Oleh: Gusti Hardiansyah
UNIVERSITAS Tanjungpura (Untan) tengah bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH), mengikuti tren di kalangan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia yang bertujuan untuk mencapai World University Ranking (WUR). Menurut Brodjonegoro (2024), transformasi ke arah PTN BH memungkinkan perguruan tinggi untuk lebih mandiri dalam pengelolaan akademik dan riset, serta lebih fleksibel dalam mengembangkan inovasi yang berkontribusi pada industri dan masyarakat luas. Untan sebagai salah satu PTN yang tengah berupaya mencapai status ini, berfokus pada riset berkelas dunia dengan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan teknologi.
Pentingnya Riset Dasar untuk WUR
Walaupun UNTAN masih belum menjadi PTN BH, universitas ini sudah mulai mengambil langkah-langkah penting untuk meningkatkan otonomi akademik dan pengelolaan risetnya. Hal ini memungkinkan Untan untuk mempersiapkan riset dasar yang dapat lebih mudah dihilirisasi dan diterapkan dalam dunia industri. Menurut Vannevar Bush dalam bukunya Science, The Endless Frontier (1945), riset dasar merupakan pilar utama dalam inovasi teknologi yang dapat menjawab tantangan global, seperti perubahan iklim, energi terbarukan, dan keberlanjutan lingkungan. Contohnya, teori mekanika kuantum, yang pada awalnya merupakan riset murni, kini menjadi dasar teknologi modern seperti komputer dan telekomunikasi.
Kontribusi Ilmiah dari Fakultas Teknik, Pertanian, Kehutanan, dan MIPA
Fakultas Teknik UNTAN telah menghasilkan berbagai inovasi yang signifikan. Menurut Yusuf (2024), inovasi seperti pengembangan pembangkit listrik tenaga angin untuk daerah terpencil dan teknologi biogas dari limbah kelapa sawit berkontribusi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Selain itu, Untan juga mematenkan teknologi produksi biodiesel menggunakan limbah clay bath sebagai katalis, yang tidak hanya mempercepat produksi biodiesel, tetapi juga membantu mengurangi limbah industri (Herawati, 2024).
Di sektor kehutanan, Untan telah menciptakan alat UBKM (Untan Biomassa Karbon Meter) untuk mengukur karbon biomassa pada pohon tanpa merusak ekosistem. Menurut Hardiansyah (2024), teknologi ini sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya di wilayah tropis seperti Kalimantan. Fakultas Kehutanan juga berkontribusi dalam pengembangan alat Pemadam/Sekat Api, yang inovatif dalam pengelolaan kebakaran hutan di wilayah sensitif.
Fakultas Pertanian Untan berfokus pada pengelolaan lahan gambut dan peningkatan produktivitas pertanian. Penelitian tentang penggunaan lumpur laut sebagai alternatif kapur dalam memperbaiki lahan gambut, menurut Denah Suswati (2024), telah menghasilkan metode yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan untuk meningkatkan kesuburan lahan.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Untan juga memiliki kontribusi penting dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan dan penelitian dasar di bidang ilmu material, bioteknologi, dan sains komputasi. Riset ini berfokus pada pengembangan bahan material baru untuk energi terbarukan dan mitigasi lingkungan (MIPA Untan, 2024).
Inovasi dalam Bidang Humaniora, Pendidikan, dan Sosial
Selain kontribusi dalam bidang sains dan teknologi, Untan juga aktif dalam mengembangkan ilmu-ilmu sosial, ekonomi, hukum, dan pendidikan. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) berfokus pada kajian administrasi publik, pembangunan sosial, dan kebijakan publik yang berdampak langsung pada masyarakat Kalimantan Barat. Menurut FISIP Untan (2024), riset ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola dan pembangunan daerah. Sementara itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untan mengembangkan riset di bidang ekonomi perbatasan dan industrialisasi daerah, dengan tujuan mempercepat pembangunan ekonomi di wilayah perbatasan dan memaksimalkan potensi sumber daya lokal.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan berkontribusi pada pengembangan metode pengajaran dan kurikulum pendidikan karakter yang relevan dengan konteks lokal. Penelitian di bidang pendidikan ini memberikan dampak positif pada peningkatan kualitas pendidikan di daerah-daerah terpencil dan pedesaan di Kalimantan Barat (FKIP Untan, 2024).
Fakultas Hukum Untan berperan penting dalam pengembangan hukum agraria dan lingkungan, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya alam dan hak-hak masyarakat adat. Penelitian di bidang hukum ini mendukung tata kelola yang lebih baik dan keberlanjutan lingkungan, terutama dalam konteks lokal Kalimantan (Untan, 2024).
Hilirisasi Riset sebagai Esensi WUR
Hilirisasi riset merupakan salah satu pilar utama dalam mencapai WUR. Untan telah membuktikan komitmennya melalui hilirisasi berbagai temuan ilmiah, seperti biodiesel dari limbah industri sawit dan pembangkit listrik tenaga angin yang diterapkan di daerah-daerah terpencil. Hilirisasi ini tidak hanya mendukung pengembangan industri hijau, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi tantangan energi dan lingkungan di Indonesia.
Kesimpulan
Transformasi Untan menuju PTN BH memberikan kesempatan lebih besar untuk mengembangkan riset yang berfokus pada hilirisasi dan aplikasi industri. Kontribusi ilmiah dari Fakultas Teknik, Kehutanan, Pertanian, MIPA, Ekonomi, Hukum, dan Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menunjukkan bahwa universitas ini berperan penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Di FKIP, pengembangan metode pengajaran dan kurikulum pendidikan karakter telah memberikan dampak signifikan pada peningkatan kualitas pendidikan, khususnya di daerah-daerah terpencil. Inovasi yang dihasilkan dari riset dasar Untan tidak hanya sebagai modal awal untuk mengukuhkan posisinya dalam World University Ranking (WUR), tetapi juga memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
*Penulis adalah Guru Besar Fahutan Untan
Editor : A'an