Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Peran Strategis Guru dan “Burnout”

Miftahul Khair • Senin, 4 November 2024 | 13:38 WIB

 

Y Priyono Pasti
Y Priyono Pasti

Oleh: Y Priyono Pasti

GURU sangat penting dan strategis dalam proses pendidikan dan pembelajaran tak tersangkalkan. Guru tak hanya memberi informasi kepada peserta didik (transfer of knowledge), tetapi juga membentuk kepribadian dan mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik (transfer of attitudes and values) secara optimal.

Menyadari peran dan fungsinya yang sangat penting dan strategis itu, guru disyaratkan profesional dan mampu menjadi daya ungkit inspirasi peserta didik dan (juga koleganya) dalam rangka optimalisasi kemanusiaan manusia peserta didik serta mewujudkan pendidikan yang menyenangkan, bermutu, dan bermakna.

Tak terpisahkan

Guru dan pendidikan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Pendidikan yang menyenangkan, bermutu, dan bermakna yang memungkinkan peserta didik mampu mengadaptasi, mengantisipasi, dan mengikuti perkembangan zaman hanya mungkin diwujudkan jika ditopang oleh guru yang berkualitas.

Hari ini, di zaman yang terus berkembang dan berubah dengan segala macam dampak ikutannya, guru harus membekali diri dengan seperangkat ilmu pengetahuan (pendidikan) mutakhir yang sesuai dengan perkembangan zaman. Guru dituntut tidak hanya memiliki kemampuan beradaptasi sesaat terhadap perkembangan dan perubahan yang terjadi, tetapi juga kemampuan dan kemauan untuk terus belajar, selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi secara maksimal dan terus-menerus.

Hari ini, para guru dituntut untuk lebih aspiratif, kreatif, eksploratif, proaktif, inovatif, dan inspiratif. Guru sekarang ini bukan zamannya lagi hanya mengandalkan ijazah tanpa membekali diri dengan seperangkat keahlian-keahlian khusus. Ini penting mengingat proses pendidikan dan pembelajaran harus berorientasi pada perubahan masa depan (education must shift in to the future tense).

Di tengah tantangan zaman yang kian sarat dengan rupa-rupa tindakan yang mereduksi dan mendistorsi kemanusiaan manusia kita serta longsoran wibawa nilai-nilai keutamaan hidup yang acapkali jauh dari kepantasan dan keadaban saat ini, guru harus tampil ke depan sebagai pembangkit inspirasi dan pembela nilai-nilai kemanusiaan sejati.

Ketika peserta didik loyo dalam belajar, guru harus tampil sebagai dinamo yang memberikan dorongan hasrat belajar yang kuat. Ketika mentalitas peserta didik mulai digerogoti racun narkoba, gim daring, pergaulan bebas, dan perilaku menyimpang-destruktif lainnya, guru harus tampil sebagai penawar dan penyelamat. Ketika peserta didik membutuhkan figur yang ‘ideal’, sosok guru tampil ke depan sebagai personifikasi nilai-nilai ideal.

Agar optimalisasi proses pembelajaran dapat berlangsung secara sangkil dan mangkus sesuai dengan perkembangan zaman yang terus  berkembang dan berubah saat ini, guru selain harus memiliki kualifikasi, sertifikasi, kompetensi, memiliki kemampuan mendidik, mengajar, melatih, dan memfasilitasi yang aspiratif, kreatif, inovatif, dan profesional, juga harus mampu menginspirasi tidak saja peserta didik tetapi juga koleganya. 

Baca Juga: Kasus Pengadaan Tanah, Terungkap Pembelian Didamping Jaksa

Hari ini, guru mesti menjadi pembangkit inspirasi. Guru yang mampu menginspirasi peserta didik mutlak diperlukan. Sekolah akan lebih mudah untuk berkembang ke arah yang lebih baik di bawah kepemimpinan guru-guru yang inspiratif.

Guru yang inspiratif menyadari betul potensi, kapasitas, atau sumber daya yang dimilikinya dan juga kolega serta peserta didiknya. Dengan demikian, ia akan dengan sangat bersemangat untuk mengajak peserta didiknya dan koleganya untuk belajar lebih bersemangat dan membuat ‘nilai tambah’.

