PONTIANAK POST – Satu pukulan bisa mengubah jalannya pertandingan tinju dalam sekejap. Lawan yang sejak awal tampil agresif dapat kehilangan keseimbangan, terjatuh, atau tidak mampu melanjutkan pertarungan. Kemampuan mengakhiri duel seperti itulah yang membuat kekuatan pukulan Daud Yordan menarik dibahas menjelang pertarungannya melawan Adore Torres di Pontianak.
Petinju berjuluk Cino itu memiliki rekam jejak kemenangan melalui knockout (KO) dan technical knockout (TKO).
Daud Yordan telah mengoleksi 31 kemenangan KO dari total 43 kemenangan sepanjang karier profesionalnya. Catatan itu berarti sekitar 72,1 persen kemenangannya diraih melalui KO, sebuah statistik yang memperlihatkan betapa sering ia mengakhiri pertarungan tanpa harus menunggu keputusan juri.
Namun, seberapa keras sebenarnya pukulannya?
Sampai saat ini, belum ditemukan hasil pengujian ilmiah yang secara khusus mengukur kekuatan pukulan Daud menggunakan sensor gaya saat bertanding. Karena itu, angka pasti dalam satuan newton atau joule belum dapat dilekatkan pada pukulannya.
-
Total kemenangan: 43
-
Menang KO: 31
-
Persentase kemenangan KO: sekitar 72,1 persen
-
Rekor keseluruhan: 43 menang, 4 kalah, dan 1 no contest (pertandingan tanpa hasil).
Meski begitu, catatan pertandingan dan penelitian biomekanika olahraga bisa membantu menjelaskan mengapa pukulan seorang petinju profesional mampu begitu menentukan.
Bukan Sekadar Otot Lengan
Ada anggapan bahwa pukulan keras terutama ditentukan oleh besarnya otot lengan. Dalam tinju, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Kekuatan pukulan merupakan hasil koordinasi sejumlah bagian tubuh. Gerakan dimulai dari kaki yang menekan lantai, diteruskan melalui putaran pinggul dan badan, kemudian disalurkan ke bahu, lengan, hingga kepalan tangan.
Rangkaian gerak tersebut dikenal sebagai kinetic chain atau rantai kinetik. Ketika setiap bagian tubuh bergerak secara terkoordinasi, energi gerak dapat disalurkan ke pukulan dengan lebih efektif.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Sports and Active Living pada 2020 membandingkan teknik pukulan petinju elite dan petinju junior terlatih. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok elite menghasilkan pukulan dengan gaya dan kecepatan lebih tinggi pada teknik cross, hook, dan uppercut. Peneliti juga menemukan perbedaan dalam kontribusi gerak tubuh terhadap pukulan.
Artinya, pukulan yang terlihat hanya berlangsung sepersekian detik sebenarnya merupakan hasil latihan teknik dan koordinasi tubuh yang panjang.
Baru Ditempelkan ke Pipi, Sudah Terasa Sakit
Gambaran tentang daya serang Daud Yordan juga pernah dirasakan langsung oleh wartawan Pontianak Post, Danang Prasetyo, yang cukup dekat dan akrab dengan petinju asal Kalimantan Barat tersebut.
Dalam sebuah kesempatan, Danang pernah bercanda dengan Daud untuk mengetahui seberapa kuat pukulan petinju berjuluk Cino itu.
“Bang, pukulan abang seberapa kuat sih?” tanya Danang kepada Daud.
Dengan santai, Daud menjawab, “Mau coba kah?”
Daud kemudian memperagakan gerakan sederhana. Bukan melayangkan pukulan sungguhan, ia hanya menggerakkan tangannya dengan sangat lambat dan pelan, lalu menempelkannya ke pipi Danang.
Namun, meski hanya berupa sentuhan ringan, Danang mengaku sudah merasakan sakit.
Pengalaman itu menjadi cerita tersendiri bagi Danang tentang petinju yang dikenal memiliki daya serang berbahaya di atas ring. Bahkan, gerakan yang dilakukan secara perlahan dan tanpa tenaga penuh saja sudah memberikan sensasi yang tidak ia duga.
