Oleh: Rizqy Fachria, M.Si
ADA dua fakta dari penelitian yang membuat miris. Pertama, status gizi buruk pada balita keluarga nelayan, lebih besar dibandingkan dengan balita keluarga tani. Kedua, ditemukan bahwa konsumsi protein balita pada keluarga tani lebih tinggi dibandingkan pada keluarga nelayan.
Fakta ini dapat dilihat pada tulisan “Profil Status Gizi Balita Ditinjau Dari Topografi Wilayah Tempat Tinggal (Studi Di Wilayah Pantai Dan Wilayah Punggung Bukit Kabupaten Jepara)”oleh Auliya (2015).
Walaupun studi ini dilakukan di Kabupaten Jepara, tapi tampaknya dapat mewakili permasalahan nelayan di seluruh Indonesia. Salah satunya nelayan di Desa Medan Mas dan Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Batu Ampar, Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Nelayan tradisional sering kali disebut sebagai penopang kebutuhan protein nasional. Ikan yang tersedia pada meja kita berasal dari nelayan tradisional.
Nelayan membutuhkan waktu 3-5 hari untuk melaut dengan kapal kecil berdaya solar. Berbagai risiko yang bisa mereka hadapi, mulai dari ketidakpastian cuaca dan angin laut, kapal bocor, kehilangan arah di laut, sampai ketidakpastian jumlah ikan yang didapat.
Namun, berbagai resiko ini tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. Banyak nelayan berada di garis kemiskinan yang rentan terhadap gizi buruk.
Pada Lokakarya Ketahanan Pangan dan Gizi Keluarga pada Ekosistem Mangrove, salah seorang kader Kesehatan Desa Batu Ampar dan Medan Mas memaparkan salah satu masalah yang mereka hadapi, khususnya keluarga nelayan.
Yakni nilai tawar gizi ikan lebih rendah dibandingkan nilai ekonomi. Akibatnya, para nelayan memilih untuk menjual hasil ikan tangkapan, kemudian membeli kebutuhan keluarga.
Sebagian besar digunakan untuk membeli susu formula, bubur instan dan biskuit bayi. Padahal, kandungan gizi dari ikan yang mereka tangkap jauh lebih besar dibandingkan produk yang mereka beli.
Beberapa jenis ikan yang didapat adalah Ikan Semerah, Ikan Sembilang, Udang Wangkang, Kakap Putih, Udang Galah, Ikan Tenggiri, Kepiting Bakau, dan Ikan Barakuda.
Misal pada ikan kakap putih yang mengandung protein, vitamin dan mineral penting bagi tubuh, seperti vitamin A, vitamin D, natrium, kalsium, selenium, zat besi, dan kalium. Nilai gizi ini tidak tertulis pada ikan, seperti susu, biskuit, dan bubur instan.
Pengetahuan yang mereka dapatkan melalui iklan media televisi dan media sosial melebih-lebihkan gizi pada produk jualan mereka.
Sehingga mengaburkan kebenaran bahwa nilai gizi ikan lebih tinggi dibandingkan biskuit dan bubur instan bayi.
Sayangnya, kampanye gizi ikan tidak semasif iklan tersebut. Terlebih hasil pendapatan dari penjualan ikan pun tidak seberapa sehingga keluarga nelayan tidak dapat melakukan keanekaragaman pangan untuk memenuhi kecukupan gizi anggota keluarga.
Alhasil, status gizi keluarga nelayan lebih rendah dibandingkan dengan keluarga tani.
Sudah saatnya, pemerintah, LSM, dan institusi pendidikan bergotong royong menyebarkan pengetahuan nilai gizi ikan yang tinggi kepada para kelompok nelayan.
Jangan sampai mereka menukar nilai gizi untuk masa depan keluarga dengan nilai ekonomi yang semu.**
*Penulis merupakan Dosen Teknologi Hasil Perikanan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat.
Editor : Heriyanto Pontianak Post