Iran dari Piala Dunia,” lanjut pernyataan tersebut.
Lebih jauh, pihak Iran justru menilai negara yang seharusnya dipertimbangkan untuk dicoret dari turnamen adalah pihak yang dianggap tidak mampu menjamin keamanan peserta.
“Sebaliknya, negara yang seharusnya dikeluarkan adalah yang hanya menyandang status tuan rumah tetapi tidak mampu menjamin keamanan tim peserta,” tulis pernyataan tersebut.
Sementara itu, Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya sempat menyatakan bahwa tim nasional Iran tetap disambut untuk tampil di Piala Dunia 2026.
Namun situasi politik yang memanas membuat partisipasi Iran kini berada dalam ketidakpastian.
Piala Dunia 2026 sendiri akan menjadi edisi ke-23 dalam sejarah turnamen tersebut. Kompetisi dijadwalkan dimulai pada 16 Juni 2026 di Los Angeles, Amerika Serikat.
Dalam hasil undian fase grup yang digelar Desember lalu, Iran tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.
Iran dijadwalkan menghadapi Selandia Baru pada pertandingan pembuka mereka.
Meski demikian, situasi semakin rumit setelah pemerintah Iran mulai mempertimbangkan kemungkinan menarik tim nasional mereka dari turnamen tersebut.
Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, sebelumnya menyatakan bahwa dalam kondisi saat ini Iran tidak bisa berpartisipasi di Piala Dunia.
“Dalam keadaan seperti ini, dalam kondisi apa pun kami tidak bisa mengirim tim nasional untuk tampil di turnamen tersebut,” kata Donyamali.
Hal senada juga disampaikan Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj.
Ia mempertanyakan keputusan mengirim tim ke negara yang dianggap berada dalam situasi konflik.
“Orang rasional mana yang akan mengirim tim nasional ke situasi seperti itu?” ujar Taj kepada kantor berita negara WANA.
Hingga kini, FIFA belum memberikan keputusan resmi terkait polemik tersebut, meski tekanan politik terhadap turnamen Piala Dunia 2026 semakin meningkat.[]
Editor : Budi Miank