Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Karakter Manusia dalam Alquran

A'an • Jumat, 11 Oktober 2024 | 15:00 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

 

Oleh: Sholihin HZ

 

ALQURAN dalam beberapa surat dan ayatnya menyebutkan karakter manusia yang pesannya adalah menjadi pengingat manusia betapa manusia adalah makhluk yang lemah, tidak berdaya dan sejumlah kelemahan lainnya. Pengenalan terhadap tabiat ini mendorong manusia untuk memunculkan tabiat baik atau mahmudah sehingga rekam jejak nantinya adalah mengarah kepada khairul bariyyah.

Berikut karakter sayyiah dari manusia, pertama, lupa dan mudah terlena. Alquran merekam karakter ini sebagaimana dalam Qs. Al A’raf: 179. Kelebihan yang Allah berikan membutakan mereka terhadap ayat-ayat Allah. Ayat-ayat Allah adalah sebagai pengingat manusia. Dinyatakan, “Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”

Kedua, tergesa-gesa dan pendendam

Berdasarkan Qs. Al Isra: 11 dinyatakan, “Manusia (seringkali) berdoa untuk (mendapatkan) keburukan sebagaimana (biasanya) berdoa untuk (mendapatkan) kebaikan. Manusia itu (sifatnya) tergesa-gesa.” Ungkapan bijak menyebutkan hidup adalah bergerak dan berjalan, perjalanan yang sudah ditentukan hal ihwalnya oleh Sang Pengatur Hidup. Jalani hidup dengan cukupkan ikhtiar, jika sudah rezeki, ia akan menemui pemilik rezeki itu.

Ketiga, cenderung pada keburukan. Dua potensi manusia melekat pada dirinya. Kebaikan (takwa) dan keburukan (fujur). Keduanya saling berebut posisi sehingga bisa jadi keduanya akan mendominasi jiwa manusia maka kecenderungan manusia itulah yang menjadi tabiatnya. Firman Allah dalam Qs. Al Qiyamah: 5, “Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.” Salah satu faktor yang mempengaruhi karakter seseorang adalah teman. Dengan siapa ia berteman menjadi faktor yang mempengaruhi cara berpikir bahkan perbuatannya. Seorang yang tumbuh besar dalam lingkungan kebaikan maka kenbaikan inilah yang mendominasi sikap dan perbuatannya demikian juga sebaliknya.

Keempat, terlalu fokus pada dunia. Allah SWT menyebutkan dalam Qs. Al Hadid: 20, “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan.”

Bagi yang memahami hakikat dunia, maka ia tidak lebih hanya sebagai jembatan menuju akhirat. Anehnya, betapa banyak orang yang membangun di atas jembatan seakan itulah kehidupan sebenarnya. Sesuai dengan namanya jembatan maka ia sebatas penghubung ke tempat berikutnya. Menjadikan dunia sebagai tempat untuk menyiapkan dan memperbanyak bekal untuk melanjutkan ke tempat yang kekal.

Kelima, keluh kesah dan kikir. Alquran menyebutkan diantara karakter sayyiah manusia, “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir.”(Qs. Al Ma’arij: 19-20)

Kala diuji dengan kemiskinan ia berkeluh kesah, kala diuji dengan kehidupan serba ada ia cenderung kikir. Sesungguhnya ini bertolak belakang dengan tuntunan Islam sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang menyatakan sesungguhnya dua sikap orang beriman adalah jika diuji dengan kemiskinan maka ia bersabar namun jika diuji dengan kekayaan ia bersyukur. Keduanya adalah baik.

Keenam, tidak bersyukur . Bersyukur menjadi cara agar nikmat yang Allah berikan langgeng dan tetap ada di sekitar kita. Syukur maknanya adalah menampakkan pemberian Allah SWT baik dengan hati, lisan, maupun perbuatan. Karakter negatif ini membuat manusia merasa bahwa jika ia sukses itu semata karena kuliahnya tercepat, IPK-nya tertinggi, teman pergaulannya luas, orang tuanya berkedudukan namun ia lupa semua karena atas kehendak Allah. Orang yang menafikan berbagai kemudahan yang diberikan Allah sama dengan menutup berbagai kenikmatan yang diberikannya. Ketika seseorang tidak bersyukur maka ia telah kufur. Tugas kita adalah bersyukur karena kita tidak mampu menghitungnya (Qs. Ibrahim: 34).**

 

*Penulis adalah Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat.

Editor : A'an
#karakter manusia #alquran