Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Logam Berat pada Hasil Perikanan Sungai Kapuas Kalimantan Barat

Heriyanto • Minggu, 31 Desember 2023 | 22:34 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi.

 

Oleh: Rizqy Fachria, M.Si

 

KALIMANTAN Barat memiliki potensi wisata bahari hampir di seluruh wilayahnya. Salah satu wilayah yang memiliki hasil tangkapan tertinggi adalah Kabupaten Kubu Raya. Khususnya di wilayah Muara Sungai Kakap.

Tahun 2012, total hasil tangkapan perairan Kubu Raya mencapai 22.000 ton dengan nilai produksi 170.608.250.000.

Hal ini tentunya dapat mendukung program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Muara Sungai Kakap merupakan pemasok hampir 80% seafood ke kota Pontianak dan sekitarnya.

Selain hasil laut, Kalimantan Barat juga merupakan penghasil tambang batu bara, emas, bauksit, timbal seng, pasir kuarsa, pasir dan lainnya.

Lokasi tambang ini sering kali berdekatan dengan aliran Sungai Kapuas. Akibatnya, banyak logam berat yang terakumulasi di sungai.

Hal ini mengakibatkan semua jenis logam berat ditemukan di Muara Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Ada beberapa penelitian mengenai logam berat di sepanjang Sungai Kapuas dan anak sungainya. Pada air sunga diketahui memiliki kandungan merkuri sekitar 0,0016 – 0,199 ppm.

Kemudian, pada beberapa biota sungai ditemukan 0,15 – 3,37 ppm. Contohnya, kepah (Corbiculata) dan kerang (Anadara granulosa) dari pasar di Kota Pontianak mengandung merkuri sebesar 0,196 ppm dan 0,686 ppm.

Bahkan Badan Pengendalian Analisis Dampak Lingkungan Hidup Kalimantan Barat menemukan bahwa kadar merkuri di beberapa titik anak sungai 40 kali di atas batas normal.

Pada penelitian yang saya lakukan tahun 2022 ditemukan pula logam berat dalam udang galah, yaitu kromium 3,2 mg/kg, logam tembaga sebesar 26 mg/kg dan logam timbal sebesar 2,7 mg/kg.

Ketiganya telah melebihi batas maksimum logam berat dalam pangan. Batas aman kromium 2 mg/kg ,logam tembaga 0,3 mg/kg dan logam timbal 0,5 mg/kg.

Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan salah satu udang yang paling penting secara ekonomi dan dibudidayakan di seluruh dunia. Rasa yang enak menjadikan jenis udang dikonsumsi masyarakat secara luas.

Udang galah menjadi sumber utama tangkapan nelayan daerah muara Sungai Kakap selain ikan. Udang termasuk dalam organisme perairan yang bersifat demersal sehingga sebagian hidupnya berada didasar perairan dan mengambil material-material yang berbeda di dasar perairan sebagai sumber makanan, maka rentan terkena kontaminasi dari logam berat yang mengendap.

Oleh karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dan tidak berlebihan dalam konsumsi hasil perikanan dari sungai.

Selama dalam batas wajar, maka tidak berdampak bagi tubuh. Selain itu, hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi pemerintah Kalimantan Barat untuk lebih serius dalam menangani limbah dari industri pertambangan yang berlokasi di sekitar Sungai Kapuas.**

 

*Penulis adalah Dosen Teknologi Hasil Perikanan UNU Kalbar.

Editor : Heriyanto Pontianak Post
#kalimantan barat #logam berat #sungai kapuas #perikanan #Sungai Kakap