Oleh: Abdul Hamid
Menabung di “Bank Opini”? Apakah ini sejenis bank baru, muncul dalam era presiden baru? Dan apakah bisa menabung opini? Bukankah yang namanya bank itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah badan usaha di bidang keuangan yang menarik, dan mengeluarkan uang dalam masyarakat, terutama memberikan kredit, dan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang?
Hanya itukah makna bank? Sepertinya tidak juga. Kalau dilihat dari perkembangan penggunaan kata bank dalam dunia baca tulis, ternyata cukup banyak ikutan dari kata bank yang pernah atau mungkin pernah dibaca, yang tak ada hubungannya dengan uang, diantaranya bank mata, bank data, bank sperma, dan bank soal. Jadi rasanya tak salah ya kalau dimunculkan melalui harian utama dan terutama di Kalimantan Barat(Kalbar) ini: Bank Opini.
Definisikan sajalah bank opini itu sebagai pusat penyimpanan tulisan-tulisan opini dalam media cetak atau media sosial, atau lebih khusus lagi media harian/mingguan cetak maupun digital. Ada yang sepemikiran?
Mulai menulis dalam media cetak sejak pertengahan tahun 1979, setelah menyelesaikan pendidikan program magister di satu perguruan tinggi internasional di Bangkok-Thailand. Kala itu tak banyak mereka yang lulusan magister di Kalbar, di Universitas Tanjungpura(UNTAN) khususnya. Mungkin pada saat itu, masih terbatas yang bergelar M.Eng(Master of Engineering). Gelar ini terasa aneh didengar ketika diucapkan kala itu. Program studi yang diikuti adalah Structural Engineering& Mechanics, utama yang berhubungan dengan gerak dinamis bangunan, terlebih khusus lagi gerak dinamis bangunan akibat gempa bumi.
Awal mengirim tulisan dalam harian Pontianak Post(P Post), yang dulunya dikenal dengan Harian Akcaya, yang berkantor di Komplek Sudirman Pontianak, adalah mengenai gempa bumi. Walaupun pada saat itu Kalbar belum termasuk wilayah gempa. Ketika ada peristiwa gempa bumi besar di tanah air, dikirimlah tulisan yang berkaitan dengan gempa bumi itu.
Pesatnya pembangunan di Kotamadya Pontianak waktu itu, menimbulkan pula sejumlah permasalahan teknik sipil umum di wilayah kota, diantaranya persoalan rumah toko (ruko) berbentuk “kotak sabun”, parit yang kian banyak tertutup, drainase, penurunan bangunan, jalan/jembatan tol Kapuas, dan Landak, dan sejumlah permasalahan infrastruktur teknik sipil umum lainnya, termasuk juga permasalahan lingkungan hidup yang kian kentara sejak tahun 1982. Sebut sajalah pencemaran udara dari pabrik karet di dalam kota, pencemaran air sungai, parit, dan dari rumah potong hewan. Menjelang atau sesudah hari-hari besar Islam, dikirim juga tulisan yang berhubungan dengan hari-hari besar itu.
Sehubungan dengan jumlah sarjana teknik sipil juga belum banyak, maka oleh wartawan harian ini kala itu, diantaranya Bapak Yasmin Umar, dan Nur Iskandar, selalu dijadikan nara sumber wawancara dari kalangan akademis ketika ada persoalan pembangunan di Pontianak khususnya/Kalbar umumnya. Disamping itu, menyempatkan diri menulis opini ataupun kolom, guna melengkapi hasil wawancara, atau khusus.
Paling banyak tulisan, dan wawancara koran/TV adalah dalam era akhir 1990 sampai 2010-an. Opini dan kolom yang ditulis pun menjadi bervariasi. Selanjutnya sejak 2010-an sampai saat ini, tetap menulis tetapi dengan frekuensi yang kian berkurang seiringan dengan pertambahan usia.
Umumnya tulisan yang dimuat, disimpan dengan cara di kliping atau dengan menyimpan lembaran korannya.
Ketika mengkliping tulisan menjelang usulan ke jabatan akademis Guru Besar/Profesor pada tahun 1998, baru tersadar bahwa ternyata cukup banyak tulisan yang ditabung dalam “Bank Opini” harian ini. Pada saat itu juga belum terpikir untuk membukukan tulisan tersebut, karena masih ada sejumlah kesibukan di Untan sampai tahun 2018. Namun, pada tahun 2008 beberapa waktu setelah dibukanya Program Studi Magister Teknik Sipil Untan, menyempatkan diri menyusun buku cetak pertama berjudul Permasalahan Perkotaan-Alternatif Solusi, penerbit Untan Press. Buku ini diedarkan terbatas di lingkungan Fakultas Teknik Untan. Isi buku sebagian besar merupakan kumpulan tulisan opini dalam harian ini, dipilih yang ada kaitannya dengan infrastruktur.
