Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menjaga Sebuah Kebiasaan Baik

A'an • Jumat, 30 Agustus 2024 | 15:10 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

 

Oleh: Sholihin HZ*

 

ADANYA kebiasaan selalu berawal dari paksaan dan coba-coba. Terasa nikmat dan asyik menjadikannya sebuah kebiasaan. Manakala sudah menjadi kebiasaan maka ia akan menjadi keahlian. Proses menjadi ahli selalu berawal dari seringnya dilakukan.

Dalam istilah keagamaan, ada term “istiqamah”. Istiqamah adalah usaha untuk selalu menjaga perbuatan baik di jalan Allah SWT secara konsisten dan tidak berubah. Melakukan kebiasaan baik pasti pernah dilakukan namun sejauh mana konsistensi dan ketetapan menjaga kebiasaan itu kadang masih perlu diperhatikan.

Menjaga kebiasaan baik sangat diperlukan karena interaksi seseorang dengan lingkungannya dapat mempengaruhi sikap dan karakter seseorang. Dalam sebuah hadits muttafaq ‘alaih, dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, beliau berkata, “Wahai Abdullah, janganlah seperti si fulan, dulu ia selalu salat malam, lalu dia meninggalkan salat malam.”

Hadits  ini menggambarkan nasihat Rasul kepada sahabatnya yang awalnya terbiasa beribadah namun kemudian meninggalkannya. Banyak diantara kita yang awalnya begitu semangat ghirah dan antusias dalam beribadah namun seiring waktu mulai mengalami penurunan atau bahkan tidak menjadi amalannya.

Di sinilah makna hadits Rasulullah SAW, “Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus menerus walau sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya sangat banyak amalan yang mengandung keutamaan yang bisa dilaksanakan sebagai amalan rutin. Ibnu Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amal apa yang paling utama. Rasulullah saw menjawab, amal yang paling utama adalah salat tepat waktu, lantas ditanya lagi, jawab nabi adalah bakti kepada orang tua.

Kemudian ditanyakan lagi amal apa yang paling bagus, dijawab Nabi SAW adalah jihad fi sabilillah. Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah saw pernah ditanya tentang apa yang paling utama dalam Islam, beliau menjawab,  “Man salimal muslimuna mil lisanihi wa yadihi (orang yang selamat dari gangguan lisan dan tangannya).”

Menjaga sebuah amal baik harus selalu diperhatikan mengingat berbagai karakter lingkungan yang beragam. Kadang disatu sisi menguatkan pondasi keimanan dan keyakinan kita namun kadang bersinggungan dengan karakter yang justru melemahkan semangat dan menurunkan kinerja kita.

Karenanya berikut bisa dijadikan sebagai tips menjaga kebiasaan baik. Pertama, meyakini nash-nash naqli tentang keutamaan amal yang dilakukan dan ganjarannya. Kedua, berteman dengan mereka yang menambah semangat dalam beramal.

Ketiga memahami dengan sepenuh hati bahwa inilah masa untuk memperbanyak amal dikala hidup sementara kita tidak tahu amal mana yang diterima Allah SWT. Keempat, munajat kepada Allah agar diberikan hati yang istiqamah dalam beramal.

Mereka yang berkarakter tidak mampu menjaga kebiasaan baik diibaratkan Allah sebagaimana termaktub dalam Qs. An Nahl/ 92, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.

Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Allah hanya menguji kamu dengan hal itu, dan pasti pada hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.”**

 

*Penulis adalah Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat.

 

Editor : A'an
#Sholihin HZ #kebiasaan baik #menjaga