Anekdot itu setidaknya memberikan gambaran personal tentang kesan yang ditinggalkan Daud, bahkan ketika ia hanya bercanda dengan orang yang dikenalnya. Di atas ring, kemampuan menggabungkan kecepatan, teknik, ketepatan, dan tenaga itulah yang membuat pukulan seorang petinju bisa menjadi ancaman bagi lawannya.
Hook, Uppercut, dan Cross: Tiga Pukulan dengan Karakter Berbeda
Dalam tinju, tidak semua pukulan bekerja dengan cara yang sama. Ada empat teknik dasar yang paling dikenal, yakni jab, cross, hook, dan uppercut. Masing-masing memiliki karakteristik serta kegunaan berbeda.
1. Jab: Cepat, Sederhana, dan Penting untuk Membuka Serangan
Jab merupakan pukulan lurus menggunakan tangan depan. Petinju menggunakannya untuk mengukur jarak, mengganggu ritme lawan, membuka pertahanan, dan menyiapkan kombinasi serangan.
Meski umumnya tidak dikenal sebagai pukulan paling kuat, jab dapat menjadi senjata penting. Pukulan ini membantu petinju mengendalikan jarak dan membuat lawan sulit memperkirakan serangan berikutnya.
2. Cross: Pukulan Lurus dengan Dukungan Putaran Tubuh
Cross merupakan pukulan lurus menggunakan tangan belakang. Dalam posisi bertinju konvensional, petinju bertangan kanan biasanya menggunakan tangan kanan untuk melancarkan pukulan ini.
Putaran pinggul dan badan membantu menyalurkan tenaga menuju tangan. Teknik tersebut membuat cross dapat menjadi pukulan kuat sekaligus efektif untuk menyerang melalui celah pertahanan lawan.
3. Hook: Serangan Menyamping yang Bisa Mengubah Pertandingan
Hook dilancarkan melalui gerakan melengkung dari samping. Pukulan ini dapat diarahkan ke kepala maupun badan, bergantung pada posisi lawan dan kesempatan yang terbuka.
Dalam pengujian terhadap sepuluh petinju elite amatir yang diterbitkan di PLOS ONE pada 2023, rear hook atau hook dari tangan belakang menghasilkan gaya puncak rata-rata 2.624 newton. Hook dari tangan depan menghasilkan rata-rata 2.524 newton. Dalam penelitian yang sama, gaya puncak rata-rata cross tercatat 2.425 newton dan jab 1.645 newton.
Angka tersebut menarik karena menunjukkan bahwa, dalam kondisi pengujian itu, hook menghasilkan gaya puncak lebih tinggi dibandingkan tiga pukulan lain yang diuji.
Namun, hasil tersebut tidak berarti setiap hook selalu lebih kuat daripada cross atau jab. Besarnya gaya bergantung pada atlet, teknik, sasaran, alat ukur, serta kondisi pengujian. Hasil penelitian juga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan seberapa keras pukulan Daud Yordan tanpa pengukuran langsung. Melihat reputasi sang juara dunia, tentu saja pukulan Daud lebih keras dari petinju elite amatir
4. Uppercut: Pukulan dari Bawah yang Mengincar Celah
Uppercut dilancarkan melalui lintasan dari bawah ke atas. Pukulan ini sering digunakan ketika jarak antarpetinju cukup dekat dan pertahanan lawan membuka ruang di bagian tengah.
Uppercut yang tepat sasaran dapat mengganggu keseimbangan lawan. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada waktu, posisi tubuh, dan kemampuan petinju membaca gerakan lawan.
Mengapa Satu Pukulan Bisa Membuat Petinju Tumbang?
Salah satu fakta menarik dalam sains tinju adalah bahwa KO tidak hanya berkaitan dengan besarnya gaya pukulan. Gerakan kepala setelah terkena benturan juga berperan penting.
Tinjauan ilmiah tentang biomekanika KO menjelaskan bahwa percepatan dan terutama rotasi kepala dapat menyebabkan jaringan otak mengalami regangan. Benturan pada sisi rahang, misalnya, dapat memicu rotasi kepala yang cepat. Namun, respons setiap orang berbeda dan mekanisme KO tidak sesederhana satu rumus.
