Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pengolahan Limbah Sabut Kelapa Jadi Pot Tanam

Super_Admin • Sabtu, 12 Juni 2021 | 06:55 WIB
Ade Mariadi
Ade Mariadi
Oleh Ade Mariadi

Kelapa (Cocos Nucifera) merupakan tanaman tropis yang sudah dikenal lama oleh masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari penyebaran tanaman kelapa di hampir seluruh wilayah Nusantara.

Produksi buah kelapa Indonesia rata-rata15,5 milyar butir/tahun atau setara dengan 3,02 juta ton kopra, 3,75 juta ton air, 0,75 juta ton arang tempurung, 1,8 juta ton serat sabut dan 3,3 juta ton debu serabut (Agustian et al. 2003 dalam Sundari, 2013).

Di Kalimantan Barat, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi tanaman rakyat ini mencapai 81.301 ton pertahun. Sayangnya, industri pengolahan buah kelapa umumnya masih terfokus pada pengolahan daging buah sebagai hasil utama. Karena dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi.

Padahal, hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan orang. Kayu dari batangnya, yang disebut kayu glugu, dipakai orang sebagai kayu dengan mutu menengah, dan dapat dipakai sebagai papan untuk rumah.

Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa, disebut janur, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakat Jawa dan Bali  dalam berbagai upacara, dan menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (seni merangkai janur). Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan, disebut lidi, dihimpun menjadi satu menjadi sapu.

Tandan bunga yang masih muda, yang disebut mayang (sebetulnya nama ini umum bagi semua bunga palma) atau manggar dalam bahasa jawa, dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan simbol tertentu.

Mayang oleh orang Jawa-Mataraman dipakai sebagai bahan pengganti gori dalam pembuatan gudeg dan disebut gudeg manggar. Bunga betina atau buah mudanya, disebut bluluk dalam bahasa Jawa, dapat dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira atau legèn (bhs. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi  menjadi tuak

Tempurung atau batok, dipakai sebagai bahan bakar, pengganti gayung, wadah minuman, dan bahan baku berbagai kerajinan tangan, dan sabut atau bagian masekorp yang berupa serat-serat kasar, diperdagangkan sebagai bahan bakar, pengisi jok  kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi Anggrek.

Umumnya orang memanfaatkan limbah serabut kelapa untuk digunakan sebagai bahan bakar atau sebagian dijual kepada industri pengolahan limbah sabut kelapa. Bahkan sabut kelapa tersebut menjadi limbah yang dibiarkan begitu saja.

Meskipun termasuk limbah organik, namun jika dibiarkan akan memberikan dampak lingkungan seperti penumpukan sampah seiring meningkatnya produksi kelapa.

Bila dikaji lebih lanjut, serabut masih memiliki nilai ekonomis yang cukup baik. Sabut kelapa bisa menghasilkan aneka macam produk, salah satunya adalah pot bunga.

Pot dari sabut kelapa ini berfungsi sebagai media tumbuh tanaman yang sangat cocok untuk tanaman dalam pot, minus unsur hara, bahkan rekomendasi untuk reklamasi bekas tambang (Indahyani, 2011).

Pot sabut kelapa juga sebagai pengganti polybag dari plastik yang biasa digunakan petani untuk media semai tanaman.

Produk turunan dari taaman kelapa ini bisa juga sebagai teknologi berkelanjutan karena bertujuan untuk konservasi lingkungan. Dapat mengurangi limbah plastik, mengurangi limbah kelapa di lingkungan dan bernilai ekonomis bagi petani tanaman organik.

Pemanfaatan limbah sabut kelapa mulai dikembangkan oleh masyarakat Singkawang, khussunya Singkawang Timur. Mereka membuat karya inovasi yang sangat indah, yaitu “POLIO”. Polio yang dimaksud bukan lah penyakit, tatapi kependekan dari Pot Limbah Organik, berbahan baku limbah sabut kelapa.

Proses pembuatannya pun cukup mudah. Yakni dengan mengambil bagian dalam limbah sabut kelapa kemudian di rendam selama kurang lebih 2 hari. Setelah itu sabut tersebut dikeringkan sampai kering.

Setelah kering sabut tersebut dihaluskan dengan cara pencacahan dengan menggunakan mesin penghancur. Apabila sabut telah kering dan halus dilakukan pemasakan dengan kanji, tawas dan telur seperti suatu adonan.

Setelah adonan tercampur sempurna setelah itu baru dicetak menggunakan mesin pencetak pot bunga. Perpaduan ini sungguh memberikan nuansa keindahan seni luar biasa. Produk ini benar-benar memiliki seni keunikan yang berbeda dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Apa lagi, era teknologi saat ini, segala sesuatu bisa dicapai dengan sangat mudah. Terutama dalam proses pemasaran.

Di sini, penulis sekaligus peneliti ingin membantu masyarakat khususnya pengrajin “POLIO” untuk memasarkan kerajinannya melalui situs WEB, media social agar dapat menarik minat masyarakat luar untuk membeli produk tersebut.

Masyarakat juga akan mendapat pelatihan tentang bagaimana cara penggunaan WEB dan Social Media sebagai media promosi agar tercipta kemandirian. Dengan demikian, selain dapat mengurangi limbah sabut kelapa, program ini juga dapat meningkatkan pengetahuan dan penghasilan masyarakat Singkawang Timur.

Ini diharapkan dapat memberikan kegiatan positif dan bermanfaat kepada ibu-ibu Rumah Tangga di Singkawang Timur kota Singkawang. (*)

*Penulis adalah mahasiswa program studi Magister Kimia Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura. Editor : Super_Admin
#opini