Oleh: Sholihin HZ
IBNU Basyar dalam bukunya Menjadi Bijak & Bijaksana (2016: 264) disebutkan kisah dengan subjudul “Berempatilah”. Dikisahkan sebuah rumah sakit kedatangan keluarga pasien sambil menggendong seorang anak yang terluka cukup parah. Karena lukanya yang cukup mengkhawatirkan akhirnya diambil keputusan anak itu harus dioperasi. Sementara hari itu adalah hari libur. Dokter praktik pun tidak berada di tempat. Pihak rumah sakit mencoba menghubungi beberapa dokter. Setelah menghubungi beberapa dokter dalam waktu yang lama, akhirnya ada salah satu dokter yang merespon dan bersedia ke rumah sakit untuk melakukan operasi.
Operasi pun dilakukan dan operasinya berhasil. Sang anak berhasil diselamatkan. Dokter pun menemui ayah sang anak untuk menjelaskan hasil operasi dan ia langsung pamit untuk pergi lagi.
Melihat cepatnya gerak dokter untuk meninggalkan rumah sakit, ayah sang anak sangat geram sehingga tidak bisa konsultasi lebih banyak lagi. Sampai terucap, “Sombong sekali dokter itu, sudahlah lama menghubnginya dan setelah operasi langsung pergi. Kayak kejar setoran saja.” Mendengar hal itu, seorang perawat yang tadi mendampingi dokter kemudian berkata, “Maaf bapak, bapak jangan salah tanggap. Ketika kami menghubungi beliau untuk ke rumah sakit, beliau meminta izin untuk menyelesaikan pemakaman anaknya yang baru saja meninggal karena kecelakaan.”
Mendengar hal itu, sang ayah dari anak tersebut tertunduk malu dan terdiam merasa menyesal karena terlalu cepat menghakimi sang dokter tanpa mencari tahu kejadian yang dialami sang dokter.
Saudaraku, kadang begitulah sikap kita. Malah bisa tanpa kita sadari bahwa kita terlalu cepat menghakimi, mudah memvonis, bahkan menghujat sementara kita tidak punya kepentingan apalagi punya data. Kalaupun punya data untuk apa dipublikasikan, jika ternyata tidak membawa kemanfaatan. Inilah sebenarnya yang dimaksudkan dengan kandungan firman Allah SWT dalam Qs. 49: 6 yang berbunyi, “Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Betapa kita mudah mengeluarkan ucapan bahwa pimpinan kita terlalu banyak dan sering memberikan tugas kepada kita. Tanpa kita ketahui sebenarnya ia ingin melatih kepemimpinan dan melaksanakan kepercayaan yang diberikan, dan sudah disiapkannya posisi terhormat untuk kita. Betapa kita buruk sangka kepada seorang guru yang datang terlambat dengan vonis guru membenci kami, padahal muridnya tidak mengetahui bahwa sang guru memiliki dua anak yang sekolah di sekolah berbeda dan harus diantarkannya setiap hari. Betapa kita segera membagi informasi yang bukan merukunkan persaudaraan tapi justru memecah ukhuwah.
Di tengah dunia yang sepertinya “tidak bisa hidup tanpa HP”, ketikan jari tangan sepertinya ada yang kurang jika tidak menshare, memberi like¸ mensubsribe dan sebagainya. Tapi ketahuilah, bahwa akan ada orang yang merasa terpuji dengan hal itu, tapi tidak sedikit ada orang yang terbuka aibnya. Jika yang terakhir terjadi maka bersiaplah, jika satu saat aib kita juga akan dibuka oleh Allah SWT.
Saat dalam proses penghakiman oleh Allah SWT, dikisahkan Ia akan memanggil seorang hamba. Lantas Allah tutup tirai untuknya sehingga tidak disaksikan siapapun kecuali dia dan Allah SWT. Allah lantas bertanya apakah betul ini kemaksiatan dan kejahatan yang engkau lakukan, “Benar ya Allah.”
Allah lantas berujar, “Atas pengakuanmu maka tidak Aku umumkan kepada makhluk lainnya.” Mengapa? Karena Allah SWT pernah menyatakan barang siapa menutup aib seorang hamba maka Allah akan menutup aibnya kelak di akhirat. “Kali ini Ku balas segala amalmu karena engkau pernah menutup aib saudaramu lainnya.”
Pertanyaan utamanya adalah apakah ada diantara kita yang tidak punya aib dan kesalahan? Pastilah tidak satu pun lepas dari aib dan dosa. Setiap kita memiliki salah dan keliru demikian juga orang lain, tapi termasuk orang baik adalah orang yang jika ia salah maka ia segera bertobat dan istigfar mohon ampun kepada Allah SWT. Seseorang menjadi mulia adalah karena Allah SWT masih tutup aibnya. Jika demikian? Apakah semua berita yang diterima harus dishare? Tentu tidak! Indikasinya adalah jika berita yang diterima adalah benar dan bermanfaat untuk kehidupan dan tidak menimbulkan salah paham. Diyakini ada kebaikan di dalamnya, maka ia akan menjadi amal jariyah. Namun, tidak semua berita benar harus disebarkan karena ada yang benar namun jika disebarkan akan menimbulkan fitnah, kegaduhan, putusnya silaturahmi dan sebagainya. Bijaklah menilai, bijak bermedsos karena anggota tubuh termasuk lisan akan ditanyakan oleh Sang Pemilik Raga ini.
Mari kita belajar menahan diri, belajar berempati dengan tidak mudah menghukumi dan menghakimi apapun (lingkungan) dan siapapun. Selalu berpikirlah, dan bertindak positiflah niscaya kedamaian akan hadir di sekitar kita. Semoga**
*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak; Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat.
Editor : A'an