Menjelang memasuki usia purna tugas, pensiun, mulai 1 Agustus 2020, dalam usia 70 tahun, disusunlah buku Otobiografi: Abdul Hamid, 70 Tahun Perjalanan, dan buku agama berjudul Janganlah Kamu yang diterbitkan tahun 2020 di Yogyakarta, serta juga satu buku hasil riset yang papernya dimuat dalam laman Researchgate.net, dengan jumlah pembaca saat itu lebih dari 6.000 orang, terkategori most reads. Awal November 2024 ini mencapai 11.996 reads. Buku ini berjudul Kegagalan Bangunan Pelindung Pantai, Studi Kasus Pantai Utara Kalimantan Barat, disusun bersama Bapak Dr. Eng M. Meddy Danial ST.,MT ., dosen Fakultas Teknik Untan.
Pada tahun 2023 diterbitkan buku Kumpulan 49 Kolom Serius Santai 1. Kata Pengantarnya oleh Bapak Djunaini Ks, jurnalis senior Kalbar, dan komentar teman sejawat Prof. Dr. H. Chairil Effendy,MS, dan Prof Dr, H. Eddy Suratman SE, MA.
Pada tahun 2024 ini, diterbitkan tiga buku, yakni Kumpulan 49 Kolom Serius Santai 2, kata pengantar oleh Bapak Prof Dr. H. Syarif Ibrahim Alqadrie, MSc, yang cukup menarik. Diterbitkan di Bandung. Ada juga buku keterkaitan infrastruktur Pelabuhan dan Teknik Sipil Umum, ditulis bersama Bapak Kapten Daniel Burhanuddin, pengusaha sukses Batam asal Singkawang. Dan, buku terbaru pada September 2024, berjudu; Permasalahan Infrastruktur Teknik Sipil Perkotaan. Kata Pengantar buku ini oleh Bapak Iskandar Zulkarnaen, ST., MT selaku Kepala Dinas PUPR Prov. Kalbar, dan komentar profesional dari Bapak Ir. Herman Sapar, purnatugas dosen Fak. Teknik Untan yang juga pengusaha jasa konstruksi di Pontianak/Kalbar serta pengurus HAKI Pusat wilayah Kalimantan. Terima kasih kepada Bapak-Bapak yang berkenan memberikan sumbangsih tulisan dalam buku-buku di atas.
Semua buku-buku tersebut telah diluncurkan secara resmi oleh yang mewakili Rektor Untan, yakni Ibu Dr. Nurmainah, S.Si., M.M., Apt, Direktur Pascasarjana UNTAN pada Rabu 20 Oktober 2024. Dalam kesempatan peluncuran itu hadir pula dari P Post Bapak Heryanto sebagai Pemimpin Redaksi- yang memberikan sambutan, dan Sekretaris Redaksi Bu Silvina, dan seorang peliput/jurnalis.
Ternyata “menabung Opini” di Pontianak Post telah menghasilkan lima buah buku untuk konsumsi publik. Buku-buku berikutnya? Tunggu sajalah, karena masih banyak kumpulan “tabungan Opini” di harian ini yang “sudah ditarik” dan siap disusun. Semoga saja Yang Mahakuasa masih memberikan kesehatan fisik, dan rohani untuk dapat kembali menyusun/menerbitkan buku, dan menulis dalam harian ini.
Terima kasih kepada seluruh pengasuh harian P Post yang sejak 1980 an sampai saat ini masih menerima “tabungan” Saya. Ternyata menabung di Bank Opininya P Post sangat bermanfaat. Mari sama-sama beropini yang nyata, dan baik untuk kemajuan Kalbar khususnya dan Indonesia umumnya. Ada baiknya para pemimpin daerah membuat Bank Opini, yang tentunya bisa dijadikan referensi dalam membangun daerah masing-masing.**
*Penulis adalah purnatugas dosen Fak Teknik UNTAN sejak 2020, pemerhati masalah teknik sipil, infrastruktur, lingkungan hidup.
Editor : Miftahul Khair