Guru inspiratif pun akan mampu memotivasi peserta didik dan koleganya secara personal sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Peserta didik dan kolega akan merasa “terangkat” dan seolah menjadi “superman” yang selalu merasa mampu untuk melakukan sesuatu dan berbuat lebih. Guru yang inspiratif akan mampu membuat peserta didik dan koleganya untuk menghargai dirinya sendiri (bdg. Eileen Rachman, 2006).

Stres tinggi

Di tengah beragam tantangan dan tuntutan administratif yang mesti dituntaskan serta beban tugas yang harus diembannya setiap hari dalam proses pendidikan dan pembelajaran, tak jarang guru mengalami masalah serius pada kesehatan mentalnya. Tanpa disadari, para guru rentan menghadapi kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental alias burnout.

Profesi guru memiliki tingkat stres sangat tinggi. Sebagaimana yang diingatkan Eva Oberle, penulis utama di sejumlah riset tim di Universitas British Columbia, Kanada, dari sejumlah studi penelitian terkini, mengajar adalah salah satu profesi yang paling menegangkan.

Mengutip data hasil survei lembaga riset internasional Research and Development (RAND) Corporation tahun 2022, sebanyak 73 persen guru melaporkan kerap mengalami stres terkait pekerjaan. Data lain menunjukkan, 59 persen guru merasa terkena burnout dan 28 persen lainnya mengaku mengalami gejala depresi. Survei juga mengungkap 77 persen guru merasa kondisi kesehatan mental mereka yang buruk berdampak negatif pada kesehatan mental siswa, dan 85 persen menyatakan hal itu memengaruhi perencanaan pembelajaran mereka.

Kondisi kesehatan mental guru yang demikian, tentu sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan dan pembelajaran. Tanpa kualitas kesehatan mental yang mumpuni, seorang guru tak bisa optimal memberikan layanan pendidikan yang menyenangkan, bermutu, dan bermakna kepada siswanya.

Terkait gangguan kesehatan mental di kalangan guru ini, psikolog dan dosen Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya, Naila Kamaliya, memaparkan, burnout pada guru kerap muncul dari tekanan pekerjaan tinggi dan kurangnya dukungan di lingkungan kerja.

Menyadari betapa pentingnya kesehatan mental di kalangan guru ini, upaya menjaga kesehatan mental amat penting agar guru tetap bisa memberikan yang terbaik bagi siswa. Mengkristalisasikan ketua Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Ardyles Faesilio (2024), upaya untuk menghindari burnout di kalangan guru adalah menekankan pentingnya dukungan bagi para guru agar mereka mengenali gejala burnout sedini mungkin agar bisa dicegah dan ditangani dengan baik.

Selain itu, perlu pemahaman komprehensif terkait pentingnya menjaga kesehatan mental guna mendukung tugas guru sebagai pendidik agar lebih optimal. Perhatian pada kesehatan mental di tempat kerja menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga keseimbangan emosi dan mental, khususnya di lingkungan sekolah yang penuh tantangan.

Burnout pada guru tak hanya tentang lelah fisik, tetapi juga tekanan emosional yang sering terabaikan. Iklim kelas yang menegangkan akibat kurangnya dukungan bagi guru memengaruhi kemampuan guru mengelola siswanya secara efektif. Kelas yang dikelola dengan buruk menyebabkan kebutuhan siswa tak terpenuhi dan meningkatkan stres.

Catatan penutup

Guru adalah ujung tombak pendidikan di sekolah. Tanpa kesehatan mental yang baik, seorang guru tak bisa optimal mendidik siswanya. Oleh karena itu, mari kita saling memberikan semangat, dukungan, berkerja sama, berkolaborasi, dan bersinergi agar kita mampu menjaga kesehatan mental kita sebagai guru.

Mari kita senantiasa merawat dan menjaga kesehatan mental kita. Dengan memiliki kesehatan mental yang prima, guru bisa tetap fokus, penuh energi, dan bersemangat menginspirasi generasi penerus peradaban bangsa. Semoga demikian!

*Penulis adalah Alumnus USD Yogya Pegiat dan Pemikir Pendidikan Tinggal di Pontianak - Kalbar

Editor : Miftahul Khair
#opini #peran strategis #guru