NEGARA Indonesia dengan pesona dan keindahan alamnya mampu memberikan rasa kagum dibenak setiap orang yang merasakan dan melihatnya. Besaran lahan pada masing-masing wilayah menjadikan masyarakat lebih kreatif mengelola dan mengolah berbagai citra produk terutama disektor pertanian Negara Indonesia, melalui hasil pertnaian, kondisi geografis, modernisasi pertanian, dan keunikan sosial budaya penduduk meningkatkan investasi dan menigkatkan keuntungan lebih bagi petani dan dan masyarakat yang membutuhkan bumbu dapur.
Berdasarkan laporan International Pepper Community (IPC) pada perayaan Hari Lada Internasional 2023, menyatakan Lada merupakan komoditas yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Sejak akhir abad ke16, Indonesia telah menjadi pemasok penting bagi perdagangan lada dunia. Hingga saat ini, lada masih menjadi salah satu penyumbang devisa negara terbesar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor lada periode 2018-2022 menembus USD 775 juta.
Volume perdagangan rata-rata mencapai 45 ribu ton pada periode tersebut (Sayekti, 2023).Lada atau pepper (Piper nigrum L) disebut juga dengan merica, merupakan satu jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah menjadi pepper oil, jenis lada secara umum dikenal orang-orang yaitu adalah jenis lada putih dan lada hitam, tanaman yang merupakan satu diantara komoditas rempah - rempah yang mempunyai prospek cukup cerah bagi peningkatan pendapatan petani dan penambah devisa negara, peranan lada sebagai penghasil devisa terbesar dalam kelompok rempah-rempah dan menempati urutan kelima setelah karet, teh, kelapa sawit dan kopi (Dainuri, 2016).
Permintaan impor lada putih dunia yang bersumber dari Indonesia memiliki elastisitas harga sendiri yang bersifat elastis atau sensitif terhadap perubahan harga. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa permintaan impor lada Indonesia memiliki elastistas peengeluaran yang positif.
Hal ini menandakan bahwa lada Indonesia termasuk barang normal dan elastisitas silang yang negatif yang berarti bahwa komoditas lada Indonesia merupakan merupakan komoditas komplemen bagi negara eksportir utama lada lainnya yaitu India, China, Brazil dan Vietnam di pasar lada dunia (Mahdi, 2021).
Para petani tidak hanya menanam lada untuk memenuhi kebutuhan dapur nasional. Namun, Indonesia mengeksor lada, cita rasa yang berbeda yang dimiliki lada dan hampir semua masakkan orang menggunakan lada sebagai penyedap.
Selain itu lada juga diolah menjadi minyak (pepper oil) yang memiliki banyak khasiat, maka dapat diperkirakan bahwa beberapa tahun kedepan kebutuhan akan lada diluar negeri akan meningkat, dan hal ini memberikan peluang besar bagi petani-petani Indonesia dapat meraih pangsa pasar yang lebih besar lagi di luar negeri (Dainuri, 2016).
Lada sebagai tanaman tahunan yang merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan untuk eksport yang diharapkan dapat meningkatkan devisa negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha tani lada seluas 1 ha adalah Rp. 36.363.400, 00 dengan biaya operational Rp. 198.006.700,00. Jika tingkat bunga 15% per tahun, maka NPV yang dicapai adalah Rp46.311.720,00; gross B/C ratio sebesar 1.5; and IRR sebesar 37.50%. Berdasarkan kriteria investasi ini, hasil analisis kelayakan finansial menyatakan bahwa usahatani Lada layak untuk diusahakan karena menguntungkan (Bambang, 2004).
Selaras dengan kebijakan otonomi, dalam rangka pengembangan investasi sektor pertanian, maka setiap daerah diharapkan mampu menarik sebanyak mungkin investor yang bersedia menanamkan modalnya untuk pengembangan daerah masing-masing dan membantu para petani-petani dalam rangka memoertahankan kualitas pangan dan rempah di daerah Indonesia (Utama, 2013).
Peranan investasi terhadap pertumbuhan berdasarkan pengalaman negara maju. Mereka memberikan peranan kunci kepada investasi didalam proses pertumbuhan ekonomi. Invertasi pertama, menciptakan pendapatan yang juga disebut “dampak permintaan”, dan kedua, memperbesar kapasitas produksi perekonomian dengan menciptakan stok kapital, yang juga disebut “dampak penawaran” dari investasi. Oleh karena itu selama investasi netto tetap berlangsung, maka pendapatan riil dan output akan senantiasa meningkat (Sukirno, 2001).
Peningkatan investasi melalui peningkatan barang modal dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian. Sebab peningkatan stok barang modal secara nasional akan meningkatkan kegiatan perekonomian dan juga dapat memperluas kesempatan kerja.
Investasi merupakan pengeluaran perusahaan dan atau perorangan secara keseluruhan untuk membeli barang-barang modal riil, baik untuk mendirikan perusahaan baru maupun untuk memperluas usaha yang ada dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan (Sukirno, 2001).**
Penulis adalah mahasiswa S2 Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Editor : Misbahul Munir S