Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ketenangan yang Menipu: Memahami High-Functioning Anxiety pada Remaja

Miftahul Khair • Kamis, 10 Oktober 2024 | 22:07 WIB
Rivanny Anandia.
Rivanny Anandia.

Oleh: Rivanny Anandia

Kesehatan mental pada remaja merupakan aspek yang sangat penting dan sering terabaikan. Remaja berada pada fase transisi yang penuh tantangan, di mana mereka berusaha menemukan jati diri sambil menghadapi tekanan akademis, sosial, dan teknologi. Dalam situasi ini, kesehatan mental yang baik bukan hanya sekadar tidak adanya gangguan, tetapi mencakup kemampuan untuk mengelola mental, emosi dan stress serta membangun hubungan yang sehat, dan dapat membuat keputusan yang bijak.

High-functioning anxiety (HFA) adalah kondisi di mana seseorang mengalami kecemasan yang berlebihan tetapi masih mampu menjalankan kesehariannya dengan baik. Seseorang dengan HFA mungkin tampak sukses, terorganisir, dan tenang di luar, tetapi di dalam ada perasaan cemas yang bergejolak. Kecemasan ini dikarenakan keinginan besar untuk mencapai tujuan dan berprestasi, mengakibatkan rasa tertekan dan lelah secara mental.

High-functioning anxiety sering kali tidak terlihat karena individu dengan kondisi ini dapat menyembunyikan gejala mereka dari orang lain.
Walaupun High-Functioning Anxiety sering tidak terlihat, tetapi terdapat karakteristik dari pengidap HFA ini. Individu dengan HFA terlihat sukses, terorganisir dalam pekerjaan atau studi mereka, mereka juga mempertahankan kepribadian ramah, loyal, dan ideal dengan citra positif. Selain itu mereka juga tepat waktu dan sangat berorientasi pada detail, penderita HFA cenderung sangat memperhatikan detail dan selalu berusaha untuk tepat waktu dalam segala hal.

High-functioning anxiety (HFA) pada remaja dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti karena adanya tekanan akademis untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi. Selain itu harapan dari orang tua, guru, dan diri sendiri dapat meningkatkan stress dan kecemasan berlebihan karena perasaan harus selalu bekerja maksimal dan perfect. Media sosial juga menjadi faktor penyebab HFA, remaja sering menggunakan media sosial untuk berinteraksi dan mengekspresikan diri bahkan kecanduan akan media sosial.

Media sosial sering menampilkan citra tubuh ideal, pencapaian yang besar, dan sebagainya membuat remaja merasa tidak puas dengan penampilan mereka sendiri sehingga menyebabkan rendahnya rasa percaya diri dan insecure dalam berbagai hal yang ditampilkan di media sosial. Selain itu pola asuh juga turut andil menjadi penyebab HFA, dengan pola asuh yang ketat atau otoriter dapat menciptakan lingkungan yang penuh tekanan bagi remaja, membuat mereka merasa tidak aman untuk berbuat kesalahan atau mengekspresikan diri secara bebas.

High-functioning anxiety (HFA) dapat memiliki dampak negatif yang besar pada remaja, seperti kelelahan mental dan fisik, karena selalu berusaha terlihat baik-baik saja serta tekanan untuk mempertahankan citra positif dan akan berpengaruh pada konsentrasi serta kualitas hidup mereka. Selain itu remaja dengan HFA ini memiliki rasa takut yang berlebihan, mereka cenderung takut untuk mengecewakan orang lain, hal ini biasa disebut dengan istilah “people pleaser”.

Ini bisa mengarah pada pengorbanan kebutuhan pribadi demi memenuhi ekspektasi orang lain. Gangguan tidur, insomnia atau kesulitan tidur adalah gejala umum pada individu dengan HFA. Kurang tidur dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental yang lebih serius, seperti depresi dan gangguan lainnya. Overthinking dan stress berkelanjutan, dengan merenungkan situasi atau masalah secara berlebihan dapat menyebabkan kegalauan dan dampak negatif pada kesehatan mental mereka.

Penting Untuk mendukung remaja dalam mengelola mental dan ketahanan mereka. Terdapat berbagai strategi dan praktik yang dapat membantu mereka mengelola kecemasan, teknik yang efektif seperti mindfulness dan terapi kognitif. Mindfulness adalah teknik untuk membantu seseorang lebih sadar dan fokus pada momen saat ini tanpa terganggu oleh pikiran atau emosi negatif dengan hidup di momen saat ini dapat membantu remaja mengurangi kecemasan dan stress dalam dirinya.

Remaja dapat meluangkan waktu setiap hari untuk meditasi, latihan pernafasan juga diperlukan misalnya mereka bisa melakukan latihan pernapasan dengan menghirup udara dalam-dalam selama empat detik menahan napas selama empat detik dan menghembuskan napas selama empat detik lagi.

Terapi Kognitif Perilaku (CBT) adalah bentuk terapi yang digunakan untuk membantu mengubah pola pikir negatif dengan afirmasi positif. Hal ini dapat digunakan karena cara kita berpikir mempengaruhi bagaimana kita merasa dan bertindak. Misalnya, jika seorang berpikir "Saya pasti akan gagal dalam ujian", maka pikiran tersebut dapat diubah dengan "Saya telah belajar dan melakukan yang terbaik".

Selain itu untuk mengembangkan ketahanan mental pada remaja penting untuk melatih keterampilan coping yang merupakan cara yang dapat kita gunakan untuk mengatasi stres dan masalah sehari-hari, termasuk melakukan kegiatan seperti meditasi untuk menenangkan pikiran, menulis jurnal untuk mengekspresikan perasaan, dan menggunakan teknik pernapasan untuk merasa lebih rileks.

Ketika kesehatan mental remaja terjaga, mereka lebih mampu mengatasi rintangan, berinovasi, dan berkontribusi dengan baik kedepannya. Sebaliknya, jika diabaikan, masalah seperti kecemasan dan depresi dapat menghambat potensi mereka, bahkan menimbulkan dampak jangka panjang yang serius. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, di mana remaja merasa aman tanpa adanya tekanan yang mengganggu kesehatan fisik serta mental mereka sehingga dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal.**

*Penulis adalah Anggota Family Research Center of West Borneo

Editor : Miftahul Khair
#opini #kesehatan mental remaja