Oleh: Khairul Fuad
Judul mengingatkan kerja beserta kinerja Badan Pusat Statistik (BPS) yang akrab dengan angka untuk menentukan, di antaranya fluktuasi ekonomi. Pontianak skup regional dan Kalbar skup lokal, termasuk skup nasional selalu kait-terkait dengan angka. Melalui spesifikasi hitungan angka, BPS dapat menyuguhkan informasi kondisi terkini sebuah masyarakat sekaligus panduan (guidance) arah berikutnya demi peningkatan kesejahteraan yang lebih baik.
Angka sebagaimana wacana kerja BPS, sangat terkait dengan konsep kuantitas untuk memperoleh sebuah parameter. Sementara itu, sastra sebagai bagian rumpun humaniora lebih terkait, alih-alih biasanya konsep kualitatif. Unsur imajinasi kreatif menjadikan sastra biasa berelasi dengan konsep tersebut. Upaya deskripsi pada unsur sastra selama ini memberi efek domino terhadap apresiasi berujung deskripsi juga. Di sisi lain, justru memunculkan karya lain sebagai irisan atau tolok-ukur (benchmark) batu loncatan karya sastra baru.
Kata-kata dalam sastra ternyata bukan semata membangun deret rasa dalam wacana, melainkan deret angka yang justru membangun wacana berbeda. Tampaknya, deret angka pada sastra, baik sinkronis maupun diakronis, tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi. Upaya-upaya teknologi informasi selama ini telah berpengaruh signifikan terhadap aspek-aspek kehidupan, termasuk aspek sastra dan kesastraan.
Apapun tampaknya berelasi terhadap teknologi informasi (information technology) dengan berbagai model aplikasi untuk memudahkan operasional. Semakin tampak kuat melalui fenomena kecerdasan buatan (artificial intelegent, dzaka’ istina’i), yang awalnya tidak mungkin, kini memungkinkan hanya dengan kata kunci (key word). Cukup menuliskan keinginan melalui beberapa kata kunci, sebuah syair maupun pantun terpampang dalam layar chatgpt. Unsur sastra dan kesastraan mudah memunculkan wacananya dengan cukup klik.
Demikian juga, melalui teknologi informasi, analisis kreatif terpumpun pada sastra dan kesastraan dapat diterapkan secara sangkil-mangkus (efektif-efisien). Platform teknologi informasi, digital humanity, tampaknya memberikan panduan (guidance) sastra dan kesastraan ke arah tertentu sesuai tujuan dalam rumusan. Panduan ini yang kemudian digunakan oleh Martin Suryajaya untuk meneropong sastra dan kesastraan negeri ini secara massif melalui pemanfaatan teknologi informasi.
Akhir-akhir ini, sosok Martin Suryajaya tengah viral, istilah milineal atau buah bibir, istilah kolonial. Di mana-mana diminta berbicara terkait sastra, yang selama ini diketahui, melalui temuan dan tawarannya terhadap perkembangan sastra negeri ini. Bahkan, universitas terkemuka negeri ini merasa perlu mengundangnya untuk orasi ilmiah terkait temuan kajiannya. Jaminan dan parameter ilmiah kajiannya sudah mencapai maqom validitas melalui norma-norma ilmiah semestinya meskipun universitas terkemuka ini sempat terlilit duri dalam daging.
Tampaknya, ada upaya jalan lain pendekatan yang selama ini konvensional terhadap karya sastra. Tidak lagi deret kata berujung rasa terpumpun penafsiran, tetapi sastra dalam deret angka sebagai data memunculkan penjelasan. Sebagai sebuah kajian sastra tidak terlepas dari proses ketegangan antara konvensi dan inovasi. Kebaharuan (novelty) sebagai langkah yang diupayakan untuk alasan agar terjadi keberlanjutan, tidak mengalami kejumudan.
Era milineal seiring perkembangan massif teknologi informasi, telah menggeser paradigma kolonial cenderung konvensional. Keniscayaan keberlanjutan, nyatanya menimpa dunia sastra dan kesastraan di negeri ini, berbasis teknologi informasi. Karya sastra dengan pengarang siapapun mudah ditemukan melalui peranti lunak, berupa mesin pencari kata. Selanjutnya, data yang diinginkan pun dapat diperoleh dan dikoleksi dengan mudah.
Termasuk, repositori digital semakin memanjakan pencarian data untuk segala tujuan, tentunya tujuan kajian sastra melalui pemanfaatan teknologi informasi. Limpahan data tersebut sebagai populasi pada gilirannya mudah menentukan sampel sesuai variabel yang telah ditentukan dalam wacana sastra dan kesastraan. Kecenderungan sastra pada dimensi ruang dan waktu tertentu dapat diketahui penjelasan idealismenya berbasis persentase yang didapat.
Tak kalah penting, mesin peranti lunak sebagai alat pengolah koleksi data sesuai tata-kelola tahapan yang harus diperhatikan. Voyant Tool, Infranodus, dan Ghepi merupakan aplikasi gratis, sedangkan Nvivo dan Tableau aplikasi berbayar (Salindia, Suryajaya). Peranti-peranti tersebut yang tersedia melalui tautan guna olah koleksi data sesuai tujuan kajian dalam rumusan masalah. Diperkirakan demi kinerja yang sangkil-mangkus dari limpahan data bersumber dari karya sastra yang muncul, baik dalam dimensi ruang maupun waktu.
Kontekstualisasi masa seperti tuntutan untuk padu-padan dengan teknologi informasi yang massif. Sastra identik deret rasa harus berubah deret angka melalui data kata yang dituju. Hanya saja keidentikan itu potensi meluruh, sedangkan sastra ada rasa tertinggal melalui intimasi bukan partisi sebab membaca jauh (distant reading). Dimensi gerak ruang dan waktu seperti memaksa meninggalkan yang seharusnya tetap tertinggal, seperti unggkapan Jawa, wayahe-wayahe.
Apalagi koleksi data secara digital, mengingatkan pernyataan narasumber, praktisi digital KNAW terkait data raya saat zoom Kerlis Agama dan Budaya PR MLTL. Pernyataannya bahwa negeri ini masih jauh dari kata kedaulatan data maka data sastra masih dapat terjamin keamanannya sebagai ajuan pertanyaan dan data itu sendiri penanda identitas. Sementara itu, negeri ini masih disibukkan upaya berkelanjutan kedaulatan pangan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat negeri ini.**
*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).
Editor : Miftahul Khair