Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gus dan Gelar Agama Kearifan Lokal Indonesia

A'an • Senin, 16 Desember 2024 | 10:38 WIB
Sihabuddin
Sihabuddin

Oleh: Sihabuddin

 

GELAR Gus menjadi perbincangan hangat beberapa waktu lalu hingga saat ini disebabkan adanya kejadian yang menimbulkan pro kontra di masyarakat. Kejadian ini benar-benar menjadi berita nasional bahkan sangat viral di berbagai media sosial. Keviralan kasus yang menyeret gelar Gus karena orang yang memakai gelar Gus (Gus Miftah) dianggap menghina seorang penjual es teh di saat mengisi pengajian. Sebenarnya gelar Gus bukan suatu yang langka diketahui di Indonesia. Sebab, Presiden ke empat Indonesia Abdurrahman Wachid bergelar Gus atau yang biasa dipanggil Gus Dur. Namun, masih banyak orang yang belum memahami apa itu gelar Gus?

Gus bukan kepanjangan dari Agus. Dalam tradisi masyarakat Jawa, gelar Gus merupakan gelar kehormatan untuk putra seorang kiai atau ulama. Dalam tradisi masyarakat Jawa, gelar Gus merupakan gelar melalui garis keturunan. Jadi, tidak semua orang bisa menyandang gelar Gus. Seorang penceramah agama kondang pun dalam tradisi masyarakat Jawa biasanya tidak dipanggil Gus jika penceramah agama tersebut bukan putra kiai. Biasanya dipanggil “ustaz”. Maka dari itu, penggunaan gelar Gus pada penceramah kondang Gus Miftah menambah kontroversi pada kasus yang viral beberapa waktu lalu. Sebab banyak orang meragukan bahkan tidak mempercayai atau mengakui gelar Gus yang disandangnya karena bukan putra kiai dan banyak yang meragukan silsilah keturunannya.

Banyak orang yang bergelar Gus tidak hanya terjun di bidang agama, seperti Gus Dur yang merupakan presiden keempat Indonesia, putra dari Kiai Haji Wachid Hasyim dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain Gus Dur ada Gus Taj Yasin Maimoen yang merupakan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Tengah, putra dari Kiai Maimun Zubair dari Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang. Selain itu, nama Gus Ipul (Saifullah Yusuf) menambah daftar orang yang bergelar Gus yang tidak hanya berkecimpung di bidang agama. Gus Ipul yang merupakan mantan Wakil Gubernur Jawa Timur dan Menteri Sosial Indonesia saat ini merupakan keponakan Gus Dur. Muhaimin Iskandar atau yang biasa disebut Cak Imin atau Gus Imin menambah rentetan orang yang bergelar Gus tidak hanya terjun di bidang agama. Gus Imin sendiri masih memiliki ikatan keluarga dengan Gus Dur. Tentu banyak sekali orang yang bergelar Gus yang terjun di bidang nonagama. Bahkan banyak dari mereka yang tidak memamerkan gelarnya.

Gelar Gus merupakan salah satu dari sekian banyak gelar agama dengan kearifan lokal di Indonesia. Indonesia sebagai negara beragama sangat menjunjung tinggi dan menghormati orang-orang yang ahli di bidang agama, sehingga mereka diberi gelar khusus sebagai bentuk penghormatan. Bahkan keluarganya pun dihormati dengan sebutan khusus seperti gelar Gus dalam tradisi budaya Jawa. Sama dengan di Jawa, masyarakat Madura yang dikenal fanatik terhadap agama Islam dan sangat menghormati ulama atau kiai memiliki gelar khusus untuk putra kiai yang disebut dengan Lora. Sama dengan di budaya Jawa, gelar Lora merupakan gelar keturunan. Jadi, jika ada orang di suku Madura alim dalam ilmu agama tapi bukan putra kiai biasanya orang tersebut dipanggil ustaz bukan Lora. Gelar Lora begitu spesial di masyarakat Madura. Salah satu Lora yang terkenal ialah Lora Fadil dari Jember yang merupakan mantan anggota DPR RI.

Lombok sebagai daerah yang dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid ini juga sangat menghormati tokoh agama. Lombok yang didominasi suku Sasak menyebut tokoh agama dengan sebutan Tuan Guru, sedangkan putra dari Tuan Guru disebut dengan Tuan Guru Bajang yang biasa disingkat dengan TGB. Kata “Bajang” memiliki arti muda yang berasal dari Bahasa Sasak. Gelar Tuan Guru dan Tuan Guru Bajang sebelumnya tidak begitu dikenal di luar Lombok, sejak kemunculan TGB Muhammad Zainul Majdi di kancah perpolitikan nasional gelar TGB ini semakin dikenal oleh masyarakat luas di luar Lombok.

Suku Melayu yang identik dengan Pulau Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaya sangat menghargai tokoh agama. Bahasa Indonesia yang akarnya berasal dari Melayu Riau menjadikan gelar untuk tokoh agama di bahasa Melayu banyak digunakan secara nasional seperti gelar ustaz, ulama, habib, kyai, dan sebagainya. Suku Melayu yang sangat menghormati tokoh agama memberikan gelar setinggi-tingginya bagi orang Melayu yang paham ilmu agama, seperti penceramah kondang Ustaz Abdus Shomad (UAS) yang mendapatkan gelar adat Datuk Seri Ulama Setia Negara yang diberikan oleh Lembaga Adat Melayu. Selain itu, juga mendapatkan gelar Imam Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas dari Kesultanan Melayu Sambas, bahkan mendapatkan gelar Da`i Nusantara dari Menteri Besar Kelantan Malaysia dan gelar kehormatan lainnya yang berasal dari bangsawan Melayu.

Baca Juga: Benteng Kokoh Melawan Radikalisme

Selain gelar untuk tokoh agama yang telah disebutkan di atas masih banyak gelar tokoh agama dengan kearifan lokal di Indonesia sesuai dengan budaya masing-masing. Gelar tersebut tentu diberikan orang lain dan diakui oleh masyarakat luas sesuai dengan kriteria yang berlaku. Jadi perlunya untuk tidak seenaknya dalam menggunakan gelar lokal dalam suatu budaya di Indonesia karena penyandang gelar tersebut ada aturannya baik secara tertulis atau tidak. 

 

*Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.

Editor : A'an
#Gelar Agama