Oleh: Rosadi Jamani
Di tanah zamrud khatulistiwa ini, di bawah kanopi hutan yang berusia ribuan tahun, flora dan fauna menjalin simfoni kehidupan yang saling menyokong. Namun, Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) pada 5 November kemarin seolah hadir bukan lagi sebagai perayaan sederhana, melainkan sebuah seruan pilu yang memohon kesadaran dan tindakan nyata dari umat manusia. Sudah terlalu lama alam menunggu dalam diam, menyaksikan kemegahannya dikikis secara perlahan. Bagaimana tidak, Indonesia yang dikenal sebagai paru-paru dunia ini justru menjadi saksi dari berbagai ironi yang menyayat hati.
Pada momen ini, perlu disadari bahwa kekayaan hayati Indonesia bukan sekadar catatan statistik atau sekadar angka dalam laporan tahunan. Dari data yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2023, ditemukan 49 taksa baru. Rincian tersebut sungguh mengesankan: 1 marga, 38 spesies, dan 2 subspesies fauna; serta 7 spesies flora, dan 1 spesies mikroorganisme. Tetapi, apakah sekadar menambah angka dalam daftar taksonomi akan menyelamatkan keberadaan mereka?
Satwa yang Terasing di Tanah Sendiri
Lihatlah ke negeri Kalimantan Barat, di mana harapan menyala-nyala untuk mempertahankan pesona alam ini di tengah kepungan ambisi manusia. Di sana berdiri pohon tengkawang (Shorea spp.), maskot kebanggaan Kalimantan yang dulu memenuhi hutan-hutan, menghasilkan minyak nabati yang berharga. Namun kini, keanggunannya semakin terkikis oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab yang menginginkan kayunya. Mereka mungkin lupa, atau mungkin tak mau ingat, bahwa setiap pohon Tengkawang yang tumbang membawa serta bagian dari jantung ekosistem yang lebih besar.
Di Taman Nasional Danau Sentarum, Lutung Sentarum (Presbytis chrysomelas cruciger) bergelayut di ranting-ranting hutan yang kian habis tergerus. Satwa endemik yang berdiam di wilayah ini telah menjadi saksi hidup dari penyusutan lahan akibat pembukaan perkebunan dan penebangan liar. Tragisnya, hewan-hewan ini tidak memiliki daya untuk menuntut kembali hak mereka atas tanah yang selama ini menjadi rumah mereka.
Ironi sang Raja Hutan
Beralih ke figur megah lainnya, orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang selama ini menjadi simbol kebanggaan Nusantara. Spesies ini kini terpojok dalam habitatnya sendiri, hanya tersisa 55.000 individu di alam liar, menyusut hingga hampir setengah dari jumlah populasi enam puluh tahun yang lalu. Raksasa lembut ini mungkin tak mengerti mengapa habitat mereka habis demi perkebunan sawit yang terus meluas. Mereka tak mengerti mengapa manusia memilih menebang pohon-pohon besar tempat mereka berteduh dan beranak-pinak. Mereka hanya menjadi penonton dalam drama penyusutan habitat yang dimainkan oleh manusia.
Sementara itu, di sungai-sungai deras Kalimantan, Katak Kepala Pipih (Barbourula kalimantanensis) yang unik dan langka berjuang bertahan. Dikelilingi oleh suara pembangunan dan kehancuran habitat akibat bendungan serta lahan pertanian, satwa kecil ini berada di ambang kehilangan rumah. Mungkin saja, suatu saat nanti, manusia akan merindukan suara riuh katak-katak ini, namun ketika itu terjadi, mungkin semuanya sudah terlambat.
Dari pepohonan hingga air, kepunahan juga mengancam Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) yang berenang di aliran Sungai Mahakam. Mamalia air yang kian langka ini kini tergencet oleh perubahan lingkungan, perburuan, dan rusaknya habitat alami mereka. Pesut-pesut ini mungkin telah menyaksikan perubahan besar di Mahakam, menyaksikan penumpukan sampah dan semakin menghitamnya air sungai. Mereka berenang dalam keruhnya air yang dulu mungkin jernih, tanpa menyadari bahwa setiap putaran sungai bisa jadi perjalanan terakhir mereka.
Dalam keheningan hutan-hutan Kalimantan Barat, berbagai flora langka seperti Vatica rynchocarpa, Vatica havilandii, dan Vatica cauliflora berakar kuat, namun terancam hilang dalam senyap. Fragmen-fragmen hutan yang tersisa di sepanjang hulu Sungai Kapuas menyimpan tiga spesies ini sebagai sisa-sisa yang nyaris punah. Apakah kita akan tetap berpaling ketika mereka benar-benar sirna dari pandangan?
Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional ini hadir sebagai lonceng yang mengingatkan bahwa tindakan nyata harus dimulai sekarang. Kekayaan hayati bukanlah sekadar harta untuk dikuras atau estetika untuk dikagumi dari jauh. Ia adalah rantai yang merajut semua kehidupan, menghubungkan manusia dengan alam, dan memberi setiap makhluk hidup tempat yang layak di muka bumi ini.
Kita perlu merenung dan berhenti sejenak dari hingar bingar pembangunan yang tiada ujung, yang sering kali menyisihkan suara-suara alam. Adakah yang mampu mendengar erangan orangutan, tangis hening lutung, atau desir sayap enggang yang semakin langka?
Para pemangku kebijakan, kaum akademisi, aktivis lingkungan, dan masyarakat pada umumnya, harus menyadari bahwa setiap hewan dan tumbuhan yang terancam punah ini adalah pengingat akan kealpaan kita. Mereka tidak memiliki suara untuk meminta pertolongan, tidak memiliki panggung untuk memohon belas kasih. Hanya kita, manusia, yang dapat menjadi suaranya.
Puspa dan Satwa dalam Cengkraman Kealpaan
Di hari yang khusus ini, kita diingatkan bahwa masa depan puspa dan satwa Indonesia bukanlah sebuah kepastian jika kita terus lalai dan hanya menggelar peringatan tanpa aksi nyata. Apa gunanya menambah daftar spesies baru jika kelak semuanya akan tertulis dalam daftar spesies yang punah? Apakah kita ingin meninggalkan dunia kepada anak cucu kita dengan cerita tentang, “Dulu ada orangutan di hutan ini,” atau “Pohon tengkawang pernah berdiri megah di sini.”
HCPSN seharusnya mengembalikan kita pada hakikat, manusia tak hanya penguasa alam, namun penjaganya. Mari gunakan momen ini untuk melakukan refleksi bersama, menghormati setiap daun dan cakar, setiap helai bulu dan serat kayu, setiap sayap dan sirip yang menari dalam keindahan Nusantara ini. Mari hentikan pembiaran dan penjarahan ini, sebelum kita menemukan diri kita di puncak penyesalan yang tak terhingga, menyesali hari ketika puspa dan satwa terancam hilang dari negeri ini.
Seperti kata pepatah: “Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita hanya meminjamnya dari anak cucu kita.”**
*) Penulis adalah dosen UNU Kalimantan Barat.
Editor : A'an