Itulah sebabnya pukulan yang terlihat tidak terlalu besar belum tentu tidak berbahaya. Jika datang pada waktu dan sudut yang tidak diantisipasi, dampaknya dapat berbeda dibandingkan pukulan yang sudah terlihat dan dipersiapkan untuk ditahan.
Faktor lain juga berpengaruh, termasuk posisi tubuh saat menerima pukulan, kemampuan bertahan, kondisi fisik, serta akumulasi benturan selama pertandingan.
Karena itu, istilah “rahang kaca” yang kerap digunakan untuk petinju yang mudah KO tidak cukup menjelaskan persoalan secara ilmiah. Kemampuan menahan benturan dipengaruhi banyak faktor, bukan hanya bentuk rahang.
KO juga bukan ukuran pasti bahwa seorang petinju memiliki pukulan paling keras. Petinju dapat kalah KO karena tidak melihat serangan datang, kehilangan keseimbangan, atau terkena pukulan yang tepat pada saat pertahanannya terbuka.
Apa Bedanya KO dan TKO?
Dalam catatan tinju profesional, kemenangan KO dan TKO sering disatukan sebagai indikator kemampuan mengakhiri pertandingan sebelum seluruh ronde selesai. Namun, keduanya berbeda.
KO terjadi ketika petinju tidak mampu melanjutkan pertandingan setelah terkena serangan dan wasit menyatakan pertandingan berakhir sesuai aturan yang berlaku.
Sementara itu, TKO terjadi ketika wasit, dokter ring, atau pihak yang berwenang menghentikan pertandingan karena petinju dinilai tidak mampu melanjutkan secara aman. Penghentian dapat terjadi tanpa lawan harus kehilangan kesadaran.
Perbedaan ini penting ketika membaca rekor Daud Yordan. Jumlah KO/TKO dapat menunjukkan seberapa sering ia mengakhiri pertandingan lebih awal, tetapi tidak otomatis mengungkap kekuatan setiap pukulannya.
Rasio KO yang tinggi juga tidak bisa langsung dibandingkan tanpa memperhatikan jumlah pertandingan, kualitas lawan, kelas berat, serta metode pencatatan rekor.
Dari Pavel Malikov hingga Lorenzo Villanueva
Karier Daud memiliki sejumlah pertarungan yang memperlihatkan kemampuannya menyelesaikan duel.
Pada April 2018, Daud menghadapi petinju Rusia Pavel Malikov di Yekaterinburg. Daud sempat terjatuh pada ronde keenam, tetapi mampu membalikkan keadaan. Pada ronde kedelapan, ia menjatuhkan Malikov dan menang KO.
Sebelumnya, pada 2012, Daud menghadapi Lorenzo Villanueva dalam perebutan gelar juara dunia IBO kelas bulu. Setelah sempat dijatuhkan pada ronde pertama, Daud bangkit dan menang KO pada ronde kedua. Kemenangan itu mengantarkannya meraih gelar dunia tersebut.
Dua pertandingan itu menunjukkan sisi lain tinju: petinju tidak hanya membutuhkan daya serang, tetapi juga ketenangan, kemampuan membaca situasi, dan kesiapan mengubah strategi ketika pertandingan tidak berjalan sesuai rencana.
Daud kembali memperlihatkan kemampuannya menyelesaikan pertarungan ketika menghadapi Hernan Leandro Carrizo di Pontianak pada 2024. Ia menang KO/TKO pada ronde kesembilan dalam perebutan gelar IBA World Super Lightweight.
Meski berbeda lawan dan situasi, kemenangan-kemenangan tersebut menjadi bagian dari rekam jejak Daud di tingkat profesional.
Benarkah Pukulan Petinju Bisa Diukur dalam Ton?
Istilah “pukulan seberat satu ton” sering muncul dalam pembicaraan olahraga. Namun, secara ilmiah, ungkapan itu perlu dijelaskan dengan hati-hati.
Gaya pukulan diukur dalam satuan newton, sedangkan joule merupakan satuan energi. Kilogram adalah satuan massa. Ketiganya tidak dapat dipertukarkan begitu saja.
