Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ketika Nikmat Menjadi Azab

Miftahul Khair • Jumat, 6 Desember 2024 | 17:04 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

Oleh: Sholihin HZ*

 

Sederhananya, nikmat diartikan sebagai karunia Allah SWT kepada makhluk-Nya. Dalam konteks ini, nikmat yang diberikan adalah tanpa batas dan untuk semua makhluk. Satu saja nikmat yang diberikan Allah khusus hamba-Nya yakni nikmat iman dan keyakinan akan rukun iman lainnya.

Sejarah mencatat manusia-manusia yang diberikan kemuliaan baik dengan kekayaan (hartawan), kedudukan (pangkat dan jabatan), ilmu (gelar akademik) dan kekuasaan ada yang menggunakan kenikmatan tersebut sebagaimana kehendak Sang Pemberi Nikmat namun sejarah juga mencatat Fir'aun yang dibinasakan Allah karena kekuasaannya, Qarun ditenggelamkan ke bumi karena kekayaannya dan lainnya.

Hakikatnya kelebihan nikmat adalah sebagai ujian, hanya cenderung penikmatnya tidak memahaminya sebagai ujian dan karena kecenderungan manusia yang namanya ujian adalah kemiskinan dan kekurangan. Nikmat yang diberikan apapun hakikatnya adalah mendidik dan menuntun makhluknya untuk memposisikan diri agar selalu menjadi manusia yang bersyukur. Syukur lawannya kufur. Dengan demikian adanya nikmat bisa membuat orang agar menjadi hambanya yang pandai atau atau malah menjadi kufur, disinilah makna kufur nikmat.

Allah SWT menyatakan ujian bisa merupakan kenikmatan itu sendiri dan cara menjaga nikmat agar tetap langgeng adalah dengan bersyukur. Syukur adalah sikap orang beriman agar nikmat yang ada tetap lestari padanya artinya juga, kufur adalah sikap yang dapat menghilangkan nikmat itu sendiri. Karenanya orang beriman kala mendapatkan nikmat maka sikapnya berbeda dengan orang yang tidak memahami hakikat nikmat. Sikap orang beriman kala mendapatkan nikmat adalah pertama, ia bersyukur atas materi nikmat, tetapi tidak memandang besar kecilnya nikmat maka sikapnya. Kedua, ia tidak berhenti pada mensyukuri nikmat tapi bersyukur bahwa Sang Pemberi Nikmat yakni Allah SWT masih memberiny nikmat. Hanya sayang sekali, kebanyakan manusia qaliilan maa tasykuruun.

Menyikapi berbagai kejadian baik pada kaum yang masa lampau yang mengalami masa kejayaan namun akhirnya Allah azab dan hancurkan adalah karena tidak pandai mensyukuri nikmat. Perintah memahami peristiwa masa lalu direkam dan diajarkan oleh Allah melalui firman-Nya dalam QS. Ar Rum/ 30: 42, “Untuk melihat masa lalu yang Allah berikan peringatan atas keteledoran mereka dalam hal akidah yakni mensyirikkan Allah SWT dan syirik adalah lazhulmun 'azhim. (kezaliman yang besar).”

Seseorang bisa menjadi mulia namun juga bisa dihinakan karena empat hal yakni ilmu, kekayaan, jabatan dan pangkat (kekuasaan) serta keturunan. Merasa lebih dan merasa hidup selamanya adalah cikal bakal akan hancurnya seorang yang menganggap nikmatnya akan abadi. Justru ketika seseorang merasa lebih dan meremehkan orang lain itulah pertanda awal hidupnya akan merosot ke posisi bawah dan memprihatinkan. Qarun adalah sosok manusia yang Allah muliakan karena hartanya, ia dihormati, siapapun yang melihat hartanya ingin seperti posisi Qarun sebagai hartawan. Namun, Allah memperlihatkan Qarun sebagai role model betapa harta yang dimilikinya tidak mampu menyelamatkannya dari tenggelamkannya ia ke dalam tanah sebagai murka Allah SWT. Firaun sosok manusia yang bangga dengan pangkat dan jabatannya, akhirnya juga harus tenggelam di laut yang kala hidupnya ia mengaku sebagai tuhan.

Allah SWT tidak menuntut hamba-Nya untuk membalas seluruh nikmat-Nya karena Ia Maha Tahu bahwa kita pasti tidak mungkin bisa membalasnya. Pengakuan terhadap Ia sebagai Zat yang layak kita puji, pantas dipuja dan pengabdian hidup hanya untuk-Nya adalah nilai terbaik yang menjadi keharusan seorang hamba. Allah SWT tetap akan menjadi Tuhan meskipun satu dunia tidak menyembah-Nya karena seluruh pengabdian hamba-Nya justru akan Kembali kepada balasan untuk hamba itu sendiri, surga dan neraka sudah menanti.

Jadilan hamba yang pandai bersyukur, berbagi kala ada, berinfak kala punya, sesungguhnya setiap kita bisa menjadi saleh sesuai dengan profesi dan kompetensi yang ada pada kita. Jangan pernah bosan berbuat baik karena itu bisa mendatangkan keridhaan-Nya dan jika Ia sudah ridha, itulah pencapaian tertinggi pengabdian seorang hamba. **

 

*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak / Sekum PW IPIM Kalimantan Barat.

Editor : Miftahul Khair
#opini #azab #Nikmat