Konsekuensi Perubahan Kurikulum bagi Satuan Pendidikan

A'an • Dipublikasikan Rabu, 18 Desember 2024 | 11:08 WIB
Ferdianus Jelahu, S.Pd
Ferdianus Jelahu, S.Pd

Oleh: Ferdianus Jelahu, S.Pd

 

TAK bisa dihindari dari waktu ke waktu bagi satuan pendidikan adalah perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum selalu diterima dan diakui sebagai transformasi pendidikan. Meski dalam sejarahnya singkatnya, setiap ganti menteri, ganti kurikulum. Perubahan kurikulum menjadi tantangan dan konsekuensi bagi satuan pendidikan. Perubahan kurikulum menjadi tantangan yang tidak selalu muda dalam satuan pendidikan mengingat kurikulum sebelumnya juga belum sepenuhnya terlaksana dengan baik. Ada beberagai tantangan yang dihadapi oleh satuan pendidikan antara lain perubahan buku paket, peningkatan kompetensi tenaga pendidik dan pendidikan untuk penyesuaian terhadap kurikulum baru, pembinaan karakter naradidik, pemetaan sarana dan prasarana, tingkat pemahaman masyarakat pada umumnya orang tua terhadap kurikulum, penyeusaian penilaian terhadap kurikulum.

Konsekuensi perubahan kurikulum sebagai resistensi karena dianggap menimbulkan beban baru bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Ada risiko yang perlu diterima oleh satuan pendidikan, antara lain pemetaan dokumen sekolah menyesuaikan perubahan kurikulum, melaksanakan pelaithan secara berkala bagi tenaga pendidik dan kependidikan. Resistensi terkait dengan pemahaman guru, orang tua, siswa-siswi tentang perbuahan kurikulum. Suatu tugas yang tidak muda bagi satuan pendidikan untuk memberikan sosialisasi kepada orang tua dan siswa-siswi.

Saat ini satuan pendidikan sedang memperkuat pengembangan kurikulum merdeka menjadi prioritas satuan pendidikan. Mengingat saat ini kurikulum yang sedang berjalan adalah kurikulum merdeka. Maka, patut juga bertanya apakah tidak ada keunggulan dari kurikulum merdeka saat ini? Perubahan kurikulum selalu ada keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Kekurangan itulah yang perlu dibenahi dan perbaiki secara terus-menerus. Salah satu keunggulan kurikulum merdeka adalah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Ini menjadi sangat menarik kemasan dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran ini tentu saja tidak hanya menunutut guru terus belajar, tetapi naradidik juga menjadi bagian dari pribadi pemelajar. Guru dan naradidik, sama-sama hadir sebagai subjek pemelajar.

 

Tidak Mengubah Hakikat Pendidikan

Apapun perubahan kurikulum, yang takkala penting adalah tidak mengubah hakekat nilai pendidikan. Hakikat nilai pendidikan adalah tenaga pendidik dan naradidik. Tanpa kehadiran guru, pendidikan tak ada maknanya, sebaliknya tanpa ada naradidik pembelajaran tidak akan terjadi. Oleh karena itu kehadiran guru dan naradidik sangat menentukan hakekat pembelajaran. Keduanya saling melengkapi. Sarah Lawrence Lighfood, seorang professor Pendidikan di Harvard mengatakan bahwa kita para guru, perlu melihat diri kita sendiri yang tercermin dalam diri murid-murid kita, kita perlu melihat murid sebagai tujuan kita dan murid perlu melihat diri mereka sendiri dalam diri kita. Pandangan ini sangat relevan sampai saat ini. Guru dan murid sama-sama menjalin hubungan timbal balik. Keduanya menjadi pelaku pendidikan.

Meski transformasi kurikulum menjadi penanda bahwa perubahan itu harus terjadi, tetapi tidak serta-merta perubahan itu segera berubah. Perubahan dalam satuan pendidikan begitu kompeks. Mengakui bahwa perubahan itu memang terjadi dan pasti semua satuan pendidikan bertekad mewujudkan perubahan. Perubahan itu membutuhkan waktu dan masa. Target-target perubahan terus disiapkan dalam skala waktu tertentu. Masa berkaitan dengan generasi. Sasaran perubahan kurikulum bagi satuan pendidikan juga menjadi tantangan mengingat generasi yang dihadapi juga variatif. Mengingat pelaku perubahan tidak hanya menyelesaikan administrasi pendidikan, tetapi berhubungan dengan peserta didik. Yang paling tepat target perubahan adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang matang untuk menjadi untuk menjadi pelaku perubahan.

Apapun perubahan kurikulumnya jangan sampai mengabaikan hakekat pertama dan utama pendidikan. Hakekat keduanya menjadi fondasi utama dalam mengimplementasikan transformasi kurikulum. Sasaran utama perubahan kurikulum yang perlu disadari adalah pelaku perubahan kurikulum. Pelaku perubahan kurikulum dalam satuan pendidikan antara lain, tenaga pendidik, naradidik, partisipasi orang tua dan para pemerhati pendidikan.

