Oleh: Ambaryani
WISATA Danau Laet sudah sejak beberapa tahun lalu sering saya dengar. Ipar teman bercerita tentang danau Laet. Saya juga sudah sering lewat simpang masuk lokasi danau Laet, tapi belum pernah ada kesempatan kunjung.
Ada plang dipinggir jalan Tayan sebelah kanan kalau dari arah Pontianak. Disimpang itu juga ada ada semacam tugu berwarna biru terbuat dari semen, tingginya sekitar lebih 2 meter.
Ditugu tersebut tertulis Desa Subah Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau. Sepertinya tugu itu diinisiasi BKKBN Sanggau.
Jalan masuk masih tanah kuning, kanan kiri semak belukar. Sesekali ada motor, mobil, truk yang melintas dari arah dalam. Jalan sepi. Persis jalan Subah Sambas. Ada beberapa bagian jalan yang sudah disemen, tapi tidak banyak.
Untuk sampai lokasi, jarak dan waktu tempuh lumayan juga. Ada plang penunjuk jalan pada belokan-belokan. Jalan yang masih dominan tanah kuning, sepertinya riskan jika hujan. Licin.
Saat sampai dilokasi, tempat parkir luar gerbang masuk lumayan teduh karena banyak pohon karet tinggi yang masih produktif, masih disadap getahnya. Dikanan-kiri gerbang ada tulisan tarif masuk danau. Dewasa 20.000 Anak-anak 10.000. Tapi loket kosong tidak ada yang menunggu.
Kami langsung masuk. Tidak beberapa lama ada warung kecil, ada seorang lelaki berkaos kuning duduk didepan warung. Memegang kertas karcis masuk. Kami membayar masing-masing 20.000 khusus 1 orang membayar 25.000 tarif masuk plus parkir mobil.
Saat masuk, jalanan langsung menurun, terlihat jembatan (gertak) menuju danau terbuat dari papan yang mulai ompong berlubang. Papan nampak sudah rapuh dan jembatan-jembatan titian nampak tidak terawat. Ada juga jembatan yang disemen tapi tak semuanya.
Begitu juga warung-warung atau rumah makan yang ada disekitar danau. Kosong dan sangat tidak terawat rusak. Tidak ada yang beroprasi. Hanya 1 warung tak jauh dari gerbang yang masih aktif, itupun tak banyak jenis barang yang dijual. Tamannya juga sudah didominasi rumput. Bunga-bunganya kalah dengan gulma yang tumbuh subur. Ada sebuah kolam renang tak jauh dari sebuah vila ditepian danau. Ada 1 bangunan vila yang bangunanya didominasi kayu. Tapi lagi-lagi kosong menganggur.
Diujung jalan titian papan ada mal besi berbentuk hati, bintang juga ayunan yang dulunya bisa menjadi spot foto yang cantik. Kenapa saya bisa membayangkan sedemikian indah lokasi itu. Karena video Danau Laet yang ditampilkan saat Larwasda begitu cantik. Hal itu membuat kami penasaran.
Tapi kini kecantikan Danau Laet tinggal kenangan dalam sebuah video dan foto. Nyatanya Danau Laet kini tidak terawat. Kami melihat ada vila-vila dengan atap putih disebrang Danau. Di pulau sebrangnya. Tapi aksesnya dari Danau Laet hanya ada sebuah perahu tempel yang ukurannya tidak besar. Ada tertambat diujung gertak sebelah kanan searah dengan vila.
Kami tak lama disana. Karena mau mencoba ke titian yang sebelah kiri dan masuk melalui sebuah gerbang dengan tulisan;Gerbang O'yek sudah menjadi lorong gelap dibawah pepohonan. Papan rapuh dan bolong-bolong.
Sungguh sayang kini kondisi potensi wisata itu terbengkalai. Mungkin pengunjung yang pernah datang tak mengulang lagi, karena keterbatasan akses jalan dan kini kondisinya memprihatinkan. Semoga saja diwaktu dan tangan yang tepat, kelak Danau Laet akan kembali menjadi salah satu pilihan tempat wisata alam yang lebih menarik dan representatif. Tak hanya lokasi wisatanya, semoga akses jalannya juga mendukung. Semoga kelak saat ada kesempatan kembali ke tempat wisata yang tak seberapa jauh dari Pontianak ini, akses dan tampilannya sudah kembali mempesona. Semoga saja. Aamiin.(*)