Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Keutamaan Duduk di Majelis Ilmu

A'an • Jumat, 1 November 2024 | 14:12 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

 

Oleh: Sholihin Hz

 

SETIAP aktivitas kita akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT. Apakah ia amal baik atau buruk, apakah sudah terlaksana atau belum, apakah sendiri atau berjamaah maka semuanya akan ditanyakan oleh Allah SWT. Namun, yakinlah bahwa kasih sayang Allah lebih mengemuka daripada amarahnya. Murah dan rahmat Allah di atas kemurkaan-Nya.

Dalam buku Nasehat-nasehat Pilihan Jalan Menuju Akhirat karya Ali Hasan Baharun (2014: 288) disebutkan pada sebagian perkataannya tabiin, bahwasanya Allah SWT saat menghisab amal seorang hamba ternyata keburukannya lebih banyak dari pada kebaikannya. Melihat timbangan keburukannya lebih berat dari pada kebaikannya maka ia divonis dimasukkan ke dalam neraka.

Allah SWT seketika memerintahkan malaikat Jibril as, "Wahai Jibril, tanyakan kepada dia apakah dia pernah duduk di majelis ilmu (dengan orang 'alim) di dunia sehingga Aku mengampuninya dengan syafaat orang 'alim itu?" Maka Jibril bertanya kepada orang tersebut dan dia menjawab, "Saya tidak pernah duduk dengan orang 'alim." Lalu Jibril berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau lebih mengetahui keadaan hamba-MU." Allah SWT bertanya lagi, "Apakah dia mencintai orang alim?" Orang itu menjawab, "tidak."

Lalu Allah SWT bertanya lagi, "Apakah dia pernah duduk makan bersama orang 'alim?" Maka Jibril bertanya kepadanya dan dia berkata tidak. Lantas Allah SWT bertanya, "Wahai Jibril, tanyalah dia tentang nama dan nasabnya jika namanya sama dengan seorang 'alim maka dia diampuni?" Jibril pun bertanya kepadanya dan ternyata tidak sama.

Lalu Allah SWT berkata kepada Jibril pun, "Ambillah dia dan masukan ke dalam surga sesungguhnya dia mencintai seorang yang orang itu mencintai orang 'alim, maka dia diampuni dengan berkat orang yang mencintai orang 'alim tersebut."

Mencintai orang 'alim dengan hadir di majelis ilmu mereka termasuk orang yang didoakan oleh malaikat. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud bahwa orang yang menuntut ilmu maka malaikat ikut mendoakan orang tersebut sebagai bentuk sukacita atas aktivitasnya.

Tidak hanya itu, ikan yang di laut ikut mendoakan mereka dan memohonkan ampun. Itulah keutamaan orang yang hadir di majelis ilmu, senang dengan orang yang berilmu meskipun dalam bentuk  dengan mencintai orang yang mencintai orang yang berilmu.

Banyak pembelajaran yang bisa kita renungkan dan menjadi bekal kita saat kita bergaul dengan ahli ilmu dan saat di majelis ilmu, diantaranya majelis ilmu mengajarkan kita untuk duduk berlapang dalam majelis dengan memberi keleluasaan pada orang yang baru tiba.

Berikutnya adalah melatih sikap tawadhu dan rendah hati karena posisinya bukan sebagai pemberi ilmu tapi sebagai penerima ilmu. Tidak semua orang bisa menempatkan diri sebagai murid apalagi track record pembicara sudah diketahui hal ihwalnya.

Pelajaran lainnya adalah belajar untuk menjadi pendengar karena umumnya manusia adalah makhluk yang ingin didengar dan sedikit malas untuk mendengar orang lain.

Dalam majelis ilmu juga kita diajarkan untuk menjadikannya sebagai media menambah pengetahuan yang bisa saja pertanyaan orang lain adalah pertanyaan yang sama dan jika tidak sama tetap akan ada pencerahan di dalamnya.

Imam Yahya bin Mu’adz ar Razi Rahimahullah pernah berkata, “Ilmu adalah petunjuk amal maka tidak akan ditemukan suatu amal tanpa ilmu. Pemahaman adalah penampung ilmu.”

Hadirnya di majelis ilmu adalah diantara media dan sarana untuk terjadinya perubahan sikap. Bukankah perubahan sikap selalu berawal dari perubahan cara berpikir. Pentingnya bergaul dengan orang 'alim adalah sebagai tips dalam rangka menjaga keluhuran akhlak dan perangai kita, dalam istilah lain disebutkan dengan bergaul dengan orang orang saleh atau shuhbatush sholihin.**

 

*Penulis adalah Ketua PC. Pergunu Kota Pontianak & Sekum PW IPIM Kalimantan Barat.

Editor : A'an
#majelis ilmu