Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tanaman Bandotan sebagai Penanganan Diabetes

Misbahul Munir S • Rabu, 28 Desember 2022 | 14:43 WIB
Aulia, mahasiswa jurusan Fisioterapi, Fakultas Kesehatan, Universitas Muhammadhiyah Malang.
Aulia, mahasiswa jurusan Fisioterapi, Fakultas Kesehatan, Universitas Muhammadhiyah Malang.
Oleh: Aulia

DIABETES mellitus atau yang biasa dikenal dengan kencing manis atau penyakit gula merupakan penyakit dimana kadar gula di dalam darah cukup tinggi karena tubuh tidak mampu melepas atau menggunakan insulin sehingga gula di dalam darah tidak dapat dimetabolisme. Pada umumnya, penyakit diabetes melitus terjadi dikarnakan pola makan atau gaya hidup  makan tidak sehat yang menyebabkan  menumpuknya kadar gula di dalam darah  berada di atas ambang batas normal yang bersifat kronis dan jangka panjang.

Data International Diabetes Federation (IDF) Atlas (2021) menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia. Hal tersebut tentu saja menimbulkan perasaan khawatir   untuk  masyarakat dengan  banyaknya jumlah penduduk di Indonesia  yang tekena penyakit tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari banyak faktor yang tanpa kita sadari menjadi penyebab timbulnya penyakit diabetes, salah satunya adalah tadi yang disebutkan diatas yaitu pola makan atau gaya hidup makan yang tidak sehat atau tidak teratur.

Pengobatan untuk penyakit diabetes dengan menggunakan obat sintesis tentu saja menimbulkan biaya yang tidak sedikit hal tersebut membuat banyak masyarakat  lebih memilih untuk mecari pengobatan tradisional dan dengan biaya yang sesuai dengan kantong mereka. Salah satu tanaman yang dapat dinamfaatkan dan mudah di temukan untuk menurunkan kadar gula darah adalah tanaman bandotan. Tanaman bandotan merupakan tanaman yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tanaman tersebut mudah dijangkau dan dapat menjadi pilihan alternatif masyarakat dalam menurunkan kadar gula darah mereka.

Bandotan (Ageratum conyzoides.L) merupakan tumbuhan liar yang tergolong dalam keluarga suku Asteraceae. Tanaman yang berasal dari Brazil seringkali disebut sebagai gulma dan banyak ditemukan di berbagai tempat di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Tanaman bandotan juga populer dengan  sebutan babandotan atau babadotan, rumput balam, wedusan atau dus-bedusan. Nama asingnya adalah Goatweed, Billygoat-weed, Whiteweed atau Chick weed. Nama wedusan atau goatweed disebabkan daun bandotan mengeluarkan bau menyengat yang mirip dengan bau kambing. Manfaat daun bandotan ternyata telah lama diketahui oleh masyarakat dan digunakan untuk pengobatan tradisional, khususnya menjadi obat luar seperti untuk penanganan dalam mengobati luka. Bau menyengat dari daun tanaman ini disebabkan oleh kandungan kimia serta zat aktif yang terdapat pada tanaman tersebut, yaitu kumarin, minyak esensial, dan alkaloid khususnya jenis alkaloid pirolizidina.

Di beberapa negara tanaman bandotan juga digunakan sebagai obat hama pertanian. Bandotan merupakan jenis tanaman pengganggu atau gulma yang banyak ditemukan di pinggir jalan, hutan, ladang dan tanah terbuka. Tanaman bandotan berasal dari Asia Tenggara, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Karibia, Florida, China Selatan dan Australia. Tanaman tersebut dikenal sebagai tanaman hias dari Amerika dan banyak ditemukan di Pasifik Selatan serta negara beriklim hangat lainnya (Prasad, 2011). Bandotan memiliki rasa yang khas yaitu rasa yang sedikit pahit, pedas, dan bersifat netral.

Cara pemakaian tumbuhan bandotan biasanya dengan dikeringkan atau direbus jika untuk diminum. Cara lainnya bisa dengan ditumbuk, lalu diperas dan diminum airnya. Jika ingin menggunakannya sebagai obat luar, herba segar bandotan dapat ditumbuk hingga halus, dicampurkan dengan sedikit minyak sayur dan dibubuhkan pada bagian yang luka. Air seduhan dari daun segar bandotan juga dapat digunakan untuk membilas mata, sakit perut dan mencuci luka (Badrunasar & Santoso, 2016).

Pada umumnya, tumbuhan yang digunaka oleh penduduk lokal sebagai obat diabetes mellitus adalah tumbuhan yang memiliki rasa pahit (Silalahi 2015). Hal tersebut dilandaskan dengan diabetes mellitus yang dihubungkan dengan kelebihan kadar “gula” di dalam tubuh, oleh sebab itu diperlukan senyawa pahit untuk menetralkannya. Meskipun demikian tidak semua tumbuhan yang memiliki rasa pahit bersifat anti diabetes (de Padua et al. 1999). Wiryodidagdo et al. (2000) menerangkan bahwa tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat penyakit diabetes mellitus adalah tumbuhan yang membentuk senyawa yang dapat menekan atau merangsang kerja kelenjar endokrin, sehingga dapat memengaruhi produksi hormon dan mengubah proses fisiologi organ tubuh. lewat penelitian Nyunai, et al., (2015),

Bandotan atau Ageratum conyzoides L merupakan tanaman yang berasal dari amerika tengah, yang kini dapat di temukan di beberapa negara tropis dan sub-tropis. Daun bandotan memiliki karakteristik fitokimia dengan metabolit sekunder yang termasuk di dalamya seperti senyawa flavanoida, alkaloida, kumarin, minyak atsiri, dan tanin, saponin, dan steroid dan terpenoid. Secara tradisional daun bandotan di gunanakan sebagai penyembuhan luka memar dan luka bakar, bakteteriosida, analgetik, antidiuretik, dan antiinflamasi meskipun penggunaan nya bervariasi diberbagai daerah. Penurunan glukosa dikarenan kandungan ekstrak daun bandotan yang dapat menurunkan kadar glukosa darah yaitu adanya senyawa flavonoid yang berperan secara signifikan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan dan mampu meregenerasi sel-sel β pangkreas yang rusak sehingga defisiensi insulin dapat diatasi.

Namun dibalik manfaatnya, tanaman bandotan juga terdapat kandungan yang berbahaya bagi tubuh manusia, hal ini karena tanaman bandotan memiliki kandungan bioaktif yang menghasilkan aktivitas insektisida (bersifat racun seperti pestisida). Tanaman bandotan mengandung senyawa alkaloid dari kelompok pirrolizidinic yang merupakan bagian dari mekanisme pertahanan dari tanaman itu untuk melawan serangga pemakannya. Menurut situs web Herbsia, senyawa alkaloid bersifat hepatotoksik, yang berarti dapat menganggu fungsi hati. Senyawa itu juga dapat memicu timbulnya penyakit hati dan bahkan kanker hati, oleh karena itu disarankan untuk tidak mengkonsumsi dalam waktu yang lama atau keseringan secukupnya saja.

Tanaman bandotan merupakan tanaman yang lebih umum dikenal dengan tanaman gulma yang dapat kita gunakan sebagai pengobatan alternatif dalam penyembuhan penyakit diabetes, hal ini dikarenakan tanaman ini dapat menekan kadar gula darah di tubuh kita meskipun demikian tanaman ini juga mempunyai efek samping dikarenakan adanya kandungan racun yang mampu menimbulkan akibat buruk buat kesehatan.

Dalam sebuah penelitian menyatakan  adanya kandungan racun dalam daun bandotan. Bahkan, riset tersebut menemukan bahwa mengonsumsi tanaamn bandotan pada waktu lama dapat mengakibatkan luka pada hati serta memicu tumor. Seandainya ingin mengambil manfaat daun bandotan dengan diminum, sebaiknya secukupnya saja, khususnya untuk mengatasi penyakit. Hindari mengkonsumsi daun bandotan dalam waktu yang lama.**

Penulis adalah mahasiswa jurusan Fisioterapi, Fakultas Kesehatan, Universitas Muhammadhiyah Malang. Editor : Misbahul Munir S
#diabetes #Penanganan Diabetes #Tanaman Bandotan