Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Anak Polah Bapak Kepradah

Misbahul Munir S • Rabu, 8 Maret 2023 | 01:23 WIB
IST
IST
Oleh: Ferry Yasin

ANAK POLAH Bapak Kepradah, sebuah idiom Jawa yang tidak asing lagi di telinga kebanyakan orang. Mengutip dari buku Maguti: Kajian Simbolisme Budaya Jawa oleh Eko Putranto (2019), idiom yang secara lengkap berbunyi, “Anak Kepolah Bapak Kepradah, Bapak Kesulah Anak Kepolah.” Memiliki arti, anak bertingkah dan bapak atau orangtua yang bertanggungjawab. Orangtua dihukum dengan dihujani tombak, anak ikut merasakannya. Dari peribahasa ini dapat disimpulkan bahwa tanggungjawab orangtua besar sekali terhadap anak-anaknya. Jika anak melakukan perbuatan tercela, maka orangtua akan menanggung hukuman baik normatif berupa beban aib rasa malu dan penderitaan psikis, maupun bisa saja menghadapi hukuman positif.

Hal itu menjadi nyata dan faktual ketika muncul berita tentang anak seorang pejabat yang menganiaya anak orang lain dengan semena-mena dan tanpa perikemanusiaan. Adalah seorang anak pejabat bernama Mario Saputra menganiaya anak lain bernama David Latumahina karena disinyalir masalah percintaan. Ayah Mario, yang merupakan pegawai negeri sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan yang menjabat Kepala Bagian Umum Kantor Wilayah Ditjen Pajak Jakarta Selatan II itu kemudian melayangkan permohonan maaf atas peristiwa tersebut seraya juga bersedia diperiksa dan diaudit harta kekayaannya.

Masih juga hangat peristiwa Sambo dalam ingatan dan benak masyarakat, kekerasan atas nama hal sepele dipertontonkan dengan gamblang. Tapi adanya peristiwa ini—dan lagi lagi—menjadi sebuah momentum. Kejadian ini merembet kemana-mana seiring dengan viralnya setiap jengkal informasi yang berkenaan dan berhubungan dengannya. Kekayaan bapaknya yang sebesar 56 milyar sebagai pegawai negeri sipil Pajak dipertanyakan. Mobil mewah yang dipakai sang anak menjadi sorotan tersendiri. Universitas Prasetya Mulya tempat si anak tersebut berkuliah memecatnya supaya tidak tercemari nama baik institusi tersebut.

Api menjalar hingga menyambar ke sang Dirjen Pajak yang ternyata mengoleksi motor gede beserta klubnya yang terdiri dari para pegawainya. Peristiwa ini berimbas. Kepala Bea Cukai Yogyakarta Eko Barmanto juga dicopot dari jabatannya karena rajin memamerkan hartanya di media sosial, terutama kendaraan motor gedenya. Sebuah mercon yang ternyata ledakannya sedahsyat bom.

Dalam sebuah kesempatan sang bapak menyampaikan permintaan maafnya. Sebuah permintaan maaf adalah sikap gentle. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Ternyata juga nilanya tidak setitik. Karena perbuatan anak, bapak kecipratan jeleknya dan menanggung akibat yang lebih besar. Dipecat dari jabatannya serta diperiksa oleh KPK. Bahkan institusi tempat dimana sang bapak bekerja juga kena getahnya. Getah yang sangat pekat.

Semua ini tidak terlepas dari pola asuh anak. Bagaimana sosialisasi yang terjadi pada anak semenjak ia jabang bayi sampai dengan ia remaja menentukan sikap dan karakternya kemudian. Terutama interaksi seseorang dalam masyarakat dan ketika ia bersosialisasi. Pola asuh yang dilakukan orangtua terhadap anaknya berbeda satu dengan lainnya. Namun, paling tidak ada empat macam pola asuh yang terjadi dalam proses sosialisasi keluarga. Teori ini dikemukakan oleh Baumrind.

Yang pertama adalah pola asuh permisif. Pola asuh model ini anak tidak dituntut terlalu banyak tentang bagaimana menjalani proses perkembangan dirinya. Aturan yang ada bisa tidak konsisten. Dan ini bisa berdampak anak tidak berdisplin diri serta kekurangan ketrampilan dalam hubungan sosial. Yang kedua pola asuh otoritatif, sebuah pola yang terindikasi bersifat demokratis. Orangtua dan anak bersama-sama mencari dan mendapatkan solusi bagi permasalahan di setiap jenjang kehidupan. Pola asuh ini cenderung mendorong anak untuk berani menyatakan pendapat dan dengan demikian meningkatkan rasa percaya diri. Anak bisa berdisiplin diri dan mandiri serta mampu menentukan pilihan-pilihan terbaiknya.

Yang ketiga adalah pola asuh otoriter. Sebuah pola asuh yang kaku dan ketat, disamping menuntut anak untuk mengikuti perintah tanpa syarat. Orangtua tidak responsif terhadap keadaan anak, dan anak tidak memiliki pilihan apapun yang tersedia. Bisa saja anak dalam kondisi tertekan, dan ketika di luar rumah meledak dalam sebuah perilaku agresif. Yang keempat adalah pola asuh tidak terlibat atau uninvolved. Pola seperti ini cenderung menunjukkan pihak orangtua tidak mengetahui sama sekali apa-apa yang diingini oleh anaknya. Pola asuh seperti ini bisa disebabkan karena orangtua sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk anaknya, atau mengalami gangguan kesehatan fisik atau mental. Atau bisa saja tinggal pada tempat yang berbeda.

Jelas pola asuh yang terbaik adalah otoritatif, meski setiap pola asuh ada kelebihan dan kelemahannya. Namun bisa saja pola asuh dalam keluarga terindikasi dengan model lebih dari satu. Dalam kasus ‘anak polah bapak kepradah’ ini bisa disimpulkan bahwa perilaku anak disebabkan oleh pola asuh yang  cenderung model permisif atau pola asuh yang tidak terlibat atau uninvolved. Bapak terus bekerja dan bekerja karena sibuk dengan segala urusan yang makin hari makin menumpuk. Karirnya pun sukses sehingga menduduki jabatan lumayan di institusinya. Kemewahan tidak hanya sudah di depan mata, tetapi sudah dalam genggaman erat.

Ibu mungkin sibuk dengan segala macam aktivitas sosial atau teman sosialitanya atau mungkin dalam organisasi ibu ibu di institusi tersebut. Orangtua seperti ini berprinsip, meski kehadiran secara fisik jarang bersama dengan anak, namun segala kebutuhan dan fasilitas berusaha ia penuhi dengan baik. Dan ia berpikir bahwa itu lebih dari cukup. Padahal, bisa saja aspek agama dan rohani serta afeksi terhadap anak amat minus.

Karena tidak ada pemberian nilai-nilai secara khusus terhadap anak tentang apa itu hidup dan bagaimana menjalaninya, anak merasa bahwa keutamaan hidup adalah uang harta dan segala fasilitas. Dan itu dianggapnya sebagai sebuah kekuatan. Rasa percaya diri anak menjadi kuat berbasiskan hal-hal tersebut, sehingga menegasi nilai-nilai kemanusiaan. Apa yang ada di pikiran anak adalah, saya kuat saya kaya dan orang lain tidak ada apa apanya. Apapun yang saya perbuat tidak boleh ada yang menghalangi!.

Penulis adalah pengajar  di Madrasah Aliyah Darul Ulum Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya. Editor : Misbahul Munir S
#faktual #Bapak Kepradah #budaya jawa #Anak Polah #bertanggungjawab