Memerhatikan hakekat pendidikan akan menyadari tugas pokok guru yang tidak hanya menfraster ilmu, tetapi juga menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan serta meningkatkan motivasi naradidik untuk belajar. Apakah karena perubahan kurikulum? Tentu saja! Untuk itulah salah satu perbaikan terus-menerus serta menjadi perlaku perubahan yang terus menerus untuk belajar. Koesoema (2018:91) menguraikan pengajar guru membawa misi utama agar semangat pemelajar autentik itu bertumbuh dalam diri naradidik, sedangkan isi kurikulum atau pengajaran adalah sarana strategis untuk menumbuhkan semangat pemelajar. Karena itu dalam proses pengajaran kualitas adalah nomor dua. Sedangkan penumbuhan semangat pemelajar autentik adalah nomor satu.

Perubahan Meningkatkan Mutu Pendidikan

Guru dan peserta didik sama-sama menjadi pelaku perubahan. Target yang diharapkan dalam perubahan kurikulum adalah memberdayakan (empowerment) tenaga pendidik dalam satuan pendidikan. Mengingat perubahan kurikulum lebih efektif diimplementasikan ketika tenaga pendidik sudah siap menjadi pelaku perbuahan kurikulum. Perubahan kurikulum mendorong satuan pendidikan menuju perubahan. Menurut Kompri (2015:132) kurikulum merupakan salah satu indikator penting bagi pembaharuan pendidikan. Kompri lebih lanjut menegaskan bahwa program suatu kurikulum masih memerlukan intervensi dan kreativitas guru yang akan mengoperasionalkannya dalam proses belajar mengajar.

Mengingat perkembangan teknologi dunia saat ini terus meningkat, suka tidak suka perkembangan teknologi akan berdampak pada satuan pendidikan. Tenaga pendidik pun, entah dipengaruh generasi atau tidak, harus siap menghadapi perubahan ini demi terjaminnya mutu pendidikan. Perubahan tentu memiliki tujuan yang baik. Perubahan kurikulum menjadi tantangan sekaligus membawa pembaharuan dalam satuan pendidikan. Kompas (12/12/24) pada halaman satu disajikan tema tentang pendidikan diberi judul Abdul Mu’ti: Perbaikan Demi Pendidikan Bermutu untuk Semua. Kemendasmen memberikan pesan untuk membenahi pendidikan dasar dan menengah dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan membangun generasi Indonesia yang kuat.

Prinsip ini menjadi salah satu upaya pembenahan pendidikan. Bagaimana langkah-langkah praktisnya untuk mewujudkan pendidikan bermutu  untuk semua? Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan selain yang ditawarkan melalui pendidikan formal maupun nonformal di sekolah. Yang selalu menjadi sasaran cepat menuju perubahan adalah satuan pendidikan. Padahal tidak saja dilakukan di sekolah, tetapi dalam keluarga diperlukan perubahan. Gravissimum Educationis, artikel 3 menegaskan bahwa pendidikan pertama dan utama yang tak dapat diganggu-gugat adalah orang tua.

 

Kerjasama dengan Orang Tua

Perubahan wajah pendidikan menjadi dambaan semua orang. Tidak hanya di kalangan guru, praktisi pendidikan, tetapi juga kalangan orang tua pun sangat berharap untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas lahir dari perubahan-perubahan menuju pendidikan yang lebih baik. Untuk memeroleh pendidikan yang lebih baik, diperlukan kerjasama antarsekolah dan orang tua. Keduanya memiliki peran penting dalam mendukung pembaharuan pendidikan. Dukungan orang tua dalam meningkatkan mutu pendidikan, pembinaan karakter, efektivitas penggunaan plafom gital tepat guna dapat memperkuat mutu pendidikan. Salah satu tokoh teori kontemporer Urie Bronfenbrenner (1917) yang fokus utamanya adalah pada konteks sosial di mana anak tinggal dan orang-orang yang memengaruhi perkembangan anak. Dalam teori Bronfenbrenner, hubungan antara keluarga dan sekolah adalah mesosistem yang penting.

Target perubahan kurikulum menjadi sangat tepat bagi satuan pendidikan. Tugas yang tidak muda bagi satuan pendidikan untuk terus menjalin kerjasama dengan orang tua siswa-siswi untuk mendukung mutu pendidikan. Dukungan dan peran orang tua memberikan dampak yang sangat besar terhadap mutu pendidikan. Satuan pendidikan tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan dari orang tua peserta didik. Fokus utama yang mendapat perhatian khusus adalah penguatan pendidikan karakter. Pendidikan karakter sangat menentukan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya.

Bukan hanya berharap kurikulum saja yang berubah, tetapi sumber daya manusia juga menjadi target utama dari perbuahan itu. Perubahan itu tidak akan terjadi kalau tidak ada pelaku perubahan. Perubahan kurikulum merupakan bagian dari proses untuk pembenahan serta perbaikan bagi satuan pendidikan agar terjaminnya mutu pendidikan. Semoga perubahan kurkulum tidak membawa beban baru bagi tenaga pendidik, tetapi menata lebih sederhana sehingga efektivitas pendampingan terhadap peserta didik tetap menjadi prioritas utama.**

 

*Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak; alumnus USD Yogyakarta.

Editor : A'an
kurikulum dunia pendidikan