Jika suatu gaya dikonversi menjadi kilogram-gaya, hasilnya hanya menggambarkan besaran gaya yang setara dengan berat suatu massa dalam kondisi gravitasi standar. Itu bukan berarti sebuah benda bermassa sama benar-benar menghantam petinju.
Selain itu, gaya puncak hanya salah satu ukuran. Peneliti juga dapat mengukur kecepatan tangan, impuls, waktu kontak, dan seberapa cepat gaya berkembang. Dua pukulan dengan gaya puncak serupa belum tentu menghasilkan dampak yang sama.
Dalam penelitian terhadap petinju Olimpiade, peneliti mengukur gaya pukulan rata-rata sekitar 3.427 newton dalam kondisi pengujian tertentu. Penelitian itu juga mengukur kecepatan tangan dan percepatan kepala, tetapi hasilnya tidak dapat langsung diterapkan kepada semua petinju atau semua situasi pertandingan.
Tentu saja, secara objektif pukulan Daud Yordan jauh lebih keras, karena ia adalah petinju profesiona dan juara dunia. Berbeda dengan ajang Olimpiade yang masuk kategori amatir elite.
Meskipun petinju olimpiade memiliki teknik, kecepatan, dan akurasi yang luar biasa tinggi, ada beberapa faktor mendasar yang membuat daya hancur pukulan petinju profesional di kelas yang sama, seperti Lightweight (61,2 kg) atau Super Light (63,5 kg) yang ditekuni Daud Yordan—terasa lebih keras:
- Ukuran dan Jenis Sarung Tinju: Petinju profesional menggunakan sarung tinju (gloves) yang lebih tipis dan ringan (biasanya 8 oz untuk kelas ringan). Sarung tinju profesional dirancang untuk mentransfer energi pukulan secara maksimal guna menciptakan dampak kerusakan (damage) atau Knockout (KO). Sementara itu, tinju amatir/olimpiade menggunakan sarung tinju dengan bantalan pelindung yang lebih tebal untuk mengutamakan keselamatan atlet.
- Gaya dan Tujuan Bertarung: Di olimpiade, fokus utama petinju adalah mencetak poin lewat sentuhan pukulan yang bersih dalam durasi yang pendek (3 ronde). Sebaliknya, petinju profesional seperti Daud Yordan dilatih untuk merusak pertahanan lawan, menanamkan kaki ke kanvas demi menyalurkan tenaga penuh dari putaran pinggul, dan mengumpulkan efek kerusakan secara akumulatif dalam pertarungan panjang (hingga 12 ronde).
- Metode Latihan Kekuatan: Durasi ronde yang panjang membuat petinju profesional lebih banyak melatih kekuatan otot inti (core) dan daya ledak yang dirancang untuk menghasilkan power punches (pukulan bertenaga besar) yang konsisten, bukan sekadar kecepatan jab untuk mencuri poin cepat.
Ujian Berikutnya: Adore Torres
Reputasi dan pengalaman Daud kembali diuji saat menghadapi Adore Torres dalam perebutan Sabuk ABF Diamond pada ajang Back to Champion 2026 di GOR Terpadu Pontianak, Sabtu (10/10).
Daud mengaku telah mempersiapkan diri selama berbulan-bulan, mempelajari karakteristik lawan, dan menyusun strategi. Torres sendiri menyebut Daud sebagai legenda sekaligus idolanya, tetapi tetap bertekad memberikan perlawanan serius.
Pertandingan ini menjadi kesempatan bagi Daud untuk membuktikan kesiapan dan efektivitas strateginya di atas ring. Meski catatan KO/TKO membuatnya menarik diperbincangkan, hasil duel tidak dapat ditentukan hanya dari reputasi pukulan.
Sebab, dalam tinju, pukulan paling keras belum tentu menjadi pukulan yang paling menentukan. Kemampuan menemukan celah, menjaga keseimbangan, mengatur jarak, dan melancarkan serangan pada waktu yang tepat sama pentingnya.
Bagi penggemar, itulah yang membuat tinju menarik: satu pertandingan mempertemukan kekuatan, kecepatan, strategi, dan ketahanan. Sementara bagi Daud, ujian sesungguhnya baru akan terjawab ketika bel berbunyi dan ia berhadapan langsung dengan Torres.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro