Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Strategi Pendidikan Akhlak di Era Desrupsi

A'an • Selasa, 1 Oktober 2024 | 16:45 WIB
Prof.Dr. Rianawati, S.Ag.M.Ag
Prof.Dr. Rianawati, S.Ag.M.Ag

Oleh: Prof.Dr. Rianawati, S.Ag.M.Ag

 

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa gejala desrupsi ditandai dengan kemajuan Industry 4.0: Industri 4.0 merujuk pada revolusi industri yang terjadi melalui penerapan teknologi digital. Hal ini seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), big data, dan otomatisasi dalam proses produksi dan manufaktur, dengan tujuan agar  produksi semakin meningkat, efisien. dan lebih murah melalui penggunaan berbagai teknologi canggih.

Kemajuan IPTEK juga berbanding lurus dengan dampak negative yang ditimbulkan.  Dengan banyaknya permainan games dan media sosial maka bertambah banyak pula pecandu gadget. Berdasarkan hasil penelitian bahwa 5 hingga 10 persen pecandu gadget terbiasa menyentuh gadgetnya sebanyak 100-200 kali dalam sehari, Berdasarkan survey bahwa pengguna internet Tahun 2020 hingga kuartal II, pengguna internet mencapai 196,7 juta atau 73,7 persen dari populasi penduduk Indonesia.

Dampak negatif yang terjadi pada anak didik kita adalah sensitive trend  medsos, anak didik kita mejadi materialistik (berorientasi pada kehidupan materi). Bahkan kemungkinan akibat pergaulan dan trend di mesos, akan timbul paham-paham negative pada anak didik kita, liberalisme (kebebasan dalam berbuat) dan sekularisme (memisahkan kehidupan dengan agama), pragmatis yaitu ingin menggapai kesuksesan dan keberhasilan tanpa berusaha keras, apatis  dengan lingkungan sekitar,  mempromosikan kenikmatan semu melalui tiga F, yakni food, fashion dan fun, individualis, (mementingkan urusan pribadi) konsumtif, (membelanjakan uangnya dengan bebas) dan hedonis (hidup untuk bersenang-senang). Bahkan, yang kita khawatirkan adalah ateis, tidak mempercayai adanya Allah SWT. Lebih dari itu bahkan dari hasil penelitian, 60 persen anak-anak remaja kita telah melakukan sex bebas, dengan pasangan sejenis maupun lawan jenis. Anak-anak dengan mudah melakukan tindakan kriminal, membunuh orangtua, perundungan, tawuran dan tindakan kriminal lainnya. 

Dewasa ini kondisi akhlak, karakter anak didik kita sangat kritis dan mengkhawatirkan kita semua. Sebab itu, sebagai orang tua dan pendidik di sekolah harus berupaya dengan keras untuk mendidik dengan optimal akhlak anak-anak kita. Ibnu Qoyyim al- Jauziyah, mengatakan bahwa pendidikan  mencakup tarbiyah qalb (pendidikan hati) dan tarbiyah badan. Artinya pendidikan tidak hanya memberikan kesehatan badan saja. Lebih dari itu adalah pendidikan rohani atau hati. Hati anak yang tidak terdidik akan menjauhkan anak dari nilai-nilai adab dan agama.

Pentingnya pendidikan akhlak adalah  tidak hanya membentuk manusia memiliki budi pekerti yang baik, sopan, santun, ramah akan tetapi lebih dari itu adalah bagaimana membentuk anak menjadi manusia memiliki iman yang semakin kuat, hati sabar, ikhlas, dan tangguh  dalam menghadapi persoalan hidup  yang semakin banyak problem dan semakin sulit.

Bagaimana membentuk membentuk pribadi yang sufistik sederhana dan qanaah, jauh dari kesan materialistic dan hedon, dan tidak tergoda dengan rayuan kehidupan duniawi yang dapat menjebak anak  didik kita  pada degradasi moral (rusaknya akhlaknya). Bagaimana pendidikan akhlak yang mampu membentuk anak didik menjadi pelajar yang taat beribadah, disiplin,mandiri, tekun, ulet,  mau belajar  dan bekerja lebih keras keras  untuk menguasai bidang ilmu dan teknologi. Demi menjadikan dirinya bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Bagaimana pendidikan akhlak yang mampu membentuk anak didik menjadi orang yang peka dan sensitif pada kesulitan dan penderitaan hidup orang lain, memiliki jiwa sosial, dan solidaritas  yang tinggi  sehingga mampu menjadikan dirinya sebagai problem solver yang dapat membantu berbagai kesulitan hidup orang lain.

Bagaimana pendidikan ahklak yang mampu menjadikan anak didik memiliki tanggung jawab yang tinggi baik kepada  keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, etos kerja yang baik, kreatif dan inovatif, jujur dan amanah, memiliki hati yang bersih, bijaksana, dapat bekerja sama dengan semua orang serta tidak membedakan siapapun.

Ibnu Arabi mengatakan bahwa manusia memiliki nafsu syahwaniyah, (nafsu yang  cenderung kepada kelezatan jasmaniyah), nafsu ghodlobiyah, (nafsu yang cenderung pada amarah, merusak dan senang menguasai dan mengalahkan  orang  lain dan lebih berbahaya karena  dapat mengalahkan akal. Serta  nafsu nathiqah, ialah nafsu yang  mampu berpikir dengan baik, berdzikir, mengambil hikmah dan memahami fenomena alam. Pendidikan akhlak mengarahkan manusia dapat mengendalikan nafsu syahwaniyah, nafsu ghodlobiyah, dan mengutamakan nafsu nathiqah dalam diri manusia. Sehingga sikap serakah (nafs al-Ammarah) menjadi nafsu yang terkendali (nafs al-Lawwamah), yang kemudian mewujudkan hati yang tenang (nafs al-Muthmainnah)

Abdullah Nashih Ulwan, mengajak orang tua dan pendidik di sekolah harus mampu menjadi teladan dan role model yang baik bagi anak-anak. Tekun membiasakan kebiasan yang baik bagi anak-anak, dan selalu  mengawasi dengan seksama akhlak anak-anak.  Al-Ghazali, ahli sufistik menyatakan bahwa hati dan jiwa anak-anak harus dikosongkan dari akhlak tercela atau takhalli. Selanjutnya melakukan  taubat  dan diisi dengan akhlak mulia atau tahalli. Pendidikan akhlak harus dilakukan dengan Riyaadah yaitu latihan dan pembiasaan akhlak mulia dan dengan mujahadah, yaitu melalui usaha yang sungguh-sungguh.  Dengan muraqabah, adanya keyakinan dalam diri bahwa Allah SWT senantiasa memperhatikan apa yang dilakukan. 

Bahkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Permendikbud RI, no. 20 tahun 2018, pendidikan akhlak/karakter diintegrasikan dengan pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler dan bahkan dalam Kurikulum Merdeka,  anak-anak didik melaksanakan kegiatan-kegiatan projek yang positif melalui program P5 dan PPRA. Yakni, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa terhadap nilai-nilai pancasila dan konsep Rahmatan Lil Alamin.**

*Penulis adalah dosen FTIK IAIN Pontianak.

Editor : A'an
#Pendidikan Akhlak #Era Digital