Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Memberdayakan Pelajar dalam Digitalisasi UMKM 

Siti • Jumat, 21 Mei 2021 | 13:22 WIB
Kurniawan Widodo
Kurniawan Widodo
Oleh : Kurniawan Widodo, S.Hut., M.Pd

Kondisi pandemi Covid-19 yang tak kunjung berhenti hingga saat ini, telah memberikan pelajaran berarti di semua aktivitas kehidupan masyarakat kita. Selain mempengaruhi masyarakat di bidang kesehatan, bidang lainnya yang terkena dampak sangat besar adalah ekonomi. Sektor usaha mikro, kecil dan menengah atau yang dikenal dengan singkatan UMKM, termasuk yang merasakan dampak tersebut, akibat pembatasan sosial serta penerapan protokol kesehatan di era new normal.

Berdasarkan pembaharuan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah UMKM di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 64 juta, jumlah tersebut merupakan 99,9% dari keseluruhan usaha yang beroperasi di Indonesia. Kementerian Koperasi dan UKM mencatat setidaknya sejak pandemi terjadi, penjualan di e-commerce naik hingga 26 persen atau mencapai 3,1 juta transaksi per hari. Sehingga terus dilakukan upaya mempercepat UMKM agar go digital. Karena dari 64 juta UMKM yang ada, ternyata baru 13 persen atau 8 juta UMKM yang hadir dalam platform digital (Liputan6.com, 4 September 2020).

Direktur Eksekutif & Kepala Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen Bank Indonesia, Budi Hanoto pada bulan Juni 2020 mengatakan sebanyak 72 persen pelaku UMKM terdampak pandemi Covid-19. Dari seluruh pelaku UMKM, tiga sektor yang paling terdampak yaitu pertanian, ekspor, dan kerajinan pendukung wisata. (bisnis.tempo.co, 25 Juni 2020). Selanjutnya di bulan Oktober 2020, Sekretaris Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Rully Indrawan menyatakan bahwa 90% UMKM mengalami dampak Covid-19 (Investor.id, 30 Oktober 2020). Sebelumnya Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sebanyak 67.051 pelaku UMKM terdampak pandemic Covid-19, berdasarkan laporan dari Dinas Koperasi dan UKM di Provinsi, Kabupaten dan Kota per tanggal 20 Juni 2020. Penyebab utama UMKM terkena dampak dari pandemi Covid-19 lantaran penjualan menurun, sulitnya bahan baku, distribusi terhambat, permodalan dan produksi terhambat. Permasalahan itu muncul karena kebijakan dari pembatasan sosial berskala besar (PSBB) (Economy.okezone.com, 15 Juli 2020).

Salah satu program penting yang harus dilakukan untuk memperkuat UMKM adalah melakukan digitalisasi UMKM. Wakil Gubernur Kalbar, Ria Norsan pada pembukaan Pameran UMKM Karya Kreatif Indonesia (KKI) Tahun 2020 tanggal 31 Agustus 2020, menyatakan bahwa dalam pengembangan UMKM, diperlukan kolaborasi yang kuat untuk membangun akses. UMKM harus menerapkan digitalisasi karena sekarang banyak sekali perdagangan yang dilakukan secara online. Dengan digitalisasi ini, maka waktu lebih efektif untuk mengenalkan produk ke masyarakat (Pontianakpost.co.id,1 September 2020). Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Kalbar, sampai semester pertama 2020, ada sejumlah pelaku 19.503 UMKM di 14 kabupaten / kota di Kalbar (diskopukm.kalbarprov.go.id, 11 September 2020).

Berdasarkan beberapa strategi di atas, baik strategi jangka pendek maupun jangka panjang yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan UMKM diantaranya menekankan kepada digitalisasi UMKM. Menurut Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, Kementerian Koperasi dan UKM Arief Rahman Hakim, program digitalisasi UMKM ini ditujukan untuk menghubungkan UMKM ke sarana pemasaran dan permodalan secara daring sehingga aktivitas usaha UMKM tetap dapat terus berjalan di tengah perubahan aktivitas sosial masyarakat akibat pandemi. Kemenkop UKM telah mempersiapkan pelaku UMKM untuk dapat beradaptasi dengan teknologi melalui berbagai pelatihan daring di situs web www.edukukm.id, serta program Pahlawan Digital yang dapat diikuti oleh UMKM di Indonesia (Media Keuangan, November 2020).

Kegiatan e-marketing melalui sosial media adalah peluang besar karena berdasarkan data We AreSocial menunjukkan bahwa selama 3 jam 46 menit pengguna internet di Indonesia mengakses sosial media. Youtube menjadi media sosial teratas dengan jumlah pengakses 88% dari total pengguna internet di Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia menyukai platform media sosial berjenis video. Sehingga dapat digunakan oleh UMKM dalam memasarkan produk dan jasanya melalui format video, kemudian di upload ke Youtube. Selanjutnya media sosial Whatsapp berada pada urutan kedua diikuti oleh Facebook dan Instagram (teknoja.com, 16 Pebruari 2020).

Program digitalisasi UMKM ini tentu saja tidaklah mudah, karena secara umum sebagian besar pelaku UMKM yang berada di pelosok daerah berpendidikan rendah serta kurang akrab menggunakan aplikasi gadget maupun komputer. Untuk itu diperlukan peran serta masyarakat lainnya dalam membantu percepatan program ini. Peluang terbesar yang bisa dilakukan adalah melibatkan para pelajar setingkat SLTA (SMA, SMK dan MA) dalam membantu pemasaran produk UMKM. Pelajar SLTA diarahkan untuk membantu program digitalisasi UMKM. Hal ini didukung dengan adanya mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKK) pada kurikulum SMK di kelas XI dan XII. Siswa SMK memperoleh pembelajaran mengenai perilaku wirausaha hingga pemasaran produk UMKM.

