SELURUH perintah Allah yang ditegaskan di dalam Al-Qur’an dan ditujukan kepada manusia, tidak sekadar berupa perintah semata. Akan tetapi di dalamnya memiliki sebuah tujuan yang berdampak perubahan terhadap akhlak pelakunya juga lingkungan sekitarnya. Satu contoh adalah perintah berpuasa yang diwajibkan kepada seluruh orang mukmin dan orang-orang sebelumnya.
Di sana Allah mengharapkan bahwa siapapun dari orang mukmin yang menjalankan ibadah puasa ia akan mampu membentuk dirinya menjadi pribadi yang baik, yang mampu menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an pada seluruh aspek kehidupannya, serta menebarkan kebaikan bagi lingkungan masyarakatnya sebagai bentuk gambaran pribadi muttaqien (QS. Al-Baqarah: 1813)
Dengan memperhatikan tujuan puasa/shaum yang ditegaskan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah tersebut di atas, maka berpuasa tidak sekadar menahan dari tidak makan, tidak minum dan tidak senggama di siang hari saja, tetapi seorang mukmin yang berpuasa sesungguhnya dia sedang melakukan pengendalian diri, menata dan mengelola hatinya agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat, berusaha menjaga perasaan orang lain, serta tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah.
Selain itu, orang yang berpuasa mengarahkan dirinya agar bisa menyenangkan saudaranya sekalipun hanya dengan sebuah senyuman atau kata-kata yang baik, melakukan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dirinya dan orang lain serta berusaha dengan keras ia menghiasi puasanya dengan berbagai amalan yang bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya benar-benar diarahkan untuk meraih cita-cita luhur, derajat yang paling tinggi, yakni “sukses dunia akhirat/muttaqien”.
Digambarkan di dalam Al-Qur’an, bahwa ciri-ciri muttaqien tidak sekadar meyakini keberadaan Allah, menegakkan salat lima waktu, menunaikan zakat dan lain sebagainya yang berupa ritualitas ibadah. Tetapi Al-Qur’an juga menggambarkan bahwa seorang muttaqien, ia memiliki hati yang sehat (qalbun salim), terjaga dari berbagai penyakit hati yang dapat menghanguskan berbagai amalan baik yang sudah dijalankannya, memiliki kepedulian terhadap sesamanya, serta siap mewakafkan jiwa raganya untuk kemajuan masyarakat.
Dijelaskan dalam surat Ali-Imran bahwa orang yang takwa adalah (1) mereka memiliki perhatian kepada saudaranya yang kekurangan, sehingga mereka senantiasa mengulurkan bantuan sekalipun dalam keadaan sempit; (2) mereka berusaha tidak marah apalagi membalas dendam sekalipun disakiti dan dikhianati; (3) mereka melapangkan hatinya untuk memafkan kesalahan orang lain sekalipun mereka telah dizalimi dan; (4) mereka senantiasa melakukan kebaikan.(QS. Ali Imran: 133-134)
Memperhatikan tujuan puasa yang digambarkan Al-Qur’an di atas, maka seorang yang sedang menjalankan ibadah puasa, sejatinya berusaha menjaga dan menahan dirinya untuk beberapa hal:
- Menahan dari segala yang membatalkan ibadah puasa (makan, minum, senggama di siang hari),
- Menjaga dari hal-hal yang dapat merusak ibadah puasa (berkata buruk, ghibah, fitnah, namimah, berprasangka buruk, mengumbar syahwat, dsb)
- Berusaha menjalankan ibadah (mahdlah dan ghair mahdlah).
- Beraktivitas yang baik, ibadah sosial, dsb.
Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak
Ketua De. Dakwah PW Salimah Kalbar Editor : Misbahul Munir S