Oleh: P Adrianus Asisi
DI mana pun, guru sangat diperlukan. Di sekolah yang merupakan rumah kedua, di lingkungan sekitar tempat tinggal kita, bahkan di rumah kita pun ada guru. Kemajuan teknologi juga menghadirkan guru-guru elektronik bagi diri kita misalnya televisi, media cetak, HP android, dll. Ketika bom atom sekutu dijatuhkan di Jepang, Kaisar Jepang menanyakan berapa guru yang selamat.
Beberapa terminologi mengurai kata guru tersebut antara lain: ‘digugu lan ditiru’ artinya dijadikan panutan untuk dijadikan contoh. Guru dari bahasa Sansekerta yang berarti pengajar. Dalam Kitab Suci Hindu, guru dari kata gu berarti kegelapan, dan dari kata ru berarti cahaya, sehingga guru ialah orang bijak yang membimbing murid dari gelapnya ketidaktahuan (avidya) menuju pada cahaya pengetahuan (vidya)’. Lalu, dalam alkitab guru disebut sebagai Rabi.
Berpijak dari uraian di atas, maka guru memiliki pengertian yang sangat luas dan siapa saja, tanpa memandang dari mana dan kapan saja. Dalam UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat 1, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Ini berarti guru memiliki peran yang sangat strategis dan merupakan profesi mulia.
Meski demikian, guru perlu sebuah paradigma yang baik dalam membelajarkan murid-muridnya agar tidak asal jadi atau guru karbitan dan asal comot. Perlu persiapan mental dan spiritual untuk menjadi guru yang baik. Lebih-lebih bila ingin menjadi guru yang idolakan oleh murid-muridnya. Merenungi guru adalah sebuah profesi yang mulia, maka perlu kiranya menjadi guru yang benar-benar dicintai, digugu lan ditiru bahkan diidolakan murid-muridnya.
Sebuah refleksi untuk menggugah keguruan kita di tengah tantangan arus globalisasi dan kapitalisme, ego sektoral, menghujamnya individualistik pun sampai di relung rumah kita ini, perlu kiranya kita menjadi digugu lan ditiru agar menjadi guru merdeka, agar menjadi guru idola bagi semua murid dan sahabat kita. Kiat menjadi guru merdeka melalui 5M berikut.
M pertama, Memiliki paradigma bahwa guru sebagai coach (pelatih) bukan sebagai pengajar (teaching). Karena dengan menjadi pelatih berarti guru disebut sebagai master. Dengan cara pandang sebagai pembelajar guru menjadi seorang yang memiliki mental egaliter dan terpercaya, memandang murid sebagai makhluk yang unik dan memiliki kompetensi awal yang dalam pandangan konstruktivisme, bahwa murid sudah memiliki pengetahuan awal, bukan kertas kosong yang harus dicoreti oleh omelan ceramah guru. Guru dan murid adalah mitra sejajar dalam pembelajaran yang saling menghormati dan menghargai untuk kemajuan dan perkembangan bersama. Murid adalah subjek pembelajaran.
M kedua, yaitu Menjadi guru Biofili dari pada guru Nekrofili. Amir (2006;21) dalam bukunya yang berjudul, “Menjadi Guru Idola” menguraikan karakteristik guru biofili, yaitu dalam pengajarannya dilakukan dengan konsep hadap masalah (memecahkan masalah, pen), di mana guru berperan sebagai fasilitator dan mitra belajar murid. Mengutip pengerti dalam konsep filsafat Erich Fromm lebih lanjut dia menjelaskan bahwa pengajaran biofili diartikan sebagai cara pengajaran yang mengedepankan nilai-nilai dan jiwa yang hidup, dengan cinta dan kasih sayang. Guru biofili memandang murid sebagai subyek dan pembelajarannya penuh makna
Sedangkan, guru Nekrofili berarti pengajaran yang dilakukan dengan konsep ‘Bank’. Guru menjadi investor atas hafalan-hafalan untuk murid, yang harus dikeluarkan kembali sebagai tabungan pada saat ulangan atau ujian. Guru nekrofili diartikan sebagai cara pengajaran yang menutupi jiwa seseorang, tanpa rasa cinta dan kasih sayang. Guru Nekrofili memegang pendidikan sebagai sistem bank (Banking Concept Education), murid adalah obyek, dan pengajarannya tanpa makna.