Seperti kita ketahui dampak pandemi Covid-19 juga mempengaruhi aktivitas di bidang pendidikan. Pembelajaran mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi di kampus, harus menghindari kegiatan tatap muka dan digantikan dengan pembelajaran dalam jaringan (daring). Pelajar juga semakin dekat dengan gadget sebagai media pembelajaran daring tersebut. Adanya dampak negatif penggunaan gadget, membuat pembelajaran daring menjadi kurang efektif terutama dalam pembentukan karakter pelajar. Program digitalisasi UMKM yang melibatkan pelajar SLTA bisa sangat bermanfaat dalam pembentukan karakter peduli terhadap sesama, sehingga pelajar bisa menggunakan gadget untuk sesuatu yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

Pelibatan pelajar SLTA dalam digitalisasi UMKM adalah untuk membantu pelaku UMKM yang masih kesulitan dan belum terbiasa dalam menggunakan aplikasi pada gadget, terutama masyarakat berpendidikan rendah dan berpenghasilan sangat terbatas dalam memenuhi kualitas perangkat gadget termasuk kuota internet, serta pelaku UMKM yang berusia lanjut. Pelaku UMKM tersebut masih sering kita jumpai di sekitar kita, yang sangat membutuhkan bantuan kreatifitas pelajar dalam memasarkan produk UMKM. Kegiatan ini juga bisa meningkatkan kecerdasan sosial dan melatih komunikasi yang berdampak besar bagi masa depan pelajar.

Pada pelaksanaan di lapangan, pihak sekolah atau guru pembimbing bisa memberikan tugas ini secara berkelompok, satu kelompok terdiri dari 3 hingga 4 pelajar. Hal pertama yang dilakukan adalah melakukan survey untuk menemukan UMKM yang layak memperoleh bantuan digitalisasi usahanya. Selanjutnya pelajar membantu membuat iklan produk UMKM. Iklan niaga tersebut bisa berbentuk visual atau info grafis maupun audio visual berupa video sesuai dengan kebutuhan UMKM tersebut. Tentu saja pelajar juga harus belajar lebih detail lagi dalam memanfaatkan berbagai aplikasi pada android maupun komputer untuk membuat iklan, serta mengetahu cara pembuatan iklan yang menarik. Selanjutnya iklan niaga tersebut bisa upload di sosial media agar konsumen mengenal dan tertarik dengan produk UMKM tersebut.

Manfaat lainnya adalah pelajar akan belajar langsung menjadi wirausaha muda dalam membantu pelaku UMKM untuk memasarkan suatu produk barang ataupun jasa. Pihak sekolah bisa dikatakan menerapkan konsep belajar “learning by doing”. Pelajar juga akan mencoba meningkatkan kemampuan untuk melihat pasar, apa yang diinginkan oleh konsumen dan apa target pasar yang ingin disasar oleh produk UMKM. Pelajar berlatih melihat perilaku konsumen, belajar mengetahui berbagai faktor yang menyebabkan konsumen akhirnya memutuskan untuk membeli produk UMKM tersebut.

Salah satu tujuan yang mulia dengan adanya digitalisasi UMKM ini adalah bisa menarik investor. Seperti kita ketahui, masih ada banyak usaha yang stagnan dan tidak dapat berkembang dengan baik karena kekurangan modal. Kreativitas pelajar dalam membuat iklan UMKM dengan konsep yang menarik dan menguntungkan tentu saja akan mengundang investor. Iklan tersebut bisa juga dikirimkan kepada pihak pemerintah atau lembaga keuangan untuk membantu pelaku UMKM dalam mendapatkan modal. Ini akan mempermudah pelaku UMKM dalam mengembangkan bisnisnya. Tidak menutup kemungkinan juga untuk membuat pameran UMKM secara virtual, berisikan berbagai produk UMKM dari berbagai kelompok pelajar tersebut. Pihak sekolah bisa memfasilitasinya bekerjasama dengan dinas Koperasi dan UMKM serta instansi terkait seperti Bank Indonesia untuk menyelenggarakan pameran yang berisi berbagai iklan niaga yang diproduksi oleh pelajar SLTA utuk membantu UMKM di sekitar tempat tinggalnya.

Program digitalisasi UMKM yang melibatkan pelajar ini sangat sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu mencetak generasi muda yang cerdas dan berakhlak mulia serta bisa menghadapi tantangan masa kini dan akan datang. Kita juga sudah melihat beberapa contoh adanya kolaborasi antara orang tua sebagai pelaku UMKM dibantu kaum muda dalam digitalisasi usahanya. Jika kerjasama antara pelajar dan pelaku UMKM terjalin dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan, para pelajar bisa terus membantu sekaligus bekerja sebagai marketing di UMKM tersebut. Sekaligus langsung bekerja ketika lulus sekolah, sehingga membantu meringankan beban orangtua mereka. Peran serta pelajar SLTA dalam membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, berarti juga mendukung pemulihan ekonomi di Kalimantan Barat secara umum. Semoga. Editor : Siti
#Digitalisasi UMKM