POHON aren (Arenga pinnata Merr.) merupakan komoditi perkebunan yang sudah sejak lama kita kenal. Namun sayang tumbuhan ini kurang mendapat perhatian untuk dilestarikan dan ditingkatkan oleh berbagai industri, baik itu industri kecil maupun menengah. Aren adalah salah satu jenis tumbuhan yang dapat memproduksi buah, nira dan pati atau tepung di dalam batang yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dalam bidang kesehatan produk-produk nira digunakan untuk membantu mengobati penyakit, produk nira tersebut digolongkan dalam dua kelompok. Yaitu nira yang tidak mengalami proses fermentasi dan yang mengalami fermentasi (Barlina dan Lay, 1994). Nira yang masih segar digunakan untuk obat sariawan, TBC, disentri, wasir, dan untuk memperlancar buang air besar (Ismanto et al, 1995). Nira yang difermentasi menjadi tuak digunakan untuk perangsang haid, melawan radang paru-paru dan mejan (Lutony, 1993).
Hasil produksi tumbuhan aren yang banyak diusahakan oleh masyarakat adalah nira aren yang diolah menjadi gula merah dengan cita rasa manis dan tajam dibandingkan dengan gula kelapa (Y Saleh, 2014). Karena kelebihannya, begitu banyak ragam produk nira aren yang dipasarkan setiap hari dan permintaan produk-produk tersebut semakin meningkat. Baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Adapun permintaan produk gula aren untuk ekspor ke beberapa negara seperti USA, China, Kanada, Jepang, Australia, Singapura, Belgium, Malaysia, Korea, Selandia baru, Jerman dan Inggris sebesar 17.338 ton/tahun dengan kemampuan ekspor mencapai 1200 ton/bulan (Sulisto, 2015). Sehingga dengan melihat potensi yang ada, produk gula aren memiliki peluang pasar yang besar dan layak untuk dikembangkan menjadi produk gula ekspor ke beberapa negara di dunia.
Namun apa saja produk-produk dari nira aren yang banyak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri tersebut? Berikut beberapa produk nira aren. Pertama, nira aren yang diolah menjadi gula merah terdapat dalam tiga bentuk yaitu gula cetak (kerekan), gula pasir dan gula semut (Sapari, 1994). Gula cetak disebut juga sebagai gula padat karena sesuai dengan bentuk cetakan yang digunakan, gula pasir adalah gula aren yang dikristalkan kecil-kecil seperti pasir dan berwarna merah. Gula semut merupakan jenis gula yang dibuat dari nira dengan bentuk serbuk atau kristal dan berwarna kuning kecoklatan sampai coklat (Lutony, 1993).
Produk nira aren yang dihasilkan melalui proses fermentasi yaitu nata pinnata, cuka dan alkohol. Nata pinnata adalah produk nira aren berbentuk padat, bertekstur lembut, kenyal dan berwarna putih. Selain gula aren dan nata pinnata, nira aren dapat juga digunakan untuk menghasilkan minuman beralkohol melalui proses fermentasi dalam bentuk arak. Cuka dapat juga diperoleh melalui proses fermentasi berlanjut dari nira aren, dimana lama kelamaan alkohol dalam nira aren akan terurai dan terbentuk menjadi cuka (asam asetat).
Produk nira aren di atas merupakan beberapa produk yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Salah satu desa di Kabupaten Landak yang memiliki potensi pengembangan usaha gula aren adalah Desa Kumpang Tengah di Kecamatan Sebangki. Di wilayah ini terdapat beberapa kelompok tani yang memproduksi dan menjual gula aren. Usaha ini terus dikembangkan mulai dari model usaha yang dikelola secara tradisional menjadi usaha yang dikelola secara modern, mulai dari proses produksi, pengemasan maupun pemasarannya. Keberadaan pasar sangat membantu dalam memperkenalkan hasil produksi para petani dan juga gula aren di Kabupaten Landak khususnya di Kecamatan Ngabang. Karena selain jarak yang dekat juga dapat meminimalisir biaya transportasi dalam proses pemasaran.
Penulis adalah Mahasiswa Magister-S2 Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak Editor : Misbahul Munir S