M ketiga, Murah senyum dan memiliki selera Humor. Senyum adalah bahasa dunia. Jika tidak padai humor bisa dilatih, misalnya membaca buku homor. Senyum wujud dari rasa saling menghargai dan saling percaya antara guru dan murid. Senyuman merupakan ungkapan kebahagiaan yang akan memberikan roh motivasi dan gairah kepada murid untuk terpacu belajar. Tidak hanya dikelas, senyuman bisa ditawarkan kepada para murid setiap saat, sebagai ungkapan rasa gembira dan suka cita kita sebagai guru yang pasti akan digugu lan ditiru.
Berikanlah senyuman yang tulus kepada setiap murid, mereka akan membalasnya dengan kebaikan atau bisa jadi dibalas dengan senyuman pula. Jalanilah hari-hari mengajar kita yang diawali dengan sebuah senyuman dan sapaan cinta kasih. Ahli kejiwaan berkata, tersenyumlah minimal 15 kali per hari maka kita akan terhindar dari stres atau depresi. Demikian juga dengan humor, karena dapat mengusir jenuh dalam interaksi di manapun itu termasuk di ruang kelas. Humor tentu humor yang sesuai dengan norma-norma, nilai-nilai ketimuran atau konteks Indonesia dan tentu mendidik. Berikan senyuman dan berbahagialah hari ini siapa tahu hari ini adalah hari terakhir kita bersama orang-orang di sekitar kita.
M keempat, Menjadi guru merdeka. Merdeka berarti bebas. Guru memberikan kebebasan kepada murid untuk berekspresi. Ki Hadjar Dewantara dalam pidatonya dalam peresmian lahirnya Tamansiswa di Jogjakarta, 1928, yaitu, “Pengajaran dan Pendidikan adalah sarana penyebarluasan benih hidup merdeka (bebas) di kalangan rakyat. Artinya, pengajaran di kelas merupakan suatu proses pembebasan. Tugas pengajaran dan pendidikan adalah membebaskan murid dari kebodohan pikiran dan akal, agar menjadi manusia bebas terutama kecerdasan, perilaku dan aklak mulia. Kini, guru merdeka sebagai pengendara kurikulum merdeka.
M kelima, Menguasai materi ajar, wawasan luas, tidak gagap teknologi, memiliki motivasi dan etos mengajar yang tinggi dan bahagai saat mengajar. Semangat yang membara dan antusias saat mendampingi murid di kelas menjadi syarat utama menjadi guru yang diidolakan murid. Murid akan termotivasi jika melihat gurunya semangat dan sebaliknya. Hal ini selaras dengan pameo klasik bertutur, ‘guru kencing berdiri dan murid kencing berlari’. Artinya, jika guru menampilkan hal-hal yang baik dalam bersikap dan pola tingkahlakunya serta memiliki semangat mengajar yang membara, maka murid akan menirunya, karena guru adalah digugu lan ditiru.
Akhirnya, sudahkah kita sebagai guru memiliki karakteristik di atas? Adakah karakteristik di atas dimiliki oleh guru elektronik, cetak, guru di rumah kita, guru di sekitar tempat tinggal kita dan guru di sekolah kita? Atau guru di kelas kita? Jika belum, kita tetap menjadi seorang guru terutama menjadi guru bagi diri sendiri. Harapan kita bersama bahwa kita terus maju agar menjadi guru merdeka. Semoga.
*) Penulis adalah Guru SMP dan SMA Santo Fransiskus Assisi Pontianak Alumnus TEP FKIP UNTAN, Kalbar.
Editor : A'an