Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Meraih Rahasia Malam Lailatul Qadar

Misbahul Munir S • Rabu, 27 April 2022 | 14:32 WIB
Syech Taufik Saleh Attamimi
Syech Taufik Saleh Attamimi
Oleh : Syech Taufik Saleh Attamimi

KEUTAMAAN malam lailatul qadar adalah diampuninya dosa-dosa terdahulu seperti melakukan shalat malam di malam lailatul qadar. Rasulullah bersabda :  “Barangsiapa shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.”  (HR.BUKHARI)

"Lalu, kapan tepatnya waktu lailatul qadar terjadi? Tidak ada yang tahu pasti, dan itu poin pentingnya. Ketidak-pastian waktunya mengandung hikmah yang sangat besar, yaitu membuat manusia terus beribadah setiap malam dengan harapan mendapatkan kemuliaan lailah al-qadr. Jika waktunya pasti, kita hanya cukup menunggu dan kemudian melaksanakan ibadah di waktu tersebut, seperti halnya shalat Jumat atau ibadah-ibadah lainnya. Ya, walau tidak bisa dipungkiri, banyak dari kita masih enggan melakukan ibadah yang sudah jelas waktunya, apalagi yang tidak jelas waktunya seperti lailah al-qadr.

Meski demikian, Rasulullah meninggalkan petunjuk bagi orang bersungguh-sungguh ingin mendapatkannya. Beliau bersabda:   “Carilah malam lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain yg diriwayatkan oleh Imam Ahmad:  “Lailatul Qadar berada di bulan Ramadhan pada sepuluh hari terakhirnya, yaitu malam kedua puluh satu, atau kedua puluh tiga, atau kedua puluh lima, atau kedua puluh tujuh, atau kedua puluh sembilan, atau di akhir malam Ramadhan. Barangsiapa shalat malam karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau dan dosa yang kemudian. ”

Kesimpulannya, malam lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan. Tidak adanya batasan “kebaikan”. Bisa berarti kebaikannya sampai akhir usia dunia.

Tanda-tanda malam lailatul qadr dijelaskan dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Ibnu Umar, ”Dari Ibn Umar, bahwa ada beberapa orang dari sahabat Nabi Muhammad yang diperlihatkan lailatul qadar dalam mimpi mereka pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah bersabda, ‘Aku memandang bahwa mimpi kalian tentang lailatul qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim)

Para ulama kemudian berusaha meneliti pengalaman para sahabat dalam menemukan malam lailatul qadar. Di antara ulama yang tegas mengatakan bahwa ada kaidah untuk mengetahui malam lailatul qadar adalah Imam Abu Hamid al Ghazali (405 -505 H) dan Imam Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan dalam sebuah tafsir surat al Qadr, bahwa beliau semenjak baligh selalu mendapatkan malam lailatul qadar dan menyesuai dengan kaidah ini.

Menurut Imam al Ghazali cara untuk mengetahui lailatul qadar bisa dilihat dari permulaan atau malam pertama Ramadan:

  1. Jika hari pertama jatuh pada malam Ahad atau Rabu maka lailatul qadar jatuh pada malam tanggal 29 Ramadan.

  2. Jika malam pertama jatuh pada Senin , maka lailatul qadar jatuh pada malam 21 Ramadan.

  3. Jika malam pertama jatuh pada hari Kamis, maka lailatul qadar jatuh pada tanggal 25 Ramadan.

  4. Jika malam pertama jatuh pada hari malam Sabtu, maka lailatul qadar jatuh pada malam 23 Ramadan.

  5. Jika malam pertama jatuh pada Selasa dan Jumat, maka lailatul qadar jatuh pada malam 27 Ramadan.


Jika menyetujui kaidah ini, berarti malam lailatul qadar tahun ini jatuh pada malam 29 Ramadan, karena awal Ramadan adalah malam Ahad.   Selain itu, Abdurrahman as Shafuri dalam kitabnya, “Nuzhat al Majelis” berkata, “Dan yang aku lihat dari Shohib at Tanbih, sesungguhnya dia berkata: “Lailatul qadar itu terdiri dari sembilan huruf. Allah dalam surat al Qadr menyebutnya sebanyak tiga kali. Kemudian 9×3= 27, maka hal ini menunjukkan bahwa lailatul qadar jatuh pada malam tanggal 27 Ramadan. Pendapat ini adalah yang dikatakan oleh sahabat Ibnu Abbas.

Dalam hal ini Rasulullah memberi tanda-tanda datangnya lailatul qadar di antaranya udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana hadis dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Bahhwa lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, cuaca cerah tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin. Pada pagi hari matahari bersinar begitu cerah dan nampak kemerah-merahan. (HR. al Baihaqi).

Begitulah Rasulullah dan para ulama memberikan gambaran tentang malam yang lebih baik dari seribu bulan ini. Tinggal kemauan dan usaha keras kita untuk menggapainya dengan meningkatkan ibadah kepada Allah. Menyiapkan kebutuhan untuk Lebaran tidak dilarang, justru bisa saja menjadi amal baik bagi kita. Namun, perlu timing dan porsi yang efektif dan efisien.

Misalkan jauh-jauh hari sebelum sepuluh hari terakhir Ramadan, sudah memenuhi semua kebutuhan, seperti baju dan makanan suguhan. Jadi 10 hari terakhir menjadi waktu bermanja ria bersama Allah dan menggapai malam-Nya yang mulia.

Semoga kita bisa menggapai lailatul qadar dan menjadikannya sebagai momen mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Amin. Wallahu A’lam. (*)

Penulis adalah Pembina Majelis Ta’lim Wal Maulid At Taufiq dan Duta Baznas Kalbar      Editor : Misbahul Munir S
#ramadhan #lailatul qadar #rahasia #malam