Keluarga Imran, Keluarga Teladan
KELUARGA Imran masuk dalam deretan manusia paling mulia sepanjang zaman. Diabadikannya keluarga Imran dalam Al Qur’an sudah cukup menjadi bukti kemuliaan keluarga ini. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). (Sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain.Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”.
Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”
Imran adalah bapaknya Maryam dan kakeknya Nabi Isa. Diabadikan oleh Allah untuk dijadikan teladan. Dari ayat-ayat di atas, kita dapat informasi bahwa Imran adalah suami saleh yang berpasangan dengan istri shalihah. Kesalehan mereka berdua tampak pada nazar istrinya yang diabadikan dalam Al-Qur’an, bahwa anak yang sedang dikandungnya kalau lahir akan dinazarkan untuk berkhidmat kepada Baitul Maqdis. Ternyata yang lahir adalah anak perempuan sehingga tidak bisa berperan seperti peran laki-laki.
Mereka tidak kecewa dengan takdir Allah, bahkan memperlakukannya dengan perlakuan terbaik. Mereka beri anaknya nama yang terbaik, yaitu Maryam, dan mereka meminta kepada Allah agar Maryam dan keturunannya dilindungi dari setan yang terkutuk. Doa orang tua yang saleh dan salehah ini dikabulkan Allah, tumbuhlah Maryam menjadi perempuan yang salehah dan dikarunia Allah anak yang saleh yang diberi nama Isa.
Surah Ketiga dalam Al-Qur’an
Ali Imran adalah surah ketiga dalam urutan mushaf. Antara surah ketiga dengan surah kedua memiliki hubungan yang sangat erat. Di antara hubungan itu adalah: pertama, dalam surah Al Baqarah disebutkan bahwa Nabi Adam a.s langsung diciptakan Allah, sedang dalam Surah Ali Imran disebutkan tentang kelahiran Nabi Isa AS. yang kedua-keduanya di luar kebiasaan.
Kedua, dalam Surah al- Baqarah dibahas secara luas sifat dan perbuatan orang Yahudi, disertai dengan hujah-hujah yang membantah dan membetulkan kesesatan mereka. Sedangkan dalam surah Ali Imran dipaparkan hal-hal yang sama yang berhubungan dengan orang Nasrani.
Ketiga, surah Al Baqarah dimulai dengan menyebut tiga golongan manusia, yaitu orang mukmin, orang kafir, dan orang munafik, sedangkan surah Ali Imran menyebutkan orang-orang yang menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat dengan takwil yang salah untuk memfitnah orang-orang mukmin dan menyebutkan orang yang mempunyai keahlian dalam menakwilkannya.
Keempat, Surah Al Baqarah diakhiri dengan menyebutkan permohonan kepada Allah agar diampuni atas kesalahan-kesalahan dan kealpaan dalam melaksanakan ketaatan, sedangkan surah Ali Imran disudahi dengan permohonan kepada Allah agar memberi pahala atas amal kebaikan hamba-Nya.
Kelima, surah Al Baqarah diakhiri dengan pengakuan terhadap kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, sedang surah Ali Imran dimulai dengan menyebutkan bahwa Tuhan yang mereka mintakan pertolongan tersebut, adalah Tuhan yang hidup kekal abadi dan mengurus semua urusan makhluk-Nya.
Keenam, surah Al Baqarah menegaskan aturan tentang pentingnya orang tua memperhatikan pertumbuhan anak, terutama di dua tahun pertama, bagaimana penyusuannya, bagaimana makanannya dan pakaiannya. Sedangkan surah Ali Imran mengisahkan keluarga teladan bagaimana memperlakukan anak yang dianugerahkan kepada mereka sehingga tumbuh menjadi anak yang salehah.
Dua Ratus Ayat Harus Jadi Pelajaran
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, surah Ali Imran termasuk As-sab’u at Thiwal, tujuh ayat yang terpanjang. Jumlah ayatnya dua ratus. Pokok-pokok yang terkandung dalam surah Ali Imran di antaranya tentang keimanan, hukum-hukum, kisah-kisah, dan tema-tema yang cukup bervariasi. Dari dua ratus ayat, keluarga Imran yang dijadikan kata kuncinya, dijadikan nama surah.
Membentuk Keluarga Idaman
Keluarga idaman adalah harapan setiap pasangan suami istri. Untuk mewujudkannya perlu perjuangan panjang. Di antara cara paling cepat untuk mewujudkan keluarga idaman adalah dengan melihat contoh keluarga yang sudah sukses mewujudkannya. Di antara keluarga yang dimaksud adalah keluarga Imran.
Kesuksesan keluarga Imran membentuk keluarga idaman adalah karena: pertama, kesuksesan memilih atau mewujudkan kesalehan suami dan istri. Doa dari istri Imran yang ingin menazarkan anaknya agar berkhidmat untuk Masjidil Aqsha, keridhoan menerima takdir lahirnya anak perempuan padahal yang diharapkan adalah anak laki-laki, memberi anak nama yang baik, dan berdoa kepada Allah agar anak yang lahir tidak diganggu oleh setan adalah di antara usaha nyata dari keluarga Imran untuk membentuk keluarga idaman.
Lalu setelah lahir, mereka titipkanMaryamkepada orang yang paling saleh pada zamannya, yaitu Nabi Zakariya, yang masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan Maryam. Di situlah Maryam tumbuh menjadi perempuan yang salehah hingga dipilih oleh Allah untuk menjadi ibu seorang Nabi yaitu Nabi Isa ‘alaihissalam.
Seluruh ayat yang terdapat di dalam seluruh Ali Imran bisa dibaca dalam rangka mewujudkan keluarga idaman. Surah ini dimulai dengan kalimat tauhid Allahu la ilaha illa Huwa al Hayyu al Qayyum (Allah, tiada ilah selain Dia, Maha Hidup, dan senantiasa mengurusi hamba-Nya). Di antara cara Allah mengurus hamba-Nya adalah dengan menurunkan Kitab Suci yang memandu manusia bagaimana menjalani kehidupan. Lalu Allah kisahkan keluarga Ali Imran yang menyerahkan segala urusan keluarganya sesuai dengan aturan Allah.
Keluarga yang senantiasa hidup dengan bimbingan Allah berpotensi besar untuk melahirkan generasi ulul albab yang hidupnya memadukan antara dzikir dan pikir dan menghasilkan rasa takut kepada Allah. Ciri ulul albab disebutkan di akhir surah Ali Imran. Semoga semangat keluarga Imran dalam mendidik generasi saleh menjadi inspirasi kita untuk mendidik anak-anak yang dititipkan Allah kepada kita.**
*Penulis, Dosen IAIN Pontianak. Editor : Super_Admin